Menteri RI Bongkar Korupsi Dibantu Tentara, 2.116 Pejabat Terjaring
**Menteri RI Bongkar Korupsi Dibantu Tentara, 2.116 Pejabat Terjaring** **Pembuka** Operasi penertiban korupsi di Indonesia pernah mencatat sebuah momen penting yang melibatkan kerja sama antara seorang menteri dan aparat militer. Dalam delapan bulan pertama pelaksanaannya, sebanyak 2.116 pejabat negara berhasil dijaring. Tokoh yang memimpin operasi itu adalah Menteri Negara Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) J.B. Sumarlin. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada Juni 1977, Presiden Soeharto menunjuk Sumarlin sebagai Koordinator Operasi Tertib (Opstib) Pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1977. Tugas yang diberikan tidak ringan. Sumarlin diminta memberantas praktik koruptif, seperti pungutan liar, penyalahgunaan wewenang, serta berbagai bentuk penyelewengan yang dilakukan aparatur negara. Agar operasi berjalan efektif, pemerintah menempatkan Opstib di bawah Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Kepala Staf Kopkamtib saat itu, Laksamana TNI Sudomo, dipercaya memimpin unsur pelaksana Opstib sekaligus memberikan dukungan penuh kepada Sumarlin dalam menjalankan operasi penertiban. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Operasi penertiban yang dipimpin oleh Sumarlin dan Sudomo berhasil mengungkap kasus-kasus korupsi yang luas. Salah satu kasus besar terjadi di sektor pertanahan. Harian Berita Yudha (9 Februari 1983) melaporkan Opstib berhasil membongkar praktik pungutan liar dalam pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB). Sejumlah oknum, mulai dari kepala dinas hingga staf aparatur sipil negara, ditangkap karena diduga menikmati uang hasil pungutan liar yang nilainya mencapai belasan juta rupiah selama bertahun-tahun. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Keberhasilan Opstib membuat Opstib menjadi lembaga yang sangat disegani pada masanya. Menurut Sumarlin, kecepatan gerak operasi tersebut membuat banyak pejabat yang melakukan penyimpangan merasa khawatir. “Pendeknya, Opstib yang bergerak cepat selama periode 1977-1983 itu merupakan ‘momok’ yang paling ditakuti. Duet Sudomo-Sumarlin tampak tak segan-segan menghantam siapa saja yang diketahui melakukan penyelewengan,” kenang Sumarlin. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Bertahun-tahun setelah operasi tersebut berakhir, Sumarlin mengaku tidak pernah melupakan peran Sudomo yang selalu memberikan dukungan selama dirinya memimpin Opstib. Menurutnya, dukungan dari unsur militer menjadi faktor penting dalam membongkar berbagai kasus penyelewengan, terutama yang berkaitan dengan penyalahgunaan tanah negara. “Saya akan selalu mengenang dan berterima kasih kepada Laksamana Sudomo. […] Pak Domo dengan Opstib-nya memberi full backing. Pokoknya dalam semua urusan penyelewengan tanah negara yang dipakai swasta, Pak Domo selalu turun tangan membantu saya,” ujar Sumarlin. Dalam kesimpulan, operasi penertiban korupsi yang dipimpin oleh Sumarlin dan Sudomo merupakan momen penting dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Keberhasilan Opstib tidak hanya menunjukkan kekuatan kerja sama antara pemerintah dan aparat militer, tetapi juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi. Namun, perlu diingat bahwa jalan panjang masih harus ditempuh dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260718082615-25-751813/menteri-ri-bongkar-korupsi-dibantu-tentara-2116-pejabat-terjaring, without altering the facts of the original article.