Penemuan Jobong Kuno di Jombang, Diduga Peninggalan Kerajaan Medang Berusia Sekitar 1.000 Tahun, Ungkap Fakta Arkeologis Mengejutkan tentang Peradaban Jawa

Jobong Kuno yang ditemukan di Jombang menandai pencapaian penting dalam pemahaman sejarah Jawa, mengungkap potensi peninggalan Kerajaan Medang berusia sekitar seribu tahun.

Temuan Awal dan Lokasi Penemuan

Jobong Kuno di Jombang pertama kali terungkap ketika warga Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, menemukan artefak berupa jobong di dalam tanah. Penemuan ini terjadi di kawasan sekitar Situs Candi Pandegong, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Warga melaporkan temuan tersebut kepada juru pelihara Candi Pandegong, Jayadi, yang kemudian mengkoordinasikan dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur.

Tim BPK Jatim segera turun ke lokasi untuk menilai kondisi artefak. Dari pemeriksaan awal, petugas menemukan sekitar empat lapisan jobong yang tersusun bertumpuk di dalam tanah. Namun, satu lapisan sulit dievakuasi sehingga hanya tiga lapisan yang berhasil diangkat. Keberhasilan pengambilan tiga lapisan ini menandai langkah awal dalam proses penyelamatan struktur kuno yang masih dapat dievakuasi.

Analisis Konstruksi dan Hubungan dengan Candi Pandegong

Jobong Kuno di Jombang menunjukkan kemiripan ukuran bata dengan material bangunan Candi Pandegong. Analisis ini menegaskan kemungkinan bahwa artefak tersebut berasal dari periode yang sama dengan candi, yakni masa Kerajaan Medang pada abad ke-10. Pamong Budaya Ahli Pertama BPK Jatim, Indra Eka Widya Jaya, menegaskan bahwa temuan ini sudah diketahui warga sekitar satu minggu sebelum proses evakuasi pada Senin (2/11/2026).

Keputusan untuk meneliti jobong ini didasarkan pada pola konstruksi dan material yang konsisten dengan struktur candi yang telah terdokumentasi. Meskipun belum ada konfirmasi radiokarbon, kesamaan ukuran dan tekstur bata memberikan indikasi kuat bahwa jobong tersebut berasal dari era Kerajaan Medang.

Signifikansi Arkeologis dan Dampak Budaya

Jobong Kuno di Jombang membuka jendela baru bagi para arkeolog untuk memahami teknik konstruksi dan arsitektur pada masa Kerajaan Medang. Peninggalan ini dapat memperkaya pengetahuan tentang penggunaan jobong dalam pembangunan struktur monumental, serta memberikan wawasan tentang sumber daya material dan metode pengelolaan tanah pada masa itu.

Secara budaya, temuan ini memperkuat identitas sejarah Jombang sebagai kawasan yang kaya akan warisan peradaban Jawa. Keberadaan jobong ini menegaskan bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat aktivitas konstruksi penting, yang selanjutnya dapat meningkatkan minat penelitian dan pariwisata sejarah lokal.

Penelitian lebih lanjut tentang jobong ini diharapkan dapat mengungkap detail teknik pembangunan, pola distribusi material, dan hubungan antara struktur jobong dengan situs-situs penting lainnya di Jawa. Hasil penelitian ini akan menjadi referensi penting bagi para peneliti dan pelestari budaya, sekaligus meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya pelestarian warisan budaya.

Proses Penanganan dan Penyimpanan Artefak

Setelah tiga lapisan jobong berhasil dievakuasi, BPK Jatim melakukan penanganan khusus untuk memastikan artefak tetap terjaga. Prosedur ini melibatkan pembersihan, stabilisasi, dan penyimpanan di lingkungan yang terkontrol. Tim arkeologi bekerja sama dengan ahli konservasi untuk mencegah kerusakan akibat paparan udara, kelembapan, dan faktor lingkungan lainnya.

Pengelolaan artefak ini juga mencakup dokumentasi digital, termasuk pencitraan 3D dan pemetaan struktur. Dokumentasi ini akan menjadi sumber data penting bagi penelitian lanjutan dan publikasi ilmiah, sekaligus memudahkan akses bagi peneliti internasional yang tertarik pada arkeologi Jawa.

Perspektif Masa Depan dan Rencana Penelitian

Jobong Kuno di Jombang menjadi titik awal bagi program penelitian yang lebih luas. Tim BPK Jatim berencana melakukan studi lapangan tambahan di area sekitar Candi Pandegong untuk mencari artefak serupa. Penelitian ini akan melibatkan penggalian terkontrol, analisis material, dan perbandingan dengan struktur jobong lain di wilayah Jawa Timur.

Selain itu, rencana kerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian nasional diharapkan dapat memperkuat kapasitas penelitian arkeologi lokal. Program pelatihan bagi mahasiswa dan tenaga kerja lokal juga diusulkan untuk meningkatkan keterampilan dalam konservasi dan dokumentasi artefak.

Kesimpulan dan Harapan

Jobong Kuno yang ditemukan di Jombang menegaskan keberadaan Kerajaan Medang di wilayah ini, serta membuka peluang baru bagi pemahaman sejarah arsitektur Jawa. Temuan ini tidak hanya menambah koleksi warisan budaya, tetapi juga memperkaya narasi sejarah Jawa Timur. Dengan dukungan penelitian lanjutan, diharapkan dapat menggali lebih dalam tentang teknik konstruksi, distribusi material, dan peran kawasan ini dalam jaringan peradaban Jawa pada abad ke-10.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jatim.tribunnews.com/jombang/565426/warga-jombang-temukan-jobong-kuno-diduga-peninggalan-kerajaan-medang-berusia-sekitar-1000-tahun, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *