Bahaya Ngorok Saat Tidur: Dokter Saraf Ungkap Risiko Stroke yang Mengancam
Mendengkur saat tidur bukan sekadar kebiasaan biasa, namun dapat menjadi tanda gangguan tidur serius yang berisiko menyebabkan stroke hingga demensia. Dokter spesialis saraf, Dr. Pramod Krishnan, mengungkapkan bahwa mendengkur dapat menjadi gejala obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif. OSA merupakan gangguan tidur yang menyebabkan saluran napas bagian atas tersumbat saat tidur, sehingga napas dapat berulang kali berhenti dan kembali berlangsung sepanjang malam.
Apa Itu Obstructive Sleep Apnea?
Dr. Krishnan menjelaskan bahwa OSA adalah kondisi yang menyebabkan saluran napas bagian atas tersumbat saat tidur, sehingga napas dapat berulang kali berhenti dan kembali berlangsung sepanjang malam. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah secara berulang, yang dapat memicu peradangan, stres oksidatif, hingga kerusakan sel-sel saraf. Selain mendengkur keras, OSA juga ditandai dengan beberapa gejala lain, seperti tidur tetapi tetap merasa tidak segar saat bangun, mengantuk berlebihan pada siang hari, sakit kepala saat bangun tidur, dan mudah mengantuk serta sulit berkonsentrasi.
Mengapa Ngorok Bisa Sebabkan Stroke dan Demensia?
Dr. Krishnan menjelaskan bahwa pada penderita OSA, tidur menjadi terfragmentasi karena kadar oksigen darah berulang kali turun akibat sumbatan pada saluran napas bagian atas. Napas tampak berhenti dan kembali berlangsung berulang kali selama tidur. Kurangnya kualitas tidur yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk gangguan pada otak seperti stroke dan demensia. Penurunan kadar oksigen yang berulang dapat memicu peradangan, stres oksidatif, hingga kerusakan sel-sel saraf, terutama pada bagian otak yang berperan dalam memori dan fungsi kognitif.
Dampak OSA pada Kesehatan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penderita OSA cenderung mengalami penurunan kemampuan berpikir, perhatian, fungsi eksekutif, kecepatan memproses informasi, hingga daya ingat. Oleh karena itu, Dr. Krishnan menekankan bahwa gangguan tidur ini sebaiknya segera ditangani, terutama jika seseorang mengalami kebiasaan mendengkur secara terus-menerus. Terapi utama untuk OSA adalah penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yaitu alat yang membantu menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Selain itu, penurunan berat badan juga menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Dr. Krishnan mengingatkan bahwa diagnosis OSA harus dilakukan oleh tenaga medis. Seseorang yang sering mendengkur disertai rasa kantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala saat bangun, atau pasangan melihat napasnya sering berhenti ketika tidur, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Dengan penanganan yang tepat, penderita OSA dapat mengurangi risiko stroke dan demensia, serta meningkatkan kualitas hidup mereka.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260703152538-33-747886/ngorok-saat-tidur-bisa-picu-stroke-ini-penjelasan-dokter-saraf, without altering the facts of the original article.