2.116 Pejabat Nakal Dijaring Menteri RI, Bantuan Tentara Dibekuk
**2.116 Pejabat Nakal Dijaring Menteri RI, Bantuan Tentara Dibekuk** **Pembuka** Sejarah mencatat ada seorang menteri di Indonesia yang mendapat bantuan aparat militer untuk membongkar berbagai kasus besar. Mereka berhasil menangkap sedikitnya 2.116 pejabat terjaring hanya dalam delapan bulan. Sosok menteri itu adalah Menteri Negara Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), J.B. Sumarlin (1973-1983). **Momen Penentu di Menit Akhir** Operasi itu bermula pada Juni 1977 ketika Presiden Soeharto menunjuk Sumarlin sebagai Koordinator Operasi Tertib (Opstib) Pusat. Dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1977, Sumarlin ditugaskan memberantas praktik pungutan liar, penyalahgunaan wewenang, serta berbagai bentuk penyelewengan di lingkungan aparatur negara. Untuk memperkuat pelaksanaannya, Soeharto menempatkan Opstib di bawah Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Laksamana TNI Sudomo yang saat itu menjabat Kepala Staf Kopkamtib dipercaya memimpin Opstib membantu Sumarlin. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Kasus pertama yang dibongkarnya terkait mafia pengadilan. Tim sukses menangkap belasan hakim dari tingkat pengadilan negeri hingga pengadilan tinggi di sejumlah provinsi dijaring untuk diinterogasi. Setelah itu, operasi diperluas ke berbagai sektor. Mulai dari perbankan, pelabuhan, kepegawaian, hingga pertanahan. Di sektor pertanahan, misalnya, Opstib berhasil membongkar praktik pungutan liar dalam pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB). Sejumlah oknum, seperti kepala dinas hingga staf ASN, ditangkap setelah diduga menikmati uang haram senilai belasan juta rupiah selama bertahun-tahun. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Hasil kerja Opstib pun cukup besar. Selama delapan bulan pertama pelaksanaan Opstib, rata-rata 15 pejabat terjaring setiap hari. Secara total, sebanyak 2.116 pejabat yang digaji negara, mulai dari hakim, jaksa, kepala dinas hingga staf ASN terseret dalam 1.290 kasus. Mereka kemudian dijatuhi sanksi administratif maupun diproses secara hukum. Keberhasilan Opstib itu lantas meninggalkan kesan mendalam bagi Sumarlin. Bertahun-tahun kemudian, dia mengaku tak pernah melupakan dukungan Sudomo selama menjalankan tugasnya. Sosok menteri ini juga mengakui bahwa Opstib yang bergerak cepat selama periode 1977-1983 itu merupakan “momok” yang paling ditakuti. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Selain itu, Sumarlin juga mengungkapkan bahwa kasus-kasus penyelewengan yang dibongkar Opstib masih sangat banyak. Belum lagi kasus-kasus yang belum terungkap, karena mungkin masih ada yang menyimpan rahasia. Oleh karena itu, Sumarlin berharap bahwa opstib ini bisa menjadi contoh bagi pemerintah masa depan untuk terus menangkap dan menyiksakan para pejabat nakal yang mengkhianati rakyat Indonesia. Sumarlin juga berharap bahwa opstib ini bisa menjadi contoh bagi pemerintah masa depan untuk terus menangkap dan menyiksakan para pejabat nakal yang mengkhianati rakyat Indonesia. Kesimpulan singkat, opstib yang bergerak cepat selama periode 1977-1983 itu merupakan “momok” yang paling ditakuti. Duet Sudomo-Sumarlin tampak tak segan-segan menghantam siapa saja yang diketahui melakukan penyelewengan. Dengan demikian, opstib ini bisa menjadi contoh bagi pemerintah masa depan untuk terus menangkap dan menyiksakan para pejabat nakal yang mengkhianati rakyat Indonesia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260708131126-25-749126/kisah-menteri-ri-jaring-2116-pejabat-nakal-pakai-bantuan-tentara, without altering the facts of the original article.