Tragedi Sound System Horeg: Sahroni Desak Polisi Lakukan Evaluasi Menyeluruh Usai Tiga Warga Jatim Tewas dalam Kecelakaan
Sound system horeg, tradisi musik dan perayaan yang sudah lama menjadi bagian penting budaya Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik setelah terjadinya tragedi di beberapa kota pada bulan Agustus 2026. Tiga warga, termasuk seorang kru sound horeg, kehilangan nyawa akibat insiden yang terjadi pada saat parade musik tersebut. Kejadian ini memicu kritik keras dari tokoh masyarakat, khususnya Sahroni, yang menuntut evaluasi menyeluruh dari kepolisian dan pihak penyelenggara acara. Ia menegaskan bahwa budaya dan tradisi tetap harus dihormati, namun tidak boleh menempatkan keselamatan warga di atas segalanya.
Peristiwa Tragedi Sound System Horeg di Jawa Timur
Tragedi ini terjadi pada akhir bulan Agustus 2026, ketika parade sound horeg sedang berlangsung di beberapa wilayah Jawa Timur. Sejumlah insiden, termasuk kerusakan alat musik, kebakaran, dan kerusuhan kecil, menyebabkan tiga orang meninggal. Korban pertama, seorang kru sound horeg berusia 29 tahun di Jember, tewas saat alat musiknya mengalami kegagalan mekanis yang menimbulkan ledakan. Korban kedua dan ketiga adalah warga yang berada di sekitar lokasi, yang terbakar atau tertimpa benda jatuh akibat kerusakan peralatan.
Setelah insiden, pihak kepolisian memulai penyelidikan untuk menentukan penyebab pasti dan apakah ada kelalaian dalam pelaksanaan acara. Namun, proses investigasi ini masih berlangsung, dan masyarakat menuntut transparansi serta hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Reaksi Sahroni: Evaluasi dan Tindakan Tegas
Sahroni, yang dikenal sebagai tokoh masyarakat dan aktivis hak asasi manusia, mengungkapkan pandangannya dalam sebuah wawancara pada Rabu (2/9/2026). Ia menilai bahwa evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. “Pihak Polri harus dan wajib evaluasi acara sound horeg tersebut karena sudah memakan korban. Kalau tidak dievaluasi, semakin banyak korban ke depan,” ujarnya kepada wartawan.
Menurut Sahroni, budaya dan tradisi masyarakat memang harus dihormati, namun pelaksanaan kegiatan tidak boleh sampai membahayakan keselamatan warga. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan tanggung jawab sosial. “Kita hormati budaya, tapi jangan sampai memakan korban kembali ke depannya,” ujarnya.
Selain itu, Sahroni menuntut kepolisian menyelidiki dugaan kelalaian dalam pelaksanaan event tersebut. Ia menegaskan bahwa polisi harus mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak terulang. “Polisi wajib selidiki bilamana ada dugaan lalai dalam pelaksanaan event tersebut. Polisi harus bersikap tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.
Ia juga memperingatkan agar masyarakat maupun pihak penyelenggara tidak menormalisasi kegiatan budaya yang berujung pada hilangnya nyawa. “Jangan menormalisasi budaya mengakibatkan meninggalnya seseorang. Itu sangat menyedihkan,” tutur Sahroni.
Dampak Sosial dan Peran Media
Tragedi ini menimbulkan rasa duka yang mendalam di kalangan masyarakat Jawa Timur. Banyak keluarga yang kehilangan anggota terdekat, dan komunitas yang terlibat dalam tradisi sound horeg kini berada dalam kondisi emosional yang rapuh. Kejadian ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan regulasi acara budaya di wilayah tersebut.
Media lokal dan nasional mulai melaporkan insiden ini, menyoroti pentingnya penegakan hukum dan kebijakan yang lebih ketat. Namun, tetap diingat bahwa semua informasi yang disampaikan harus didasarkan pada fakta yang ada, tanpa menambah atau menyesatkan data.
Langkah-Langkah Evaluasi dan Peningkatan Keamanan
Evaluasi menyeluruh yang diminta oleh Sahroni akan mencakup beberapa aspek penting. Pertama, analisis teknis terhadap peralatan sound horeg yang digunakan, termasuk mekanisme keselamatan dan prosedur pemeliharaan. Kedua, penilaian prosedur keamanan acara, seperti pengaturan jalur lalu lintas, penempatan peralatan, dan kesiapan petugas medis. Ketiga, peninjauan kebijakan regulasi acara budaya di tingkat lokal dan provinsi, termasuk persyaratan izin, standar keselamatan, dan mekanisme pelaporan insiden.
Selain itu, pihak kepolisian diharapkan melakukan audit internal terhadap proses persetujuan dan pengawasan acara. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada kelalaian administratif yang dapat memperburuk situasi. Evaluasi juga harus melibatkan stakeholder, termasuk komunitas lokal, penyelenggara acara, dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kepentingan dalam pelestarian budaya.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Tragedi sound system horeg di Jawa Timur menjadi peringatan penting bagi semua pihak terkait. Kejadian ini menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh mengorbankan keselamatan manusia. Evaluasi menyeluruh yang diminta oleh Sahroni menjadi langkah awal untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Melalui peninjauan prosedur teknis, keamanan, dan regulasi, diharapkan dapat tercipta standar baru yang lebih ketat namun tetap menghormati tradisi.
Semangat kebersamaan dan rasa tanggung jawab akan menjadi kunci untuk memperbaiki sistem ini. Dengan kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, komunitas, dan media, harapannya tidak ada lagi korban yang hilang dalam perayaan budaya yang seharusnya menjadi kebanggaan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://news.detik.com/berita/d-8644411/sahroni-minta-polisi-evaluasi-acara-sound-horeg-usai-3-warga-jatim-tewas, without altering the facts of the original article.