Mengapa Banyak Anak Muda Hong Kong Pilih Menganggur?

Menganggur bukan lagi menjadi stigma bagi anak muda Hong Kong. Fenomena anak muda yang memilih tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan atau dikenal sebagai NEET (Not in Education, Employment or Training) semakin menjadi perhatian di Hong Kong. Jumlah kelompok ini terus meningkat seiring perubahan pola pikir generasi muda, mahalnya biaya hidup, hingga sulitnya memperoleh pekerjaan yang sesuai.

NEET di Hong Kong: Angka yang Mengkhawatirkan

Sebuah kajian terbaru dari Dewan Legislatif Hong Kong menunjukkan jumlah NEET mencapai sekitar 36.200 orang pada 2025, atau sekitar 6% dari total populasi muda di wilayah tersebut. NEET merupakan kelompok usia 15-24 tahun yang tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan vokasi. Mereka umumnya juga memiliki pandangan yang pesimistis terhadap masa depan.

Apa yang Terjadi?

Masalah ini tidak hanya terjadi di Hong Kong. Di Inggris, semisal, survei terbaru menunjukkan jumlah NEET telah melampaui satu juta orang, tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Laporan tersebut bahkan memperingatkan, dalam lima tahun ke depan, satu dari enam anak muda Inggris berpotensi berada dalam kondisi yang sama apabila tren tersebut terus berlanjut.

Di Hong Kong, meningkatnya jumlah NEET dianggap cukup mengkhawatirkan karena bertentangan dengan budaya masyarakat Tionghoa yang selama ini menjunjung tinggi kerja keras dan kemandirian sebagai jalan menuju kesuksesan.

Mengapa dan Dampak

Perubahan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z, menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya jumlah NEET. Generasi yang tumbuh dalam kondisi ekonomi relatif lebih mapan ini dinilai tidak lagi menganggap pekerjaan tetap sebagai satu-satunya tujuan hidup. Mereka lebih mengutamakan kebebasan, keseimbangan hidup, dan kualitas hidup dibanding menerima pekerjaan bergaji rendah dengan tekanan kerja tinggi.

Gelar sarjana yang dulu dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan kantoran kini tidak lagi memberikan jaminan. Bahkan lulusan magister pun kini harus bersaing memperebutkan posisi junior. Masalah lainnya adalah kurikulum pendidikan yang dinilai tertinggal dibanding kebutuhan industri. Lulusan dari bidang humaniora, seni, dan manajemen umum dinilai terlalu banyak, sementara keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan masih kurang.

Biaya hidup yang sangat tinggi juga menjadi penyebab utama. Harga rumah di Hong Kong telah turun sekitar 20% dari puncaknya, namun kota tersebut tetap menjadi pasar perumahan paling tidak terjangkau di dunia selama 16 tahun berturut-turut. Rasio harga rumah terhadap pendapatan (median multiple) mencapai 14,1, yang berarti masyarakat rata-rata harus menyisihkan seluruh penghasilannya selama 14,1 tahun hanya untuk membeli sebuah rumah.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda merasa bekerja keras pun belum tentu mampu memiliki rumah atau hidup mandiri. Dampaknya sebagian memilih menjalani gaya hidup “lying flat”, yakni tidak mengejar promosi maupun kenaikan gaji, bahkan sengaja mempertahankan pendapatan rendah agar memenuhi syarat memperoleh rumah sewa bersubsidi dari pemerintah. Pilihan tersebut perlahan membuat sebagian dari mereka masuk dalam kategori NEET.

Tinggal bersama orang tua juga menjadi faktor yang memperkuat tren ini. Generasi baby boomer di Hong Kong umumnya memiliki tabungan yang cukup sehingga masih mampu menanggung kebutuhan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Karena kebutuhan dasar tetap terpenuhi, sebagian anak muda kehilangan dorongan untuk segera mencari pekerjaan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kesimpulannya, fenomena NEET di Hong Kong merupakan masalah kompleks yang memerlukan solusi yang tepat. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda, serta meningkatkan kualitas pendidikan untuk memenuhi kebutuhan industri. Selain itu, perlu juga dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pengertian tentang pentingnya memiliki tujuan hidup yang jelas dan arah karir yang pasti.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260625105930-33-745612/banyak-anak-muda-hong-kong-pilih-menganggur-ini-biang-keroknya, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *