Sapi Balita 3 Bulan di Jembrana Bali Ternyata Positif Rabies, Mengamuk hingga Melompat ke Sungai—Kisah Mengguncang Peternak Lokal

Sapi Balita 3 Bulan di Jembrana Bali Ternyata Positif Rabies menimbulkan kegelisahan di kalangan peternak lokal, mengingat kasus serupa telah terjadi sebelumnya di wilayah yang sama. Kabar ini beredar setelah peternak di Banjar Cempaka, Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana melaporkan perubahan perilaku pada ternaknya pada 20 Oktober 2026. Sapi berusia tiga bulan itu menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan, termasuk keluarnya air liur berlebihan dan perilaku agresif.

Perubahan Perilaku dan Tindakan Peternak

Peternak segera menghubungi petugas Keswan untuk meminta bantuan. Saat petugas tiba, sapi tersebut masih menunjukkan perilaku tidak biasa. Ia tidak hanya keluar dari kandang, tetapi juga melompat ke area sungai yang berdekatan. Kondisi ini menambah kekhawatiran, mengingat kandang sapi berada di sebelah sungai dan kemungkinan kontak dengan hewan liar di sekitar area tersebut.

Petugas keswan dan peternak berusaha menenangkan sapi tersebut. Namun, sapi balita 3 bulan di Jembrana Bali Ternyata Positif Rabies tetap agresif. Saat petugas mencoba memeriksa, sapi tersebut justru keluar kandang dan melompat ke area sungai. Petugas segera mencari sapi tersebut, namun tidak lama kemudian ditemukan dalam keadaan mati.

Pemeriksaan dan Hasil Laboratorium

Setelah menemukan sapi tersebut, petugas keswan melakukan penanganan darurat. Mereka meminta izin pemilik ternak untuk mengambil sampel otak sapi dan mengirimkannya ke Laboratorium BBVet Denpasar. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa sapi tersebut memang positif rabies. Hasil ini menguatkan dugaan bahwa sapi tersebut sebelumnya sempat kontak dengan HPR (Hewan Penyakit Rabies) yang positif di sekitarnya.

Menurut Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, kasus ini menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan hewan di daerah pedesaan. Ia menambahkan bahwa keberadaan anjing liar di sekitar wilayah kandang dapat menjadi faktor risiko penyebaran rabies pada sapi.

Dampak Terhadap Komunitas Peternak

Kasus sapi balita 3 bulan di Jembrana Bali Ternyata Positif Rabies ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak. Selain kehilangan ternak, peternak juga harus menghadapi risiko kesehatan bagi manusia. Rabies dapat menular melalui gigitan atau kontak dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Meskipun sapi biasanya tidak dianggap sebagai hewan penyebar rabies pada manusia, situasi ini menunjukkan bahwa hewan ternak juga dapat menjadi vektor penyakit.

Selain itu, dampak ekonomi tidak dapat diabaikan. Peternak kehilangan ternak berharga, dan biaya pengujian serta penanganan dapat menambah beban finansial. Situasi ini juga menambah beban pada petugas keswan, yang harus menambah upaya pemantauan dan penanganan hewan terinfeksi.

Langkah Pencegahan dan Penanggulangan

Peternak di wilayah Jembrana kini lebih waspada terhadap kemungkinan kontak antara sapi dengan hewan liar, terutama anjing yang sering berkeliaran di sekitar kandang. Penerapan vaksinasi rutin dan pengawasan ketat terhadap kesehatan hewan dapat membantu mencegah penyebaran rabies. Selain itu, penegakan regulasi tentang pemeliharaan anjing liar di daerah pedesaan dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit ini.

Petugas keswan juga menekankan pentingnya pelaporan dini. Jika peternak mencatat perubahan perilaku pada ternak, segera menghubungi petugas dapat meminimalkan dampak dan mencegah penyebaran lebih luas. Penanganan cepat dan koordinasi antara peternak, petugas keswan, dan laboratorium menjadi kunci dalam menghadapi kasus rabies pada hewan ternak.

Kesimpulan

Kasus sapi balita 3 bulan di Jembrana Bali Ternyata Positif Rabies menegaskan betapa pentingnya pengawasan kesehatan hewan di daerah pedesaan. Perubahan perilaku pada sapi, seperti keluarnya air liur berlebihan dan agresivitas, dapat menjadi indikator awal penyakit. Penanganan cepat dan koordinasi antara peternak, petugas keswan, dan laboratorium sangat penting untuk meminimalkan dampak ekonomi dan kesehatan. Kejadian ini juga mengingatkan peternak dan masyarakat luas akan risiko rabies yang dapat menyebar melalui hewan liar di sekitar lingkungan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://bali.tribunnews.com/jembrana/608362/sapi-berusia-3-bulan-di-jembrana-bali-positif-rabies-sempat-agresif-hingga-loncat-ke-sungai, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *