UMKM dan Pengemudi Ojek Online Derita Kabut Asap Kalimantan‑Sumatra, Pendapatan Turun Hingga 30% Sementara Sesak Napas dan Sakit Kepala Menghambat Aktivitas

Kabut asap yang melanda Kalimantan dan Sumatra telah menimbulkan dampak ekonomi yang tidak terduga, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pengemudi ojek online. Sejak awal musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pendapatan banyak warga turun hingga 30 % atau lebih, sementara kesehatan mereka terpengaruh oleh sesak napas dan sakit kepala yang terus menghambat aktivitas harian.

Keruntuhan Pendapatan UMKM di Tengah Asap

Para pedagang di pasar tradisional, seperti penjual soto di Palangka Raya, melaporkan penurunan kunjungan pelanggan yang signifikan. Asap pekat membuat orang enggan keluar rumah, sehingga volume penjualan menurun drastis. Selain itu, biaya operasional seperti listrik dan transportasi naik, sehingga margin keuntungan semakin menipis. Banyak pedagang kecil yang kini kesulitan menutupi biaya sewa gerobak, bahan baku, dan kebutuhan pokok keluarga.

Pengemudi ojek online di kota-kota besar seperti Pekanbaru dan Banjarmasin juga merasakan dampak serupa. Rute perjalanan mereka menjadi lebih lama karena visibilitas menurun, sehingga pelanggan berkurang. Selain itu, biaya bahan bakar naik akibat kenaikan harga BBM yang dipengaruhi oleh ketidakstabilan pasokan energi. Akibatnya, pendapatan harian pengemudi menurun hingga lebih dari setengah dibandingkan periode sebelum karhutla.

Kerugian Ekonomi Nasional yang Besar

Penelitian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla mencapai Rp29,54 triliun dari Januari hingga Agustus 2026. Kerugian ini mencakup hilangnya produktivitas di sektor perdagangan, pertanian, serta makanan dan minuman. Riset tersebut menegaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya terbatas pada area terbakar, melainkan juga merembes ke seluruh rantai nilai ekonomi, mengganggu distribusi barang, dan menekan harga kebutuhan pokok.

Biaya Kesehatan dan Beban Hidup yang Meningkat

Asap pekat menyebabkan banyak keluarga mengalami sesak napas, batuk, dan sakit kepala. Kondisi ini memaksa mereka untuk mencari layanan kesehatan, baik di puskesmas maupun rumah sakit swasta, sehingga biaya kesehatan meningkat. Pada saat yang sama, harga bahan pokok seperti beras, minyak, dan daging melonjak karena gangguan pasokan dan peningkatan permintaan di pasar.

Akibatnya, banyak keluarga tidak mampu membayar tagihan rumah tangga, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan pokok sehari-hari. Beberapa keluarga bahkan harus meminjam uang dari lembaga keuangan informal dengan bunga tinggi, sehingga beban utang mereka semakin berat.

Pengaruh pada Produktivitas dan Aktivitas Ekonomi

Menurut analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, karhutla menjadi faktor penting yang menahan aktivitas ekonomi di Sumatra dan Kalimantan. Asap mengganggu perdagangan, pertanian, transportasi, pariwisata, dan produktivitas pekerja. Pekerja harian, khususnya, merasakan dampak paling berat karena mereka bergantung pada aktivitas di luar rumah untuk mendapatkan penghasilan.

Di sektor pertanian, asap mengganggu proses pemupukan dan panen. Petani tidak dapat bekerja di ladang karena kondisi udara tidak aman, sehingga produksi turun dan harga komoditas berfluktuasi. Di sektor transportasi, pengemudi ojek online mengurangi jam kerja karena pelanggan menolak perjalanan di tengah asap. Hal ini menurunkan pendapatan harian dan memperlambat arus ekonomi lokal.

Upaya Mitigasi dan Tantangan di Masa Depan

Beberapa langkah mitigasi telah diambil, seperti penyuluhan kesehatan, distribusi masker, dan program bantuan tunai bagi keluarga terdampak. Namun, tantangan tetap besar karena karhutla seringkali terjadi secara berkala, menimbulkan efek jangka panjang pada pendapatan dan kesehatan masyarakat.

UMKM dan pengemudi ojek online mencari solusi kreatif, seperti beralih ke penjualan online atau layanan antar. Namun, infrastruktur internet di beberapa daerah masih terbatas, sehingga transisi tidak berjalan mulus. Selain itu, biaya operasional yang meningkat membuat margin keuntungan tetap menipis.

Kesimpulan: Kabut Asap Menjadi Beban Besar bagi Perekonomian Lokal

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra menimbulkan dampak ekonomi yang luas, menggerus pendapatan UMKM dan pengemudi ojek online hingga 30 % atau lebih. Selain menurunkan produktivitas, asap juga meningkatkan biaya kesehatan dan kebutuhan pokok, sehingga banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Kerugian ekonomi nasional yang diperkirakan mencapai Rp29,54 triliun menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan tantangan besar bagi stabilitas ekonomi regional. Untuk mengurangi dampak ini, dibutuhkan koordinasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat guna meningkatkan mitigasi kebakaran, memperkuat infrastruktur ekonomi, dan menyediakan dukungan finansial bagi pelaku usaha kecil yang terdampak.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cm5yn28x5vz4o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *