Studi Kesehatan Ungkap 65% Penurunan Mobilitas pada Usia 60+, Mengapa Berjalan Kaki Jadi Lebih Sulit dan Melelahkan

Mobilitas yang menurun pada usia 60 lebih merupakan masalah yang semakin penting di dunia kesehatan, terutama karena dampaknya terhadap kualitas hidup lansia. Studi terbaru dari Flinders University dan University of Canberra, Australia, menunjukkan bahwa penurunan mobilitas ini tidak hanya berkaitan dengan penurunan kecepatan atau jarak tempuh, melainkan juga perubahan mekanik pada pergelangan kaki dan otot sekitarnya yang membuat berjalan kaki menjadi lebih sulit dan melelahkan.

Penelitian: 107 Partisipan, 26‑86 Tahun

Peneliti memeriksa 107 orang sehat yang berusia antara 26 hingga 86 tahun. Dengan menggunakan peralatan pengukuran gerakan dan sensor otot, mereka dapat memantau bagaimana setiap bagian tubuh berperan saat berjalan. Hasilnya mengungkap bahwa seiring bertambahnya usia, otot‑otot di sekitar pergelangan kaki berperilaku berbeda. Mereka menjadi lebih aktif dalam menjaga kestabilan, meskipun hal ini mengorbankan efisiensi dan kecepatan langkah.

Strategi “Mengutamakan Keselamatan” pada Gerakan Langkah

Studi menunjukkan tubuh secara bertahap mengadopsi strategi “mengutamakan keselamatan” ketika berusia. Alih‑alih berfokus pada kecepatan, tubuh menitikberatkan kestabilan. Ini berarti otot-otot antagonis di sekitar pergelangan kaki—yang biasanya bekerja secara sinkron untuk menstabilkan dan memajukan tubuh—menjadi lebih aktif. Akibatnya, setiap langkah memerlukan lebih banyak tenaga, sehingga tubuh cepat lelah bahkan ketika tidak ada kondisi medis yang mendasari.

Peran Pergelangan Kaki dalam Menjaga Keseimbangan dan Dorongan

Pergelangan kaki memiliki dua fungsi kunci saat berjalan: pertama, membantu menjaga keseimbangan ketika kaki menyentuh tanah; kedua, menghasilkan dorongan yang mendorong tubuh maju. Pada lansia, otot-otot yang bekerja berlawanan di sekitar pergelangan kaki cenderung lebih aktif, menambah beban kerja otot. Hal ini memaksa otot-otot tersebut bekerja lebih keras, sehingga langkah menjadi lebih pendek dan lebih lambat.

Perubahan Fisiologis yang Mendorong Penurunan Mobilitas

Penelitian ini menyoroti perubahan kecil namun bermakna pada cara otot berfungsi. Ketika otot-otot di sekitar pergelangan kaki harus bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan, energi yang tersedia untuk gerakan menjadi terbatas. Akibatnya, kecepatan berjalan menurun dan jarak tempuh setiap hari berkurang. Pada usia 60 lebih, penurunan mobilitas bisa mencapai 65 % dibandingkan dengan usia muda.

Dampak Penurunan Mobilitas bagi Lansia

Penurunan mobilitas memiliki konsekuensi luas. Selain meningkatkan risiko jatuh, kurangnya aktivitas fisik dapat mempercepat penurunan massa otot dan menurunkan fungsi kognitif. Lansia yang mengalami penurunan mobilitas juga cenderung lebih sulit melakukan aktivitas sehari‑hari, seperti menyiapkan makanan, membersihkan rumah, atau bahkan berjalan di dalam rumah. Hal ini dapat memengaruhi rasa mandiri dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Strategi Adaptasi dan Pencegahan

Mengingat pentingnya peran pergelangan kaki, pendekatan preventif dapat difokuskan pada latihan kekuatan dan fleksibilitas otot di area tersebut. Latihan yang menekankan keseimbangan, seperti berdiri satu kaki atau berjalan di garis lurus, dapat membantu mengurangi ketergantungan tubuh pada strategi “mengutamakan keselamatan.” Selain itu, penggunaan alas kaki yang memberikan dukungan pergelangan kaki dapat meminimalisir beban tambahan pada otot-otot yang sudah menua.

Kesimpulan: Mobilitas yang Menurun, Tetapi Bisa Dikendalikan

Studi dari Flinders University dan University of Canberra mengungkap bahwa penurunan mobilitas pada usia 60 lebih tidak hanya sekadar masalah kecepatan berjalan. Ia berkaitan dengan perubahan mekanik otot di sekitar pergelangan kaki yang membuat setiap langkah memerlukan tenaga lebih. Menyadari bahwa tubuh beradaptasi dengan strategi “mengutamakan keselamatan” memberi petunjuk penting bagi profesional kesehatan dan keluarga lansia untuk merancang program latihan yang menargetkan otot-otot kritis tersebut. Dengan pendekatan yang tepat, penurunan mobilitas dapat diminimalkan, sehingga lansia dapat tetap aktif, mandiri, dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.dream.co.id/stories/mengapa-berjalan-kaki-terasa-makin-sulit-dan-melelahkan-seiring-bertambahnya-usia-260924w.html, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *