Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Indonesia, kini menorehkan babak baru sebagai dosen di Northern Illinois University (NIU) di Amerika Serikat. Pada hari Senin, 19 Oktober 2026, beliau mengisi ruang kelas studi perdamaian, mempersembahkan kuliah berjudul “Lessons From the for Peace; Aceh, Afghanistan and Southern Thailand.”
Pengantar Kuliah: Dari Tanah Air ke Dunia
Dalam kuliah tersebut, Jusuf Kalla menampilkan rekaman video konflik di Aceh, Afghanistan, dan Thailand selatan, sekaligus menampilkan slide yang menyoroti pola-pola penyebab konflik global. Ia menegaskan bahwa konflik saat ini dipicu oleh tiga faktor utama, yang ia sebut sebagai “3 G”: God (agama, ideologi, keyakinan), Glory (rasa hebat, perkasa, hegemoni), dan Gold (kepentingan ekonomi).
Menurut beliau, ketiganya saling terkait dan seringkali menumpuk satu sama lain. Contohnya, Amerika Serikat, menurut Jusuf Kalla, menggabungkan kepentingan ekonomi (gold) dengan rasa perkasa (glory). Ia mencontohkan situasi di Iran dan Venezuela pada awal 2026, di mana Amerika dianggap mencoba menguasai sumber daya minyak melalui invasi militer.
Pengalaman Pribadi: Juru Damai yang Menginspirasi
Jusuf Kalla memanfaatkan pengalaman panjangnya dalam memediasi konflik di Tanah Air untuk menekankan pentingnya dialog dan pemahaman. Ia mengingatkan mahasiswa bahwa di Aceh, proses damai berawal dari dialog antara pemerintah pusat dan kelompok bersenjata. Begitu pula di Afghanistan, di mana pemimpin lokal dan pendukung internasional harus bekerja sama dalam merumuskan kebijakan keamanan. Di Thailand selatan, Jusuf Kalla menyoroti peran mediator internasional dalam mengurangi ketegangan antara pemerintah dan kelompok separatist.
Menurut beliau, kunci kesuksesan mediasi adalah kemampuan untuk mendengarkan semua pihak, memahami akar masalah, dan menumbuhkan rasa saling menghormati. “Jurus damai bukan sekadar menutup senjata, tetapi membangun fondasi kepercayaan yang kuat,” kata Jusuf Kalla di sela-sela presentasinya.
3 G: Analisis Mendalam tentang Konflik Global
God: Dalam konteks konflik, Jusuf Kalla menekankan bahwa keyakinan agama atau ideologi sering kali menjadi penyebab utama perpecahan. Ia mencontohkan konflik di beberapa negara di mana perbedaan agama menjadi bahan bakar ketegangan. Namun, ia juga menegaskan bahwa konflik tidak selalu berakar pada agama; seringkali agama menjadi alat untuk memperkuat agenda politik atau ekonomi.
Glory: Rasa hegemoni atau keinginan untuk menonjol di panggung internasional sering menjadi faktor yang memicu konflik. Jusuf Kalla menyoroti contoh di mana negara besar menggunakan militer untuk memperluas pengaruhnya, sehingga menimbulkan ketegangan di wilayah yang bersangkutan. Ia menekankan bahwa rasa “glory” dapat menutupi kepentingan ekonomi dan memperburuk situasi.
Gold: Kepentingan ekonomi, terutama akses ke sumber daya alam, sering menjadi penyebab konflik yang paling nyata. Dalam kuliah, Jusuf Kalla mencontohkan bagaimana negara-negara mengintervensi wilayah lain demi menguasai minyak, gas, atau mineral penting. Ia menegaskan bahwa ketika ekonomi menjadi tujuan utama, konflik dapat berlangsung lebih lama dan lebih merusak.
Implikasi bagi Politik Internasional
Jusuf Kalla mengajak mahasiswa untuk memikirkan dampak kebijakan luar negeri yang didorong oleh ketiga faktor tersebut. Ia menekankan bahwa ketika negara-negara menggabungkan kepentingan ekonomi dengan rasa perkasa, maka konflik tidak hanya bersifat militer tetapi juga berdampak pada stabilitas ekonomi regional. Hal ini dapat memperparah ketidakpastian pasar, mengganggu perdagangan, dan menimbulkan ketidaksetaraan sosial.
Selain itu, Jusuf Kalla menyoroti pentingnya peran lembaga internasional dalam memediasi konflik. Ia menilai bahwa organisasi seperti PBB, ASEAN, dan OSCE memiliki peran penting dalam menstabilkan situasi. Namun, ia juga menegaskan bahwa keberhasilan mediasi memerlukan komitmen nyata dari semua pihak, termasuk pemimpin dunia yang memiliki kekuatan militer dan ekonomi.
Refleksi Pribadi: Dari Pengalaman di Tanah Air ke Pengajaran di NIU
Jusuf Kalla menutup kuliah dengan refleksi tentang perjalanan kariernya. Ia mengingat kembali saat ia memimpin proses damai di Aceh, ketika ia berurusan langsung dengan para pemimpin suku dan pejabat pemerintah. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya tentang pentingnya dialog. Ia juga menekankan bahwa sebagai dosen, ia berusaha menyebarkan nilai-nilai perdamaian kepada generasi muda yang akan menjadi pemimpin masa depan.
Di NIU, Jusuf Kalla berharap mahasiswa dapat memahami kompleksitas konflik global dan belajar bagaimana menerapkan prinsip-prinsip perdamaian dalam situasi nyata. Ia menekankan bahwa pendidikan perdamaian tidak hanya tentang teori, tetapi juga praktik dan pengalaman langsung.
Kesimpulan: Menumbuhkan Generasi Pendorong Perdamaian
Jusuf Kalla, dengan latar belakangnya sebagai mantan Wakil Presiden dan juru damai, berhasil menorehkan dampak positif melalui pengajaran di NIU. Ia menegaskan bahwa konflik global tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan militer atau kepentingan ekonomi. Dibutuhkan dialog, pemahaman, dan kerja sama lintas negara.
Melalui kuliah “Lessons From the for Peace; Aceh, Afghanistan and Southern Thailand,” Jusuf Kalla mengajak mahasiswa untuk melihat konflik dari perspektif yang lebih luas, memahami akar penyebabnya, dan memikirkan solusi yang berkelanjutan. Dengan demikian, ia berupaya menumbuhkan generasi yang tidak hanya memahami konflik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang membawa perdamaian ke dunia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.dream.co.id/news/jadi-pengajar-di-as-jusuf-kalla-bahas-akar-konflik-dunia-261020n.html, without altering the facts of the original article.