Trump Diam-Diam Bantu Iran, Israel Bongkar Rencana Busuk di Balik Layar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah memberikan bantuan diam-diam kepada Iran, sebuah langkah yang mengejutkan mengingat hubungan tegang antara AS dan Iran. Menurut laporan, bantuan ini diberikan untuk membantu Iran mengatasi kesulitan ekonominya. Namun, Israel reportedly telah membongkar rencana busuk di balik layar yang dilakukan oleh Trump untuk membantu Iran.
Trump Diam-Diam Bantu Iran
Sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah melayangkan “peringatan tidak langsung” kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Langkah darurat ini diambil setelah adanya kekhawatiran besar bahwa Israel sedang merencanakan “operasi pembunuhan terhadap kedua negosiator ulung” tersebut untuk menggagalkan diplomasi damai.
Menurut laporan New York Times, sebagaimana dikutip Times of Israel, Jumat (3/7/2026), ancaman pembunuhan ini mencuat dalam beberapa pekan setelah kesepakatan gencatan senjata 8 April. Gencatan senjata meski rapuh, sejauh ini menghentikan perang antara AS-Israel melawan Iran.
Momen Penentu di Menit Akhir
“Washington khawatir jika Israel benar-benar menghabisi Araghchi dan Ghalibaf, seluruh proses meja perundingan yang sedang berjalan akan hancur berantakan dan memicu pertempuran bersenjata baru yang jauh lebih masif,” ujar seorang sumber.
Ghalibaf sendiri dilaporkan baru saja lolos dari maut setelah pesawat yang ditumpanginya terpaksa melakukan pendaratan darurat di Mashhad, wilayah timur laut Iran. Insiden ini terjadi saat ia dalam perjalanan pulang dari Islamabad, Pakistan, usai menggelar dialog intensif dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Pasukan keamanan Iran dilaporkan mendeteksi ada dua jet tempur Israel yang nekat menerobos wilayah udara mereka melalui rute Irak. Keduanya diindikasikan hendak menyergap pesawat sang ketua parlemen. Akibat situasi darurat tersebut, Ghalibaf dan seluruh delegasi Iran terpaksa dievakuasi.
Ia harus menempuh jalur darat selama delapan jam demi bisa kembali ke ibu kota Teheran. Mengingat risikonya yang sangat fatal bagi stabilitas global, otoritas AS sampai harus meminta bantuan dari para pejabat di beberapa negara sekutu kawasan Timur Tengah untuk meneruskan pesan peringatan rahasia ini langsung ke Teheran.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Sejak awal perang pecah pada 28 Februari, militer Israel terus secara sistematis menargetkan dan membunuh jajaran kepemimpinan senior Iran, termasuk kepala keamanan nasional Ali Larijani dan mantan menteri luar negeri Kamal Kharazi, yang sebenarnya merupakan figur potensial untuk bernegosiasi dengan AS.
Sebelumnya pada bulan Maret, saat pertempuran masih berlangsung sengit, pemerintah Pakistan telah melakukan intervensi diplomatik dengan mendesak Washington agar menekan Israel untuk menghapus nama Araghchi dan Ghalibaf dari daftar target pembunuhan mereka.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Mengingat tingginya risiko keamanan, delegasi Iran bahkan sempat meminta jaminan internasional serta pengawalan ketat dari jet-jet tempur angkatan udara Pakistan saat mendarat di Islamabad untuk memastikan keselamatan mereka dari buruan intelijen Israel.
“AS meminta Israel untuk mundur,” ungkap seorang pejabat Pakistan kepada Reuters, seraya menjelaskan bahwa Islamabad telah memperingatkan pihak Washington jika kedua tokoh tersebut sampai tewas, maka tidak akan ada lagi orang yang tersisa di Teheran untuk diajak bicara mengenai negosiasi gencatan senjata.
Dengan demikian, bantuan diam-diam yang diberikan oleh Trump kepada Iran dapat dianggap sebagai langkah yang tepat untuk menghindari terjadinya perang yang lebih besar di kawasan Timur Tengah. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam proses negosiasi damai antara AS dan Iran.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260703142047-4-747856/diam-diam-trump-bantu-iran-bongkar-rencana-busuk-israel, without altering the facts of the original article.