Impor RI Meroket, Waspada Dampaknya ke Ekonomi dan Rupiah

Impor Indonesia meroket pada Mei 2026 dengan pertumbuhan mencapai 22,16% secara tahunan, menjadi US$24,81 miliar dari US$20,31 miliar pada Mei 2025. Sementara itu, ekspor justru melorot sebesar 5,73% dari US$24,61 miliar menjadi US$23,20 miliar. Kondisi ini menyebabkan neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, menjadi defisit pertama sejak April 2020.

Kinerja Impor yang Meningkat

Kinerja impor Indonesia mengalami peningkatan pesat pada Mei 2026. Pertumbuhan impor terbesar berasal dari kelompok penggunaan bahan baku atau penolong yang mencapai 25,17% dengan porsi terhadap total impor mencapai 71,32%. Selanjutnya, barang konsumsi meningkat 21,99% dengan porsi hanya 8,81%, dan barang modal yang mengalami pertumbuhan sebesar 12,70% dengan porsi terhadap total impor 19,87%.

Mengapa Impor Meningkat?

Pertumbuhan impor yang meningkat memberikan sinyal akan tumbuh kencangnya laju ekonomi Indonesia, yang tengah didorong pemerintah hingga bisa tembus 6% pada 2026. Menurut Kepala Riset Ekonomi Makro dan Pasar PermataBank, Faisal Rachman, struktur impor Indonesia sekitar 70% adalah bahan baku, 20% barang modal, dan sisanya barang konsumsi. “Jadi, mostly impor kita itu barang input,” katanya.

Dampak Impor terhadap Ekonomi dan Rupiah

Peningkatan impor dapat berdampak negatif pada stabilitas ekonomi dan kurs rupiah. Menurut Faisal Rachman, bila pertumbuhan impor terus membesar, otomatis akan memperlebar defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) karena ekspor Indonesia justru sedang ada tekanan dari ketidakpastian global. Akibatnya, bisa berujung pada terus tertekannya kurs rupiah. Pada penutupan perdagangan 1 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan masih bertengger di zona merah.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, bila laju impor yang banyak digunakan sebagai bahan baku sektor manufaktur tidak diimbangi dengan kinerja ekspor, yang ada justru bisa menekan laju pertumbuhan ke depannya. “Maka pertumbuhan ekonomi jadinya di triwulan kedua, ini akan mengalami pelemahan yang sangat signifikan dibandingkan dengan triwulan pertama,” ungkapnya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Peningkatan impor Indonesia dapat menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi, namun juga perlu diwaspadai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan kurs rupiah. Pemerintah perlu memperhatikan kinerja ekspor dan impor untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan stabilitas ekonomi. Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260702052310-4-747337/impor-naik-tanda-ekonomi-ri-mau-ngebut-tapi-awas-rupiah-jadi-korban, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *