Amerika Kalah, China Kuasai Wilayah Ini dalam Waktu Dekat

Amerika Serikat tampaknya akan kalah dalam persaingan eksplorasi antariksa dengan China. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang menjadi laboratorium antariksa terbesar di orbit Bumi saat ini masih menjadi simbol kerja sama internasional, namun China telah memiliki stasiun antariksa sendiri yang bernama Tiangong. Dalam waktu dekat, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya stasiun antariksa berawak yang beroperasi secara permanen di orbit Bumi.

Momen Penentu di Menit Akhir

ISS masih menjadi laboratorium antariksa terbesar di orbit Bumi yang melibatkan banyak negara. Namun, stasiun antariksa tersebut diperkirakan akan mengakhiri masa operasionalnya sekitar tahun 2030. Sementara itu, Tiangong adalah stasiun milik China yang berukuran lebih kecil, lebih baru, dan sepenuhnya dikendalikan oleh negara tersebut. China telah meluncurkan modul inti Tianhe pada 2021, kemudian disusul modul laboratorium Wentian dan Mengtian pada 2022.

Sejak periode pergantian awak antara misi Shenzhou 14 dan Shenzhou 15, China mulai mengoperasikan Tiangong sebagai stasiun antariksa yang dihuni secara terus-menerus, bukan lagi laboratorium orbit untuk misi jangka pendek. China juga mengirimkan awak Shenzhou 23 ke Tiangong pada 24 Mei 2026 sebagai bagian dari rotasi regu.

Apa yang Terjadi Sebelumnya?

China sebenarnya tidak pernah menjadi mitra resmi ISS. Amerika Serikat menolak China terlibat bahkan sudah muncul jauh sebelum 2011. Situasi itu kemudian semakin mengeras setelah pemerintah AS mengesahkan Wolf Amendment pada tahun tersebut. Aturan yang tercantum dalam Public Law 112-10, Section 1340, sebagai bagian dari Department of Defense and Full-Year Continuing Appropriations Act 2011, melarang NASA dan White House Office of Science and Technology Policy menggunakan anggaran untuk mengembangkan atau menjalankan program bilateral dengan China maupun perusahaan milik China, kecuali mendapat izin khusus melalui undang-undang lain.

Mengapa dan Dampaknya

Wolf Amendment memang bukan satu-satunya alasan di balik pembangunan Tiangong. Namun, aturan itu menutup peluang realistis dalam jangka pendek bagi program penerbangan antariksa berawak China untuk bergabung dengan kerangka kerja ISS. Pembangunan Tiangong memiliki dampak besar pada persaingan eksplorasi antariksa. Jika ISS benar-benar mengakhiri masa operasionalnya sekitar 2030 dan belum ada stasiun komersial pengganti yang siap menampung awak, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya stasiun antariksa berawak yang beroperasi secara permanen di orbit Bumi.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihat bagaimana persaingan eksplorasi antariksa antara Amerika Serikat dan China akan berkembang. Apakah Tiangong akan menjadi stasiun antariksa utama di orbit Bumi? Atau apakah Amerika Serikat akan mampu mengembangkan stasiun antariksa baru yang dapat menandingi Tiangong? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut masih harus ditunggu. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa persaingan eksplorasi antariksa antara Amerika Serikat dan China akan terus berlanjut dan memiliki dampak besar pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260703134116-37-747838/kekuasaan-amerika-segera-berakhir-china-penguasa-baru-di-wilayah-ini, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *