Tragedi Mal Runtuh: 502 Nyawa Melayang, Bos Diduga Abai Perawatan
Tragedi Mal Runtuh: 502 Nyawa Melayang
Tragedi runtuhnya Mal Sampoong Department Store di Korea Selatan pada 29 Juni 1995 masih menjadi salah satu kejadian paling memilukan dalam sejarah. Mal terbesar di Korea Selatan itu runtuh hanya karena bosnya tidak mau memperbaiki gedung meski retakan besar sudah muncul di berbagai sudut bangunan. Akibatnya, 1.500 pengunjung terkubur dan 502 orang tewas. Kejadian ini terjadi tepat 31 tahun yang lalu.
Momen Penentu di Menit Akhir
Mengutip laporan investigasi, pengelola Sampoong Department Store sebenarnya sudah mengetahui kondisi gedung berada dalam bahaya sejak 3 bulan sebelumnya. Pada April 1995, tanda-tanda kerusakan sudah muncul. Terlihat jelas retakan panjang di atap dan dinding lantai lima. Namun, alih-alih melakukan pemeriksaan menyeluruh, pihak manajemen hanya memindahkan toko-toko di lantai tersebut ke lantai bawah. Operasional di empat lantai lainnya tetap berjalan seperti biasa. Puncaknya terjadi pada 29 Juni 1995. Hari itu, retakan semakin melebar dan merembet ke lantai empat. Lagi-lagi, dibanding menutup operasional mal yang sedang ramai, manajemen hanya menutup lantai empat dan mematikan pendingin ruangan di seluruh gedung. Alasannya, mereka tidak mau kehilangan keuntungan dari besarnya transaksi yang berlangsung hari itu.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Ironisnya, setelah tahu ada masalah, sejumlah petinggi manajemen justru memilih meninggalkan gedung. Sedangkan, ribuan pegawai tetap bekerja melayani pengunjung yang terus berdatangan. Mereka tidak mengetahui tingkat kerusakan bangunan dan hanya merasakan suasana semakin panas akibat AC yang dimatikan. Sampai akhirnya, sekitar pukul 17.50 waktu setempat, suara retakan dan gemuruh mulai terdengar dari dalam gedung. Pengunjung panik dan berlarian menuju pintu keluar. Alarm bahaya dibunyikan, tetapi semuanya sudah terlambat. Tujuh menit kemudian, bangunan tersebut runtuh hanya dalam waktu sekitar 20 detik dan menimbun lebih dari 1.500 orang di bawah reruntuhan. Tim penyelamat akhirnya berhasil mengevakuasi 937 korban luka dan menemukan 502 korban meninggal dunia. Enam orang lainnya tidak pernah ditemukan.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Investigasi kemudian menyimpulkan keruntuhan Sampoong disebabkan kombinasi buruknya perencanaan konstruksi dan kelalaian pengelola dalam menjaga keselamatan bangunan. Lahan tempat berdirinya Sampoong merupakan bekas tempat pembuangan sampah yang dinilai tidak cukup stabil untuk menopang pusat perbelanjaan besar. Kontraktor awal sebenarnya telah memperingatkan risiko pembangunan di atas lahan tersebut dan mengusulkan proyek apartemen dengan struktur beton yang lebih kuat. Namun, pemilik Sampoong, Lee Joon, menolak usulan itu dan tetap memaksa pembangunan pusat perbelanjaan. Saat kontraktor menolak mengikuti rancangannya karena alasan keselamatan, Lee Joon memilih memecatnya dan menggantinya dengan kontraktor lain yang bersedia menjalankan keinginannya. Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Lee Joon dan tujuh tahun penjara kepada putranya, Lee Han-Sang.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi pengelola bangunan dan pusat perbelanjaan untuk memprioritaskan keselamatan dan melakukan perawatan rutin untuk mencegah kejadian serupa terulang. Selain itu, kejadian ini juga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu waspada dan memperhatikan lingkungan sekitar. Dengan memahami apa yang terjadi dan bagaimana pencegahannya, kita dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260629101957-25-746431/mal-terbesar-runtuh-gegara-bos-ogah-perbaiki-gedung-502-orang-tewas, without altering the facts of the original article.