Melihat Sisi Lain Glodok, Chinatown Terbesar di Indonesia yang Berakar dari Sejarah Kolonial Belanda
Kawasan pecinan Glodok di Tamansari, Jakarta Barat, merupakan salah satu destinasi yang paling ikonik di Indonesia. Sebagai Chinatown terbesar di negara ini, Glodok menyimpan narasi sejarah yang panjang dan berakar dari kebijakan tata kota era kolonial Belanda. Kawasan ini tidak hanya terkenal dengan aroma dupa, arsitektur kelenteng tua, dan hiruk-pikuk perdagangan yang khas, tetapi juga sebagai ruang sejarah yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Tionghoa beradaptasi dan membangun kehidupan di Jakarta.
Sejarah Panjang Glodok
Co-Founder SANA Kenal Kota Abimantra Pradhana menceritakan bahwa sejarah Glodok tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Batavia pada masa pemerintahan VOC. Menurutnya, kawasan ini menjadi titik penting dalam perjalanan komunitas Tionghoa di Jakarta dan menjadi ruang pertemuan berbagai budaya yang kemudian melahirkan identitas khas kota. “Glodok bukan hanya kawasan perdagangan, ia adalah ruang sejarah yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Tionghoa beradaptasi, membangun kehidupan, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal selama ratusan tahun,” ujar Abimantra.
Abimantra menambahkan bahwa Glodok mulai dikenal sebagai pecinan setelah pemerintah kolonial Belanda menetapkan wilayah tersebut sebagai area permukiman bagi etnis Tionghoa pada abad ke-18. Kebijakan itu muncul setelah peristiwa besar yang melibatkan komunitas tersebut di Batavia pada tahun 1740. Sejak saat itu, Glodok berkembang menjadi pusat perdagangan, permukiman, serta aktivitas sosial dan budaya masyarakat Tionghoa.
Momen Penentu di Menit Akhir
Pemilihan Glodok sebagai pemukiman baru bukan tanpa alasan. Kawasan ini ternyata dilewati oleh aliran sungai dan kanal yang menjadi urat nadi transportasi logistik. “Saat itu Glodok dekat dengan jalur air yang memudahkan masyarakat Tionghoa untuk melakukan aktivitas bongkar muat barang. Saat terjadi isolasi komunitas tersebut membangun ekosistem perdagangan mandiri yang kuat, mulai dari pasar tradisional, toko obat herbal, hingga kuliner,” paparnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Abimantra menyebut kawasan Glodok adalah laboratorium visual yang hidup. Di sini, arsitektur hibrida yang memadukan gaya Tionghoa Selatan dan kolonial masih bisa dijumpai di gang-gang sempitnya, seperti di kawasan Petak Sembilan dan Gang Gloria. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya melihat Glodok sebagai pusat belanja elektronik atau destinasi kuliner semata, melainkan sebagai bagian penting dari mosaik identitas Jakarta.
Ia menilai bahwa kawasan ini merupakan warisan hidup yang masih menjalankan fungsi sosial, budaya, dan ekonomi hingga sekarang. “Glodok mengajarkan bahwa Jakarta dibangun oleh banyak kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda. Sejarah kawasan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah bagian penting dari identitas kota,” katanya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Dalam kesempatan yang sama, Head of Marketing Gojek Marsela Renata mengungkapkan bahwa tren terkini wisatawan nusantara yang semakin banyak memilih perjalanan jarak dekat dengan durasi singkat, rata-rata selama tiga malam. Didukung infrastruktur transportasi yang semakin terhubung, masyarakat semakin mudah mengeksplorasi destinasi yang berada di dalam maupun sekitar kota tempat mereka tinggal.
Terbaru di Gojek, mereka menghadirkan “Jalan Jajan”, yaitu merupakan kumpulan rekomendasi destinasi wisata dan kuliner yang telah dikurasi di aplikasi Gojek. Pelanggan dapat langsung terhubung ke layanan GoRide dan GoCar untuk mengunjungi destinasi pilihan maupun memesan rekomendasi kuliner melalui GoFood, sehingga pengalaman berlibur menjadi lebih praktis dan nyaman.
Melalui program tersebut, Gojek ingin membantu masyarakat menikmati liburan dengan lebih praktis, berkesan, dan relevan dengan tren perjalanan saat ini. Dengan demikian, Glodok sebagai salah satu destinasi wisata ikonik di Jakarta dapat terus berkembang dan menjadi bagian penting dari identitas kota.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260625221014-33-745824/kisah-glodok-chinatown-terbesar-ri-yang-berakar-dari-kolonial-belanda, without altering the facts of the original article.