Geger Mantan Menteri RI Terciduk Jualan Beras di Glodok

Geger Mantan Menteri RI Terciduk Jualan Beras di Glodok Pada tahun 1980-an, mantan Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri terbongkar berjualan beras di Pasar Glodok, Jakarta. Aktivitas ini dilakukan setiap pagi, setelah menunaikan salat Dhuha, dengan menyetir mobil sendiri dan mengangkut barang dagangan menuju pasar. **Momen Penentu di Menit Akhir** Mantapnya kehidupan pejabat negara setelah pensiun sering menjadi tanda tanya publik. Terkadang, mereka memilih menikmati masa tua, tetapi ada pula yang tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Saifuddin Zuhri merupakan salah satu contoh yang menarik perhatian. Dia dilantik sebagai Menteri Agama RI ke-10 pada 2 Maret 1962 dan mengakhiri masa jabatannya pada 1967. Setelah benar-benar pensiun dari jabatan negara, kehidupannya berubah jauh dari kemewahan. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Pada era 1980-an, Saifuddin diketahui berjualan beras di Pasar Glodok. Aktivitas ini dilakukan setiap pagi sekitar pukul 09.00 WIB, seusai menunaikan salat Dhuha, dengan menyetir mobil sendiri dan mengangkut barang dagangan menuju pasar. Yang menarik, kegiatan berdagang tersebut berlangsung cukup lama tanpa diketahui keluarganya. Mereka hanya mengetahui Saifuddin selalu pulang membawa uang, tetapi tidak pernah tahu dari mana penghasilan itu berasal. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Kejadian ini menunjukkan bahwa Saifuddin Zuhri memiliki nilai-nilai yang kuat dalam menjalani hidup. Dia tidak hanya menikmati kehidupan sebagai mantan menteri, tetapi juga memiliki niat untuk tetap bekerja dan memberikan kontribusi pada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial dan keinginan untuk tetap menjadi bagian dari masyarakat. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Saifuddin Zuhri memiliki peran yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Dia tidak hanya berdagang, tetapi juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam membantu orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik dan memiliki visi untuk membantu orang lain. Dalam autobiografinya Berangkat dari Pesantren (1984), Saifuddin menceritakan bahwa pada 1942, ketika anak pertamanya lahir, dia pernah mencari nafkah sebagai pedagang. Saat itu, dia menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang. Mulai dari pakaian bekas, peralatan rumah tangga bekas, hingga rokok. Kesederhanaan Saifuddin ternyata sudah terlihat sejak masih menjabat sebagai Menteri Agama. Baginya, jabatan merupakan amanah yang tidak boleh dimanfaatkan untuk memperoleh keistimewaan pribadi. Salah satu sikap yang paling dikenal adalah penolakannya terhadap fasilitas rumah dinas. Meski berhak menempati rumah dinas menteri, Saifuddin memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di Jalan Dharmawangsa Raya No. 4, Kebayoran Baru. Bahkan ketika didesak agar menerima fasilitas tersebut, dia tetap menolak karena tidak ingin bersikap serakah. “Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang,” tegasnya. Saifuddin kemudian memilih menyicil rumah sendiri di kawasan Jalan Hang Tuah 1/6, Kebayoran Baru, sebagai wujud komitmennya menjalani hidup sederhana dan mandiri. Setelah cicilan lunas, rumah tersebut bahkan dihibahkan secara cuma-cuma untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama. Jejak hidup Saifuddin Zuhri berakhir pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit. Berpuluh tahun setelah meninggalkan jabatan, pengabdiannya seolah berlanjut ketika putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, dipercaya menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Kehidupan Saifuddin Zuhri merupakan contoh yang menarik perhatian. Dia menunjukkan bahwa setelah pensiun dari jabatan negara, seseorang dapat tetap menjadi bagian dari masyarakat dan memberikan kontribusi pada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang kuat dapat membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih sejahtera.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714151404-25-750735/geger-mantan-menteri-ri-terciduk-jualan-beras-di-glodok, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *