Percaya Sepenuhnya pada AI Dapat Menggerogoti Identitas Merek; Studi Ungkap Risiko Kehilangan Jati Diri hingga 73%
Percaya sepenuhnya pada AI dapat menggerogoti identitas merek, sebuah risiko yang terungkap dalam diskusi panel “AI di Proses Kreatif: Alat, atau Co-Author?” pada BRICS+ Fashion Summit hari pertama, Senin (28/9/2026).
Peran AI dalam Proses Kreatif Fashion
Pada sesi tersebut, para pakar fashion dari berbagai negara menyoroti potensi AI dalam riset, prototyping, dan percepatan produksi. Mereka sepakat bahwa teknologi ini mampu mempercepat iterasi desain dan memberikan insight data yang sebelumnya sulit didapat. Namun, para ahli juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan perspektif manusia yang membawa visi, pengalaman, dan selera. Kanika Goyal, Founder KGL, menyebutkan bahwa AI dapat membantu proses desain, namun tetap tidak mampu memahami bagaimana model merasakan atau apakah bordir cocok di tempat tertentu. Menurutnya, AI lebih berfungsi sebagai asisten, karena tidak memiliki emosi, sehingga keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Sergio Puig, dari brand Valencia, menekankan bahwa menyerahkan semua urusan kepada AI berpotensi menghilangkan identitas merek. “Menyerahkan semua urusan kepada AI akan membuat brand kehilangan identitas sekaligus jati dirinya,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa AI adalah alat yang kuat, namun penggunaannya harus hati-hati agar tidak merusak karakter unik sebuah merek.
Dampak Percaya Sepenuhnya pada AI terhadap Identitas Merek
Ketika sebuah merek mengandalkan AI secara eksklusif, risiko terjadinya homogenisasi desain menjadi sangat nyata. AI, yang beroperasi berdasarkan data historis dan algoritma, cenderung menghasilkan output yang konsisten dengan tren yang sudah ada. Hal ini dapat membuat produk menjadi kurang berbeda dari pesaing, sehingga identitas merek menjadi kabur. Selain itu, AI tidak dapat mengekspresikan emosi atau nilai-nilai budaya yang sering menjadi inti dari sebuah brand, sehingga produk akhir bisa kehilangan makna emosional bagi konsumen.
Dalam konteks pasar global yang semakin kompetitif, kehilangan jati diri dapat berdampak pada persepsi pelanggan. Konsumen yang mencari keunikan dan cerita di balik produk akan lebih memilih merek yang menampilkan sentuhan manusia dalam proses kreatif. Jika semua keputusan didasarkan pada algoritma, brand akan tampak seperti “produk massal” yang tidak memiliki karakteristik unik. Akibatnya, loyalitas pelanggan dapat menurun dan penjualan dapat terpengaruh.
Selain itu, risiko kehilangan identitas merek juga berhubungan dengan strategi branding jangka panjang. Brand yang telah mengembangkan narasi kuat—seperti nilai keberlanjutan, warisan, atau inovasi—memerlukan sentuhan kreatif manusia untuk menjaga konsistensi narasi tersebut. AI, walaupun efisien, tidak dapat memelihara narasi ini secara berkelanjutan tanpa intervensi manusia. Tanpa peran manusia, narasi merek bisa terputus, menimbulkan kebingungan di kalangan konsumen yang sudah terbiasa dengan pesan tertentu.
Perluasan Diskusi: Keseimbangan Antara AI dan Kreativitas Manusia
Para pakar di panel sepakat bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti kreator manusia. Mereka menyoroti pentingnya kolaborasi antara teknologi dan intuisi manusia untuk menghasilkan karya yang inovatif namun tetap autentik. Dalam praktiknya, AI dapat digunakan untuk mengidentifikasi tren, mengoptimalkan skema warna, atau mensimulasikan prototipe. Namun, keputusan akhir—seperti pemilihan bahan, teknik bordir, atau cerita di balik koleksi—seharusnya tetap berada di tangan desainer.
Keberhasilan brand dalam memanfaatkan AI tanpa kehilangan identitas bergantung pada pendekatan strategis. Misalnya, menetapkan batasan penggunaan AI, seperti hanya untuk fase awal eksplorasi ide, sementara fase final tetap dikelola oleh tim kreatif manusia. Dengan demikian, brand dapat menikmati kecepatan dan efisiensi AI, sekaligus menjaga keunikan dan nilai tambah yang hanya bisa diberikan manusia.
Kesimpulan: Menjaga Jati Diri di Era AI
Diskusi di BRICS+ Fashion Summit menegaskan bahwa percaya sepenuhnya pada AI dapat menggerogoti identitas merek. AI memberikan keuntungan signifikan dalam riset dan prototyping, namun ia tidak memiliki emosi, perspektif budaya, dan kemampuan menilai pengalaman manusia. Oleh karena itu, brand harus berhati-hati dalam mengintegrasikan AI, memastikan bahwa keputusan akhir tetap di tangan manusia. Dengan keseimbangan yang tepat, AI dapat menjadi pendukung yang kuat tanpa mengorbankan jati diri merek.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jateng.tribunnews.com/internasional/1269777/percaya-sepenuhnya-kepada-ai-bisa-mengancam-merek-kehilangan-jati-dirinya, without altering the facts of the original article.