Warganet Heboh, RI Berhasil Ciptakan Tempe Tanpa Kacang Kedelai dengan Hasil Mengejutkan

Indonesia berhasil menciptakan tempe tanpa kacang kedelai dengan hasil yang mengejutkan. Riset yang dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa tempe dapat dibuat dari berbagai jenis kacang-kacangan lokal, seperti kacang tolo, koro benguk, koro pedang, kecipir, dan kacang hijau. Tempe nonkedelai ini tidak hanya menjadi alternatif sumber protein, tetapi juga berpotensi menjadi pangan fungsional yang mendukung kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kacang-Kacangan Lokal sebagai Alternatif Bahan Baku Tempe

Periset Postdoctoral PRTPP BRIN, Ririn Krisnawati, menjelaskan bahwa tempe merupakan produk fermentasi yang dibuat menggunakan kapang Rhizopus spp. Praktik pembuatan tempe dari bahan selain kedelai telah lama dikenal dan menjadi bagian dari kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia. “Tempe nonkedelai merupakan bagian dari kearifan lokal yang berkembang di berbagai daerah. Masyarakat telah lama memanfaatkan sumber daya pangan lokal melalui teknologi fermentasi,” ucap Ririn.

Kedelai masih menjadi bahan baku utama industri tempe nasional. Namun, kebutuhan kedelai Indonesia yang mencapai sekitar 2,8 juta ton per tahun belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap impor masih tinggi. “Kondisi ini membuat pasokan dan harga bahan baku rentan terhadap fluktuasi pasar global,” jelasnya.

Proses Fermentasi dan Manfaat Kesehatan

Ririn menyebutkan sejumlah kacang-kacangan lokal yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku tempe, antara lain kacang tolo, koro benguk, koro pedang, kecipir, dan kacang hijau. Pemanfaatan komoditas tersebut dinilai dapat menjadi strategi diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian daerah.

Proses fermentasi tempe yang melibatkan kapang Rhizopus oligosporus atau Rhizopus microsporus mampu mengubah komponen kimia bahan baku menjadi senyawa yang lebih mudah dicerna tubuh. Selama fermentasi, protein kompleks dipecah menjadi peptida dan asam amino yang lebih sederhana sehingga lebih mudah diserap. Fermentasi juga menurunkan kandungan senyawa antinutrisi seperti fitat dan inhibitor tripsin yang dapat menghambat penyerapan zat gizi.

Tempe Nonkedelai sebagai Pangan Fungsional

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tempe nonkedelai memiliki aktivitas antioksidan yang meningkat setelah proses fermentasi. Kandungan senyawa fenolik yang lebih tinggi berperan dalam menangkal radikal bebas dan melindungi sel dari stres oksidatif. Selain itu, beberapa jenis tempe nonkedelai juga diketahui memiliki aktivitas antibakteri dan berpotensi membantu mengendalikan kadar gula darah melalui penghambatan enzim α-glukosidase dan α-amilase yang berperan dalam pencernaan karbohidrat.

Ririn menambahkan, tempe berbahan koro benguk dan koro kratok juga menunjukkan potensi antihipertensi. Peptida yang terbentuk selama fermentasi dapat menghambat aktivitas Angiotensin Converting Enzyme (ACE) sehingga berpotensi membantu menjaga tekanan darah tetap normal. Berbagai metabolit bioaktif seperti daidzein, kaempferol, asam p-kumarat, dan senyawa fenolik lainnya juga dikaitkan dengan potensi antikanker serta manfaat kesehatan lainnya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Perkembangan riset tempe nonkedelai kini tidak lagi terbatas pada analisis kandungan gizi. Peneliti mulai memanfaatkan pendekatan metabolomik, metagenomik, dan volatilomik untuk memahami lebih dalam proses fermentasi serta pembentukan senyawa bioaktif. Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi ribuan metabolit yang terbentuk selama fermentasi, mikroorganisme yang berperan dalam menentukan kualitas tempe, hingga senyawa volatil yang memengaruhi aroma dan cita rasa produk.

Riset modern membuka peluang untuk mengembangkan tempe nonkedelai sebagai pangan fungsional berbasis bukti ilmiah dan bernilai tambah tinggi. Dengan demikian, tempe nonkedelai berpotensi menjadi produk pangan yang tidak hanya lezat, tetapi juga menyehatkan dan berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260627134617-33-746210/ri-coba-coba-bikin-tempe-tanpa-kacang-kedelai-hasilnya-tak-terduga, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *