RI Ikut China dan Rusia, Ini Misi Indonesia Masuk Organisasi AI Dunia
Pemerintah Indonesia telah resmi bergabung dengan China dan Rusia dalam organisasi World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), sebuah lembaga internasional yang berfokus pada kerja sama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di ranah sipil. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menandatangani dokumen pendirian WAICO bersamaan dengan rangkaian acara Konferensi WAIC 2026 di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Keikutsertaan Indonesia dalam deklarasi organisasi ini merupakan wujud komitmen dalam memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan dan tata kelola kecerdasan artifisial. Dengan bergabungnya Indonesia, total ada 30 negara yang telah menandatangani dokumen perjanjian pendirian WAICO.
Momen Penentu di Menit Akhir
Penandatanganan dilaksanakan oleh Menko Airlangga, bersama para perwakilan sekitar 30 negara lainnya, yaitu Aljazair, Belarus, Brasil, Kamboja, Kamerun, Kongo, Kuba, Etiopia, Kazakstan, Kenya, Kirgistan, Laos, Lesotho, Malaysia, Mozambik, Myanmar, Nikaragua, Oman, Pakistan, Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Tajikistan, Uzbekistan, Venezuela, Zambia, dan China. WAICO adalah organisasi internasional antar Pemerintah yang independen dan berfokus pada kerja sama kecerdasan buatan (AI) di ranah sipil (civilian domain) secara inklusif dan non-diskriminatif.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Airlangga menegaskan bahwa kehadiran Indonesia sebagai salah satu Anggota Pendiri (Founding Member) dalam organisasi ini merupakan langkah strategis untuk memastikan arah pengembangan tata kelola AI global tetap berpusat pada manusia (human-centric approach) dan menghadirkan manfaat yang setara bagi seluruh negara, khususnya bagi negara berkembang dalam memajukan perekonomiannya. Pemerintah Indonesia juga telah memastikan bahwa setiap bentuk kerja sama dan penyelarasan teknis yang dilakukan melalui WAICO akan tetap selaras dengan regulasi dan kepentingan nasional, prinsip etika AI, kedaulatan data, serta berbagai komitmen kerja sama ekonomi strategis Indonesia.
Dalam implementasinya di Indonesia, Menko Airlangga menilai bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat dioptimalkan dalam bidang pertanian modern, pengelolaan energi terbarukan, serta inovasi layanan kesehatan digital. Lebih dari itu, pengembangan dan adopsi AI tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan infrastruktur digital yang kuat, khususnya Pusat Data (Data Center). Kehadiran teknologi AI diyakini akan menjadi katalisator yang mampu melipatgandakan potensi pertumbuhan ekonomi digital di masa depan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan deklarasi tersebut, Pemerintah akan memperkuat koordinasi lintas Kementerian dan Lembaga (K/L), guna mengoptimalkan platform WAICO dalam mendukung percepatan transformasi digital nasional, mematangkan kesiapan infrastruktur data center di dalam negeri, meningkatkan daya saing sumber daya manusia di bidang AI, serta membuka peluang kolaborasi internasional yang memberikan nilai tambah signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan bergabungnya Indonesia dalam WAICO, diharapkan dapat membawa manfaat besar bagi perekonomian Indonesia dan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan.
Kehadiran teknologi AI diyakini akan menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang saat ini bernilai USD13 miliar dan berpotensi meningkat menjadi USD300 miliar. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi kecerdasan buatan dan meningkatkan kerja sama internasional dalam rangka meningkatkan kemampuan Indonesia dalam bidang AI.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260717064116-37-751475/terungkap-ini-alasan-ri-ikut-china-rusia-masuk-organisasi-ai-dunia, without altering the facts of the original article.