King Charles Pilih Tinggal di Luar Buckingham Palace, Ini Alasan di Balik Keputusan Itu

Raja Charles III memilih untuk tidak menjadikan Istana Buckingham sebagai kediaman utamanya meskipun proyek renovasi besar senilai £369 juta atau sekitar Rp8 triliun akan rampung pada tahun depan. Alih-alih pindah ke istana yang menjadi simbol monarki Inggris tersebut, Charles memilih tetap tinggal di Clarence House, kediaman pribadinya di London yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun. Keputusan ini menandai berakhirnya tradisi hampir dua abad menjadikan Istana Buckingham sebagai tempat tinggal utama raja Inggris sejak era Ratu Victoria pada 1837.

Apa yang Terjadi?

Keputusan Raja Charles untuk tidak tinggal di Istana Buckingham diumumkan oleh pejabat kerajaan Inggris pada Kamis. Istana Buckingham tetap akan berfungsi sebagai pusat kegiatan resmi kerajaan, termasuk penyelenggaraan upacara kenegaraan dan penerimaan tamu negara. Bendahara Kerajaan Inggris, James Chalmers, menegaskan bahwa istana ini akan tetap menjadi markas besar monarki, permata mahkota bangunan nasional kita, dengan panji raja berkibar dengan bangga dari atap setiap kali Yang Mulia berada di London.

Sejak 2019, baik Ratu Elizabeth II maupun Raja Charles memang sudah tidak lagi bermalam secara rutin di Istana Buckingham. Meski demikian, Charles tetap memiliki kamar pribadi yang dapat digunakan sewaktu-waktu saat menjalankan tugas kerajaan di London. Setelah renovasi selesai, akses publik ke Istana Buckingham juga akan diperluas. Saat ini, bangunan bersejarah tersebut dikunjungi sekitar 700.000 orang setiap tahun.

Mengapa dan Dampak

Keputusan Raja Charles untuk tidak tinggal di Istana Buckingham memiliki beberapa alasan. Salah satu alasan utama adalah kenyamanan dan privasi. Clarence House telah menjadi kediaman pribadi Charles selama bertahun-tahun, dan dia mungkin merasa lebih nyaman tinggal di sana. Selain itu, keputusan ini juga dapat membantu mengurangi biaya operasional kerajaan.

Dampak dari keputusan ini adalah perubahan dalam tradisi monarki Inggris. Istana Buckingham telah menjadi simbol monarki Inggris selama hampir dua abad, dan keputusan Raja Charles untuk tidak tinggal di sana dapat dianggap sebagai perubahan besar. Namun, istana ini tetap akan berfungsi sebagai pusat kegiatan resmi kerajaan, dan akses publik ke istana akan diperluas.

Transparansi Keuangan Monarki

Dalam kesempatan yang sama, Kerajaan Inggris untuk pertama kalinya mengungkap besaran pajak yang dibayarkan Raja Charles sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi keuangan monarki. Pada tahun fiskal 2024/2025, Charles tercatat membayar pajak sebesar £12,9 juta atau sekitar US$17 juta (Rp280 miliar). Nilai tersebut menempatkannya di antara 100 pembayar pajak terbesar di Inggris.

Sejak naik takhta pada 2022, total pajak yang telah dibayarkan Charles telah melampaui £30 juta. Secara hukum, raja Inggris sebenarnya tidak diwajibkan membayar pajak penghasilan, pajak keuntungan modal, maupun pajak warisan. Namun, mengikuti tradisi yang dimulai Ratu Elizabeth II sejak 1993, Charles secara sukarela tetap membayar pajak.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Keputusan Raja Charles untuk tidak tinggal di Istana Buckingham dapat dianggap sebagai perubahan besar dalam tradisi monarki Inggris. Namun, istana ini tetap akan berfungsi sebagai pusat kegiatan resmi kerajaan, dan akses publik ke istana akan diperluas. Dengan demikian, monarki Inggris dapat terus menjalankan tugasnya sebagai simbol negara dan pusat kegiatan resmi, sambil juga meningkatkan transparansi keuangan dan kenyamanan bagi raja dan keluarganya.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260628103950-33-746283/king-charles-tak-akan-tinggal-di-buckingham-palace-lagi-ini-alasannya, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *