Merawat Hutan Ranjuri Sigi Lewat Batik Valiri, Warga Lokal Ungkap Upaya Konservasi

Di tengah hutan seluas sekitar sembilan hektare, terdapat komunitas yang merawat hutan sekaligus memberdayakan diri sendiri dengan membuat batik. Batik Valiri, nama yang diberikan pada usaha ini, menjadi cara warga Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, untuk merawat Hutan Ranjuri. Dengan menggabungkan kearifan lokal dan pendekatan kontemporer, Batik Valiri tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal.

Merawat Hutan dengan Batik

Pendiri Batik Valiri, Afrianto atau Anto, merintis usahanya pada 2019 setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan batik di Kota Palu. Ia melihat bahwa kekayaan alam, budaya, dan sejarah Sigi belum banyak diangkat ke dalam kain batik. “Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami yang bisa dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut,” ujar Anto.

Valiri berasal dari Bahasa Kaili, yang berarti ‘jadi di sini’. Nama itu merujuk pada kawasan sekitar Hutan Ranjuri, tempat masyarakat sejak lama menggantungkan hidup, menghidupkan nilai budaya, dan menjaga sistem pengetahuan lokal. Hutan bagi masyarakat adat Kaili bukan hanya sebagai penyangga ekologis yang melindungi desa dari banjir bandang dan kekeringan, tetapi juga menjadi sumber air, sumber inspirasi motif, dan sumber bahan pewarna alami.

Menggali Inspirasi dari Alam

Alam dan sekitarnya menjadi inspirasi utama motif Batik Valiri. Setiap pola bukan hanya ornamen visual, tetapi menyimpan filosofi dan identitas daerah. Motif taiganja, misalnya, melambangkan kesuburan dan menggambarkan cinta serta ketulusan hati. Dalam tradisi Kaili, taiganja merupakan benda sakral berbentuk menyerupai liontin yang digunakan dalam upacara adat dan sering menjadi mahar pernikahan. Melalui Batik Valiri, makna taiganja yang mulai jarang dikenal dihidupkan kembali agar dapat dipahami dalam konteks budaya masa kini.

Selain taiganja, Batik Valiri juga mengangkat motif Pohon Rau dari Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik yang tersebar di wilayah Sigi. Semua motif ini menjadi pintu masuk untuk mengenal kekayaan alam, sosial, dan sejarah Sigi.

Mengapa Batik Valiri Penting?

Mengapa Batik Valiri menjadi penting? Pertama, usaha ini merupakan upaya nyata dalam melestarikan budaya dan alam Sigi. Dengan menggunakan pewarna alami dari tanaman di Hutan Ranjuri, Batik Valiri turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kedua, Batik Valiri memberdayakan masyarakat lokal dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan meningkatkan pendapatan.

Dampak dari Batik Valiri ke depan sangat signifikan. Usaha ini tidak hanya membantu melestarikan budaya dan alam, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan budaya. Dengan demikian, Batik Valiri menjadi contoh yang baik dalam menggabungkan pelestarian budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Batik Valiri kini menjadi bagian dari transformasi Kabupaten Sigi menuju kabupaten lestari dengan menghadirkan praktik ekonomi yang berkelanjutan. Usaha ini masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh, tetapi dengan komitmen dan kerja sama dari masyarakat, Batik Valiri dapat menjadi contoh yang baik dalam melestarikan budaya dan alam sambil memberdayakan masyarakat lokal.

Kedepannya, Batik Valiri berencana untuk terus mengembangkan bisnisnya lewat paket ekowisata berbasis pengalaman. Wisatawan diajak menyusuri Hutan Ranjuri, mengenal filosofi motif, hingga mencoba langsung membatik. Dengan demikian, Batik Valiri tidak hanya menjadi usaha yang berkelanjutan tetapi juga menjadi sarana edukasi dan promosi kebudayaan Sigi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8240062/merawat-hutan-ranjuri-sigi-lewat-batik-valiri, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *