Kapolri Hoegeng Dicopot Presiden, Penyebabnya Terungkap dalam Kasus Besar

Kapolri Hoegeng Dicopot Presiden, Penyebabnya Terungkap dalam Kasus Besar **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada 2 Oktober 1971, Presiden Soeharto mencopot Hoegeng Imam Santoso dari jabatannya sebagai Kapolri. Alasannya, Hoegeng dianggap sudah tua dan diminta menempati posisi baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belgia. Padahal, saat itu usianya baru menginjak 50 tahun. “Tugas apa pun saya akan terima, asal jangan jadi dubes, Pak,” kata Hoegeng kepada Soeharto, dikutip dalam Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan (1993). Alasan tersebut memunculkan tanda tanya. Sebab, saat itu Hoegeng sedang membongkar salah satu kasus penyelundupan terbesar pada awal Orde Baru, yakni penyelundupan mobil mewah yang merugikan negara hingga ratusan juta rupiah. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Ribuan mobil mewah berhasil masuk ke Indonesia tanpa membayar bea masuk. Menurut Hoegeng, praktik itu tidak mungkin berlangsung tanpa bantuan orang-orang di dalam birokrasi. Salah satu tokoh yang menjadi target penyelidikannya adalah Robby Tjahjadi. Robby merupakan lulusan SMA Xaverius Surakarta yang merantau ke Jakarta pada 1964. Lima tahun kemudian, dia telah menjadi penyalur mobil-mobil mewah hasil penyelundupan. Berbagai merek, mulai dari Alfa Romeo, Fiat, BMW, Mercedes-Benz, Ford, Continental hingga Rolls-Royce, berhasil masuk ke Indonesia melalui jalur ilegal. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Di tengah penyelidikan itu, Hoegeng mendapat panggilan untuk menghadap Presiden Soeharto di kediamannya di Jalan Cendana Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat. Dia berniat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melaporkan perkembangan kasus penyelundupan mobil mewah yang sedang ditanganinya. Namun, rencana itu buyar sesaat setelah tiba di Cendana. “Orang yang akan saya laporkan itu ternyata sudah lebih dulu berada di Jalan Cendana untuk menghadap Presiden Soeharto,” tulis Hoegeng dalam Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan (2016). Orang yang dimaksud adalah Robby Tjahjadi. Hoegeng bahkan berpapasan dengan penyelundup mobil mewah tersebut yang baru keluar dari kediaman presiden. Momen itu membuat Hoegeng sadar bahwa orang yang sedang diusutnya memiliki hubungan dengan kalangan elite kekuasaan. Dia pun mengurungkan niat melaporkan kasus tersebut dan kembali ke Markas Besar Polri. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Sementara itu, penyelidikan terhadap Robby terus berlanjut. Tepat pada 21 Oktober 1972, atau sekitar setahun setelah Hoegeng tak lagi menjabat Kapolri, Robby akhirnya ditangkap. Dia didakwa melakukan penyelundupan yang menyebabkan kerugian negara sekitar Rp700 juta. Namun, dia hanya divonis ringan, yakni 7,5 tahun, kurang dari tuntutan 10 tahun. Pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri dapat dipandang sebagai upaya untuk menghentikan penyelidikan terhadap kasus penyelundupan mobil mewah. Namun, hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kasus korupsi yang melibatkan kalangan elite kekuasaan. Hoegeng sendiri tidak pernah secara terbuka menyatakan hubungannya dengan pencopotannya. Namun, dia meninggalkan jejak yang masih relevan hingga hari ini. Setelah pensiun, Hoegeng memilih menjalani kehidupan yang sederhana dan lebih banyak berkecimpung di dunia seni hingga wafat pada 14 Juli 2004, tepat hari ini 22 tahun lalu.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091414-25-750598/kapolri-hoegeng-tiba-tiba-dicopot-presiden-saat-bongkar-kasus-besar, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *