Gelombang Panas Eropa: WHO Laporkan 1.300 Kematian, Banyak Kota Dilanda Suhu Ekstrem
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian sejak 21 Juni. Suhu di sejumlah wilayah Eropa melonjak hingga melampaui 40 derajat Celsius, memicu risiko kesehatan yang serius dan meningkatkan tekanan terhadap sistem layanan kesehatan dan petugas tanggap darurat. WHO menggarisbawahi bahwa infrastruktur di Eropa pada dasarnya tidak dirancang untuk menghadapi lonjakan suhu sebrutal ini.
Apa yang Terjadi?
Menurut laporan, dampak paling parah sejauh ini dilaporkan terjadi di Prancis. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mengumumkan bahwa negara tersebut mencatat sekitar 1.000 kematian yang lebih tinggi dari perkiraan normal hanya dalam kurun waktu beberapa hari sejak Rabu. Daerah yang paling terdampak termasuk daerah yang berada di bawah peringatan panas merah, khususnya Ãle-de-France, Nouvelle-Aquitaine, Brittany, Centre-Val de Loire, Normandy, dan Pays de la Loire. Selain itu, 85% dari kematian melibatkan orang berusia 65 tahun ke atas.
Beberapa wilayah Prancis mengalami suhu di atas 40°C minggu ini, menambah tekanan pada rumah sakit dan petugas tanggap darurat di tengah lonjakan panggilan darurat. Di Paris, pihak berwenang melarang minum alkohol di tempat umum selama akhir pekan dalam upaya mengurangi tekanan pada layanan darurat. Menara Eiffel dan museum Louvre juga tutup lebih awal di tengah cuaca panas.
Mengapa dan Dampak
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa infrastruktur di Eropa pada dasarnya tidak dirancang untuk menghadapi lonjakan suhu sebrutal ini. “Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini,” tegas Tedros dalam pernyataannya. Hal ini menunjukkan bahwa Eropa perlu meningkatkan kesiapannya dalam menghadapi gelombang panas ekstrem di masa depan.
Dampak dari gelombang panas ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, tetapi juga oleh sistem layanan kesehatan dan petugas tanggap darurat. Pihak berwenang telah memperingatkan bahaya berenang tanpa pengawasan setelah seorang pria tenggelam di Kanal Saint-Martin pada Jumat malam. Selain itu, pemain sepak bola Ligue 2, Kenzo Kies, meninggal setelah dilaporkan tenggelam di Sungai Rhône selama gelombang panas.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Suhu udara di seluruh Eropa melonjak dalam beberapa hari terakhir. Inggris Raya mencatat hari terpanas di bulan Juni pada Jumat. Spanyol dan Jerman juga mengalami suhu di atas 40°C. Oleh karena itu, masyarakat Eropa perlu meningkatkan kesadaran dan kesiapannya dalam menghadapi gelombang panas ekstrem di masa depan. Dengan demikian, diharapkan dapat mengurangi risiko kesehatan dan dampak lainnya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260629114146-33-746458/eropa-diamuk-gelombang-panas-brutal-who-catat-1300-kematian, without altering the facts of the original article.