**Menteng Terjebak dalam Skandal, Anak Miliarder Kaya-Raya Mengancam Gelandangan** Jl. Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, terlihat sepi dan hening. Toko barang antik yang legendaris di kawasan tersebut hanya terdengar suara lalu-lalang kendaraan. Namun, lebih dari seabad lalu, kawasan ini pernah diguncang skandal yang melibatkan keluarga penguasa tanahnya sendiri. Skandal ini melibatkan Said Ali bin Shahab, salah satu orang kaya dan pemilik tanah terbesar di Menteng pada dekade 1908-an. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada 1908, Said Ali bin Shahab dan putranya, Said Abdul Mutalib, terseret kasus penyiksaan terhadap seorang gelandangan. Koran De Stichtsche Courant (26 Maret 1908) mengungkapkan, pelaku utama adalah Said Abdul Mutalib bersama seorang pembantunya bernama Entong. Kasus ini bermula ketika korban menolak membayar pungutan kepada tuan tanah. Pada masa kolonial, pemilik tanah memang memiliki hak menarik pungutan dari orang-orang yang tinggal di wilayahnya. Pungutan tersebut bisa berupa uang maupun tenaga kerja. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Mengikuti kronologi kejadian, korban kemudian ditangkap dan mengalami penyiksaan. Menurut laporan surat kabar, Said Ali bin Shahab mengetahui kejadian tersebut tetapi tidak menghentikannya. Saat kasus terbongkar, tubuh korban masih memperlihatkan bekas ikatan di pergelangan tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya. Berita itu pun segera menyebar luas ke seluruh Batavia. Polisi kemudian menangkap Abdul Mutalib beserta para pembantunya yang terlibat langsung dalam penyiksaan. Said Ali bin Shahab juga ikut ditahan karena dianggap membiarkan tindak pidana itu terjadi di hadapannya. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Menariknya, pada saat proses hukum tersebut berlangsung, pemerintah kolonial tengah bernegosiasi membeli sebagian tanah milik keluarga Shahab di Menteng. Rencana itu mencakup pembelian lahan beserta sekitar 295 bangunan dengan harga yang disepakati sebesar 1.310.000 gulden. Pemerintah kota ingin menguasai sebagian tanah pribadi di Batavia untuk kepentingan publik. Pada akhirnya, transaksi itu benar-benar terlaksana. Setelah perkara hukum usai, tanah keluarga Shahab resmi beralih ke pemerintah kota. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Dua tahun kemudian, Menteng dikembangkan menjadi kawasan permukiman modern bagi kalangan elite Batavia. Citra sebagai kawasan elite itu bahkan masih melekat hingga sekarang. Namun, skandal ini meninggalkan kesan bahwa kekuasaan dan kekayaan tidak dapat membeli kebebasan dan keadilan. Skandal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah kolonial memiliki tujuan yang lebih besar dalam menguasai tanah dan kekayaan masyarakat. Dalam hal ini, skandal ini menjadi catatan penting dalam sejarah Menteng sebagai kawasan yang pernah digunakan sebagai contoh kemewahan dan kekuasaan. **Kesimpulan** Menteng, kawasan yang sekarang identik dengan permukiman elite, pernah diguncang skandal yang melibatkan keluarga penguasa tanahnya sendiri. Skandal ini menunjukkan bahwa kekuasaan dan kekayaan tidak dapat membeli kebebasan dan keadilan. Skandal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah kolonial memiliki tujuan yang lebih besar dalam menguasai tanah dan kekayaan masyarakat. Dalam hal ini, skandal ini menjadi catatan penting dalam sejarah Menteng sebagai kawasan yang pernah digunakan sebagai contoh kemewahan dan kekuasaan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260728092336-25-754319/wilayah-menteng-diguncang-skandal-anak-crazy-rich-siksa-gelandangan, without altering the facts of the original article.