Siswa Sukabumi Harus Arungi Sungai Cimandiri demi Sekolah, Warga Minta Akses Jalan yang Aman

Siswa Sukabumi Harus Arungi Sungai Cimandiri demi Sekolah

Siswa-siswa di Sukabumi, Jawa Barat, harus menyeberangi Sungai Cimandiri dengan perahu karet untuk bisa menuntut ilmu di sekolah. Salah satu contoh nyata adalah Elsa (11) dan adiknya Fahri (10), siswa SDN Kebonjati, yang setiap hari harus menghadapi derasnya sungai untuk berangkat sekolah. Mereka berharap ada jembatan yang aman untuk menyeberangi sungai.

Momen Penentu di Menit Akhir

Suasana pagi di pinggiran Sungai Cimandiri, Kampung Leuwidinding, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, tampak berbeda pada Senin (13/7/2026). Puluhan anak sekolah berseragam rapi harus mengantre untuk naik perahu karet demi bisa berangkat sekolah. Bagi para siswa di wilayah tersebut, dimulainya tahun ajaran baru berkelindan erat dengan kembalinya rutinitas ekstrem yang menguji nyali. Elsa (11) dan adiknya Fahri (10) adalah contoh nyata. Bagi kakak-beradik ini, menyeberangi derasnya Sungai Cimandiri dengan perahu karet sudah menjadi “normal baru” yang terpaksa mereka jalani hingga dua kali sehari. “Tidak takut, saya sama adik sudah biasa. Inginnya ada jembatan biar bisa berangkat sekolah enggak perlu naik perahu lagi,” ungkap Elsa sembari menggandeng erat tangan adiknya di atas lambung perahu hitam bertuliskan “TNI AL” itu.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Krisis aksesibilitas ini telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan. Tepatnya sejak 28 Desember 2025, saat jembatan gantung utama yang menjadi urat nadi aktivitas warga hancur total diterjang banjir bandang. Sejak saat itu, perahu karet bantuan dari BPBD hingga kini digantikan oleh unit milik TNI AL menjadi satu-satunya penyambung asa warga. Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, menegaskan bahwa pihak pemerintah desa telah berulang kali mengajukan perbaikan jembatan kepada pihak terkait, namun hingga kini lampu hijau belum juga menyala. “Jembatan ini sangat vital. Kalau pakai jalan memutar jaraknya lebih dari enam kilometer. Ada juga akses jalan lain, tapi harus melewati area pertambangan yang cukup berisiko,” jelas Dilah.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Warga Jampangtengah kini hanya bisa berharap, janji infrastruktur baru bisa segera terealisasi sebelum arus Cimandiri kembali mengamuk. Penggunaan perahu karet yang tanpa henti membuat fasilitas darurat ini kerap mengalami aus dan kerusakan. Agus Salim (45), salah seorang operator, menceritakan bagaimana pos penyeberangan ini kerap diselimuti suasana mencekam, terutama saat harus menyeberangkan warga yang sakit atau ibu hamil. Ai Nurhayati (16), siswi SMK Maarif NU Al-Fathonah, membeberkan bahwa jika ada kerabat yang bisa mengantar dengan sepeda motor, ia harus memutar jalan. “Nambah waktu paling 30 menit kalau memutar,” keluhnya. Moda transportasi darurat ini bergerak mengandalkan bentangan tali tambang dan kabel sling yang melintang di atas sungai. Dengan demikian, warga dan siswa di Sukabumi masih harus menunggu lama untuk memiliki akses jalan yang aman dan nyaman.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1178410/nestapa-warga-pelosok-sukabumi-harus-bertaruh-nyawa-arungi-sungai-cimandiri-demi-berangkat-sekolah, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *