Kisah Sunarni, Buruh Kontrak 15 Tahun di Bandung, Berjuang Tanpa Henti untuk Hidupi Anak Disabilitas dan Orang Tua di Tengah Ketidakpastian

Sunarni, buruh kontrak 15 tahun di Bandung, berjuang tanpa henti untuk hidup anak disabilitas dan orang tua di tengah ketidakpastian.

Perjalanan Karier Sunarni di Pabrik Pemintalan

Sunarni, yang usianya hampir menginjak setengah abad, tetap semangat mengais rezeki sebagai buruh pabrik di sebuah pabrik pemintalan di Kota Bandung. Sejak kontrak pertama pada tahun 2011, ia terus memperpanjang kontrak tanpa pernah mendapatkan status karyawan tetap. “Saya kontrak dari tahun 2011, jadi perpanjangan kontrak terus. Saya sempat meminta jadi karyawan tetap. Setidaknya kalaupun tidak, hak-haknya disamakan dengan yang sudah karyawan tetap. Tapi enggak bisa,” ucap Sunarni saat dihubungi pada Kamis (15/10/2026).

Dalam pekerjaannya, Sunarni bertugas memintal serat menjadi benang melalui mesin dan memilin serat hingga membentuk untaian panjang. Selama proses berlangsung, ia memastikan benang tidak putus dan ketebalannya tetap merata. Benang yang sudah terbentuk kemudian digulung untuk diproses lebih lanjut menjadi bahan baku kain. Dari kerja kerasnya tersebut, warga Bandung Timur ini berjuang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Realitas Hidup Sebagai Buruh Kontrak

Penghasilan Sunarni setiap bulan berasal dari upah bulanan yang diterima di pabrik. Namun, karena status kontrak, ia tidak mendapatkan tunjangan atau fasilitas yang biasanya diberikan kepada karyawan tetap. Hal ini membuat setiap rupiah yang ia terima harus dipertimbangkan secara cermat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sunarni bekerja keras untuk anaknya yang memiliki kebutuhan khusus serta membantu orang tua yang masih hidup. Ia merupakan orang tua tunggal dengan dua anak, di antaranya seorang anak disabilitas. Semua pengeluaran, mulai dari biaya pendidikan, perawatan medis, hingga kebutuhan pokok, harus dikelola dengan ketat. Harga bahan pokok yang terus meningkat membuat uang yang dimilikinya semakin terbatas. “Realitanya harga semua serba mahal, enggak ada yang murah,” ujar Sunarni.

Dampak Ekonomi dan Sosial pada Keluarga Sunarni

Dampak ekonomi yang dirasakan Sunarni terasa pada setiap aspek kehidupan keluarganya. Dengan upah yang tetap, ia harus menabung sedikit demi sedikit untuk menyiapkan dana darurat, terutama bagi anak disabilitas yang memerlukan perawatan rutin. Keterbatasan dana juga memaksa Sunarni mencari cara-cara kreatif untuk menghemat pengeluaran, seperti membeli bahan makanan dalam jumlah besar atau memanfaatkan program bantuan sosial yang tersedia.

Sementara itu, kondisi sosial di lingkungan sekitar juga memengaruhi kesejahteraan Sunarni. Sebagai buruh kontrak, ia tidak memiliki jaringan dukungan yang kuat seperti karyawan tetap yang seringkali mendapat akses ke program pelatihan dan pengembangan karier. Tanpa adanya peluang untuk meningkatkan keterampilan, Sunarni harus bergantung pada pekerjaan yang sama selama lebih dari satu dekade.

Perjuangan Tanpa Henti di Tengah Ketidakpastian

Sunarni tetap berpegang pada tekad untuk menjaga kestabilan finansial keluarganya. Ia berusaha memperpanjang kontraknya setiap tahun dengan harapan akan ada perubahan status. Namun, hingga saat ini, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Meskipun begitu, Sunarni tidak menyerah. Ia terus bekerja dengan tekun, memastikan setiap benang yang dihasilkan memenuhi standar kualitas, sehingga perusahaan tetap mempercayai kemampuannya.

Keberanian Sunarni juga terlihat dalam cara ia mengelola waktu. Ia seringkali memulai hari lebih awal, bekerja hingga sore, dan kemudian kembali ke rumah untuk menyiapkan makanan bagi keluarga. Semua ini dilakukan tanpa mengurangi kualitas pekerjaannya di pabrik. Ketekunan ini menjadi contoh bagi banyak buruh kontrak lainnya yang menghadapi tantangan serupa.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Walaupun situasinya tidak mudah, Sunarni tetap berharap bahwa suatu hari nanti ia dapat memperoleh status karyawan tetap. Status tersebut akan membuka akses lebih luas ke fasilitas kesehatan, tunjangan, dan peluang kenaikan gaji. Selain itu, ia juga berharap dapat meningkatkan kualitas hidup anaknya, terutama anak disabilitas yang memerlukan perhatian khusus.

Di sisi lain, Sunarni juga menyadari pentingnya peran masyarakat dan pemerintah dalam mendukung buruh kontrak. Ia berharap akan ada kebijakan yang lebih adil, seperti jaminan sosial yang melindungi buruh kontrak, sehingga mereka tidak terjebak dalam siklus ketidakpastian.

Kesimpulan: Sebuah Kisah Ketabahan dan Harapan

Sunarni, buruh kontrak 15 tahun di Bandung, menunjukkan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan kehidupan. Meskipun status kontraknya tidak memberikan jaminan, ia tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, khususnya anak disabilitas dan orang tua yang masih hidup. Harga bahan pokok yang terus meningkat menambah beban, namun Sunarni tidak menyerah. Ia terus memperpanjang kontrak dan berharap akan ada perubahan status di masa depan. Kisah Sunarni menjadi contoh nyata bagaimana seorang buruh kontrak berjuang tanpa henti untuk menjaga kestabilan keluarga di tengah ketidakpastian.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1187181/kisah-sunarni-buruh-kontrak-15-tahun-di-bandung-berjuang-demi-hidupi-anak-disabilitas-dan-orang-tua, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *