Perjalanan Hengky Haryadi dari Jakarta hingga Papua Barat Daya

Brigjen Pol Hengky Haryadi kini memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya di Kepolisian Negara Republik Indonesia. Setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakapolda Riau, ia dipercaya menjadi Kapolda Papua Barat Daya pada 2026.

Penunjukan tersebut menjadi bagian dari rotasi dan mutasi sejumlah perwira tinggi serta perwira menengah Polri. Dalam mutasi yang diumumkan pada 30 Agustus 2026, Hengky yang sebelumnya menjabat Wakapolda Riau ditugaskan sebagai Kapolda Papua Barat Daya menggantikan Brigjen Pol Yulius Audie Sonny Latuheru.

Perjalanan menuju posisi tersebut tidak berlangsung singkat. Hengky telah melewati berbagai penugasan, mulai dari wilayah Lampung, Jakarta, lingkungan Bareskrim Polri, hingga jabatan sebagai Wakapolda Riau.

Pengalaman panjang tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum akhirnya dipercaya memimpin Polda Papua Barat Daya.

Bagaimana awal perjalanan karier Hengky Haryadi?

Hengky Haryadi merupakan lulusan Akademi Kepolisian atau Akpol tahun 1996. Setelah menyelesaikan pendidikan kepolisian, ia menjalani sejumlah penugasan di berbagai wilayah dan fungsi.

ANTARA mencatat bahwa Hengky memiliki pengalaman cukup panjang di bidang reserse. Pada awal perjalanan kariernya, ia pernah menjalankan tugas di wilayah Lampung sebelum kemudian melanjutkan karier di Jakarta.

Penugasan di lapangan menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang perwira kepolisian. Dari berbagai posisi tersebut, Hengky kemudian mendapatkan kepercayaan untuk menduduki jabatan yang memiliki tanggung jawab semakin besar.

Salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya adalah ketika mulai bertugas di wilayah DKI Jakarta.

Hengky Haryadi mulai dikenal melalui penugasan di Jakarta

Sekitar 2010, Hengky mulai menjalankan tugas di Jakarta. Ia pernah menjabat Kapolsek Metro Gambir, kemudian dipercaya sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat dan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.

Penugasan di wilayah Jakarta memberikan pengalaman dalam menghadapi persoalan keamanan perkotaan yang memiliki karakter cukup kompleks.

Sebagai bagian dari fungsi reserse, Hengky terlibat dalam berbagai penanganan perkara kriminal. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari perjalanan kariernya menuju jabatan kepemimpinan yang lebih tinggi.

Dari Jakarta, karier Hengky terus berkembang melalui sejumlah posisi strategis di lingkungan kepolisian.

Pengalaman sebagai Kasat Reskrim Jakarta Barat

Salah satu posisi yang cukup penting dalam perjalanan karier Hengky adalah ketika ia dipercaya menjadi Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.

Pada posisi tersebut, ia menjalankan tugas yang berkaitan dengan penanganan berbagai perkara pidana di wilayah Jakarta Barat.

ANTARA dalam profil Hengky pada 2020 mencatat sejumlah penanganan kasus yang dilakukan ketika ia berada di lingkungan Polres Metro Jakarta Barat. Salah satunya adalah pengungkapan perkara yang berkaitan dengan kelompok premanisme serta jaringan narkotika.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari rekam penugasan Hengky sebelum mendapatkan posisi sebagai kepala kepolisian resor.

Dari fungsi reserse menuju jabatan Kapolres

Perjalanan karier Hengky tidak berhenti pada fungsi reserse. Ia kemudian dipercaya mengemban sejumlah jabatan sebagai pimpinan kewilayahan.

Ia pernah menjabat Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok pada 2014 hingga 2016. Setelah itu, ia menjalankan tugas di lingkungan Polda Metro Jaya sebagai Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus.

Jabatan tersebut menunjukkan adanya perkembangan tanggung jawab dari penanganan perkara menuju pengelolaan satuan dan organisasi.

Pengalaman sebagai Kapolres juga menjadi bagian penting karena seorang kepala kepolisian resor tidak hanya bertanggung jawab terhadap penegakan hukum, tetapi juga keamanan dan ketertiban masyarakat serta pelayanan kepolisian di wilayah hukumnya.

Pengalaman memimpin Polres Metro Jakarta Barat

Pada Oktober 2017, Hengky dipercaya menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat. Posisi tersebut dijalaninya hingga Desember 2019.

Selama menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat, Hengky kembali bersentuhan dengan berbagai persoalan keamanan perkotaan.

ANTARA mencatat bahwa pada masa kepemimpinannya, jajaran Polres Metro Jakarta Barat menangani berbagai perkara, termasuk kasus narkotika dan kriminalitas. Salah satu pengungkapan yang diberitakan adalah penyelundupan sabu dengan modus bungkus kopi.

Pengalaman tersebut memperkaya perjalanan Hengky dalam memimpin organisasi kepolisian tingkat kewilayahan.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat, ia kemudian menjalani pendidikan pengembangan kepemimpinan.

Pendidikan Sespimti menjadi bagian penting

Setelah mengakhiri masa tugas sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat pada 2019, Hengky mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi atau Sespimti Polri.

Menurut catatan ANTARA, Hengky menjalani pendidikan selama sekitar sembilan bulan dan tercatat sebagai lulusan terbaik pada angkatannya.

Pendidikan Sespimti menjadi salah satu tahapan pengembangan bagi perwira yang dipersiapkan untuk menjalankan tanggung jawab kepemimpinan pada tingkat yang lebih tinggi.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Hengky kembali menjalankan tugas di lingkungan Mabes Polri.

Hengky kembali ke Mabes Polri

Setelah menyelesaikan pendidikan Sespimti, Hengky menjalankan tugas sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Pideksus Bareskrim Polri.

Penugasan tersebut memperluas pengalamannya. Jika sebelumnya ia banyak bertugas secara langsung di wilayah kepolisian, kini ia mendapatkan pengalaman di lingkungan kepolisian tingkat pusat.

Pada November 2020, Hengky kemudian mendapat penugasan sebagai Kapolres Metro Jakarta Pusat. Pergantian tersebut menjadi bagian dari rotasi jabatan di lingkungan Polda Metro Jaya.

Kembali ke Jakarta sebagai pimpinan kepolisian resor menjadi salah satu bagian menarik dalam perjalanan kariernya.

Mengapa pengalaman Jakarta penting bagi Hengky?

Jakarta menjadi salah satu wilayah yang cukup dominan dalam perjalanan karier Hengky Haryadi.

Ia pernah menjalankan berbagai fungsi di Jakarta, mulai dari Kapolsek, Kasat Reskrim, hingga Kapolres. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk menangani persoalan keamanan dengan karakter perkotaan.

Selain persoalan kriminalitas, pimpinan kepolisian di wilayah metropolitan juga harus mengelola organisasi dengan jumlah personel dan aktivitas masyarakat yang besar.

Karena itu, pengalaman di Jakarta menjadi salah satu bagian dari perjalanan yang kemudian dilanjutkan Hengky ke jabatan-jabatan lain di lingkungan Polri.

Dari Jakarta menuju tugas di Bareskrim

Setelah menjalankan berbagai jabatan di Polda Metro Jaya, Hengky juga mendapatkan penugasan di Bareskrim Polri.

Riwayat karier yang diberitakan ANTARA mencatat bahwa ia pernah menjadi Kasubdit I Dittipideksus Bareskrim Polri dan kemudian Analis Kebijakan Madya Bidang Pideksus Bareskrim Polri.

Penugasan di Bareskrim memberikan pengalaman pada tingkat pusat sekaligus memperluas wawasan Hengky mengenai penanganan perkara yang berada dalam lingkup kewenangan kepolisian nasional.

Perjalanan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penugasan sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II Bareskrim Polri.

Bagaimana Hengky bisa menjadi Wakapolda Riau?

Setelah menjalankan berbagai tugas di Bareskrim, Hengky mendapat kesempatan menduduki jabatan sebagai Wakapolda Riau.

Jabatan tersebut menjadi salah satu tahap penting sebelum akhirnya ia dipercaya menjadi Kapolda Papua Barat Daya.

Sebagai Wakapolda, Hengky memiliki tanggung jawab membantu Kapolda dalam menjalankan organisasi dan pelaksanaan tugas kepolisian di wilayah Riau.

Pengalaman tersebut juga memperluas cakupan tugasnya dari fungsi reserse menuju pengelolaan organisasi kepolisian daerah.

Rekam tugas Hengky saat menjadi Wakapolda Riau

Selama menjadi Wakapolda Riau, Hengky juga terlibat dalam sejumlah kegiatan kepolisian.

Salah satunya adalah pengungkapan hasil Operasi Antik Lancang Kuning 2026. Dalam konferensi pers pada Mei 2026, Hengky yang saat itu menjabat Wakapolda Riau memaparkan hasil operasi tersebut.

Polda Riau mencatat 435 kasus narkotika yang diungkap selama operasi dengan 557 tersangka diamankan. Data tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang dipimpin Hengky pada 12 Mei 2026.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian dari tugasnya sebagai Wakapolda Riau sebelum mendapatkan penugasan baru.

Dari Riau menuju Papua Barat Daya

Perubahan jabatan kembali terjadi pada akhir Agustus 2026. Polri menetapkan Hengky Haryadi sebagai Kapolda Papua Barat Daya.

Dalam keputusan mutasi tersebut, posisi Wakapolda Riau yang ditinggalkan Hengky kemudian diisi Brigjen Pol Simson Zet Ringu. Sementara Hengky menggantikan Brigjen Pol Yulius Audie Sonny Latuheru sebagai Kapolda Papua Barat Daya.

Polri menjelaskan bahwa mutasi dan rotasi merupakan bagian dari dinamika organisasi, pembinaan karier, serta penyegaran organisasi.

Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir, pejabat yang mendapatkan tugas baru diharapkan segera menyesuaikan diri dan melanjutkan program yang sudah berjalan.

Apa yang berubah dari tugas Hengky di Riau ke Papua Barat Daya?

Ketika menjadi Wakapolda Riau, Hengky berada dalam posisi membantu Kapolda dalam menjalankan tugas organisasi.

Setelah menjadi Kapolda Papua Barat Daya, ia menjadi pimpinan utama kepolisian daerah. Tanggung jawabnya mencakup pengelolaan seluruh jajaran Polda, pelaksanaan kebijakan kepolisian, pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penegakan hukum, serta pelayanan masyarakat.

Perubahan tersebut membuat cakupan tanggung jawab Hengky menjadi lebih luas.

Ia tidak lagi hanya menjalankan fungsi sebagai wakil pimpinan, tetapi harus menentukan arah kebijakan organisasi bersama jajaran di bawahnya.

Memulai tugas sebagai Kapolda Papua Barat Daya

Kepemimpinan Hengky di Papua Barat Daya ditandai dengan Apel Kehormatan dan Serah Terima Pataka di Mapolda Papua Barat Daya, Aimas, Sorong, pada 9 September 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Hengky menyampaikan sejumlah pesan mengenai arah kepemimpinannya.

Salah satu yang ditekankan adalah pentingnya pencegahan kejahatan melalui kerja sama dengan masyarakat. Ia menyebut pendekatan community policing dan problem-oriented policing sebagai bagian dari cara kepolisian menangani persoalan keamanan.

Menurut Hengky, polisi tidak dapat bekerja sendiri. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban.

Pendekatan pencegahan menjadi perhatian

Hengky menyampaikan bahwa pencegahan kejahatan menjadi salah satu prioritas utama dalam pelaksanaan tugas kepolisian di Papua Barat Daya.

Ia menjelaskan bahwa kepolisian perlu mengidentifikasi persoalan yang dapat menimbulkan gangguan keamanan bersama masyarakat.

Dalam pendekatan tersebut, penegakan hukum tetap dijalankan terhadap tindak pidana. Namun, Hengky menyatakan bahwa karakteristik Papua Barat Daya perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pendekatan kepolisian.

Ia juga menyatakan akan melanjutkan program yang sudah dijalankan oleh Kapolda sebelumnya.

Mengapa program sebelumnya tetap dilanjutkan?

Pergantian pimpinan tidak selalu berarti seluruh program organisasi harus dihentikan dan diganti.

Hengky menyampaikan bahwa program yang telah dijalankan oleh Kapolda sebelumnya akan ditindaklanjuti. Menurutnya, kesinambungan program penting untuk kepentingan masyarakat Papua Barat Daya.

Hal tersebut juga sejalan dengan harapan Polri dalam setiap pergantian jabatan. Pejabat baru diharapkan segera beradaptasi dengan tugas sekaligus menjaga kesinambungan program yang telah berjalan.

Dengan demikian, kepemimpinan baru dapat membawa kebijakan sesuai kebutuhan organisasi tanpa harus mengabaikan program yang masih relevan.

Perjalanan dari Jakarta menjadi pengalaman di Papua Barat Daya

Jika melihat perjalanan kariernya, Jakarta menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesional Hengky Haryadi.

Ia pernah menjadi Kapolsek Metro Gambir, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Kapolres Metro Jakarta Barat, hingga Kapolres Metro Jakarta Pusat.

Setelah itu, ia menjalankan sejumlah tugas di tingkat pusat dan kemudian menjadi Wakapolda Riau.

Kini pengalaman tersebut berlanjut di wilayah Papua Barat Daya.

Apa yang menjadi fokus Hengky di jabatan barunya?

Pada masa awal kepemimpinannya, Hengky menyampaikan beberapa fokus, antara lain pencegahan kejahatan, kerja sama dengan masyarakat, penegakan hukum, dan kesinambungan program kepolisian.

Ia juga menekankan bahwa karakteristik Papua Barat Daya berbeda dengan wilayah lain sehingga pendekatan kepolisian perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari arah awal kepemimpinan Hengky setelah menerima tongkat komando Polda Papua Barat Daya.

Pelaksanaan kebijakan tersebut kemudian akan diterjemahkan melalui jajaran kepolisian di tingkat provinsi dan kewilayahan.

Perjalanan karier yang terus berkembang

Perjalanan Hengky Haryadi menunjukkan adanya perubahan tanggung jawab dari satu jabatan ke jabatan lainnya.

Ia memulai karier sebagai lulusan Akpol 1996, kemudian menjalankan tugas di sejumlah wilayah, berkembang di fungsi reserse, mendapatkan pengalaman memimpin Polres, menjalani pendidikan Sespimti, bertugas di Bareskrim, menjadi Wakapolda Riau, dan akhirnya dipercaya menjadi Kapolda Papua Barat Daya.

Setiap penugasan memberikan konteks dan tanggung jawab yang berbeda.

Karena itu, posisi Kapolda Papua Barat Daya menjadi fase baru yang memperluas tanggung jawab Hengky dalam memimpin organisasi kepolisian di tingkat provinsi.

Tantangan baru di Papua Barat Daya

Tugas di Papua Barat Daya membawa karakter yang berbeda dari penugasan Hengky sebelumnya di Jakarta maupun Riau.

Sebagai Kapolda, ia perlu memahami kondisi sosial, geografis, dan keamanan wilayah Papua Barat Daya.

Hengky sendiri telah menyampaikan bahwa karakteristik Papua Barat Daya perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan kepolisian. Pendekatan tersebut menjadi salah satu dasar yang ia sampaikan ketika mulai menjalankan tugas.

Selain menjaga keamanan, Polda Papua Barat Daya juga terus membangun organisasi sebagai institusi kepolisian daerah.

Kesimpulan

Perjalanan Hengky Haryadi menuju posisi Kapolda Papua Barat Daya merupakan rangkaian panjang penugasan di lingkungan Polri.

Lulusan Akpol 1996 tersebut memiliki pengalaman di berbagai wilayah dan fungsi. Ia pernah bertugas di Lampung, menjalani sejumlah jabatan di Jakarta, memimpin Polres Pelabuhan Tanjung Priok, menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat dan Jakarta Pusat, kemudian mendapatkan penugasan di Bareskrim Polri.

Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ketika Hengky dipercaya menjadi Wakapolda Riau. Dalam posisi tersebut, ia ikut menjalankan tugas kepolisian daerah dan terlibat dalam sejumlah agenda, termasuk pemaparan hasil Operasi Antik Lancang Kuning 2026.

Pada akhir Agustus 2026, Polri menetapkan Hengky sebagai Kapolda Papua Barat Daya menggantikan Yulius Audie Sonny Latuheru.

Kini, tugas Hengky memasuki tahap baru. Ia harus memimpin Polda Papua Barat Daya dengan memperhatikan karakteristik wilayah, memperkuat kerja sama dengan masyarakat, menjaga keamanan dan ketertiban, serta melanjutkan program yang telah berjalan.

Perjalanan dari berbagai penugasan di Jakarta, Bareskrim, Riau, hingga Papua Barat Daya menjadi bagian dari perjalanan karier Hengky Haryadi di lingkungan Polri.

penulis:M.R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *