Dolar AS Kembali Mengancam, Kurs Rp18.000 Terancam Tembus Lagi

Dolar AS kembali mengancam nilai tukar rupiah, dengan kurs Rp18.000 yang terancam tembus lagi pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Memasuki bulan baru, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada level Rp17.950/US$. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga ditutup melemah 0,22% ke posisi Rp17.875/US$.

Faktor yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah terjadi di tengah dolar AS yang masih menunjukkan tenaga di pasar global. Dolar AS cenderung bertahan kuat seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Ekspektasi tersebut ikut ditopang oleh data lowongan kerja AS yang masih solid dan menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam.

Jumlah lowongan kerja pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta, serta berada di atas data April yang direvisi menjadi 7,585 juta. Data tenaga kerja yang masih kuat membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan The Fed. Setelah menahan suku bunga pada rapat Juni di kisaran 3,50%-3,75%, sejumlah pejabat The Fed masih membuka ruang kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini.

Proyeksi Pasar dan Dampaknya

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli berada di 33,70%, sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini mencapai 66,30%. Penguatan dolar AS masih tertahan oleh meredanya kekhawatiran pasokan minyak global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan meningkat, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak mulai berkurang.

Kondisi ini ikut menahan tekanan inflasi berbasis energi. Dari dalam negeri, pasar kini menanti rilis data inflasi Juni 2026 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) siang nanti. Konsensus pasar yang dihimpun dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan naik atau mengalami inflasi 0,30% secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Juni 2026. Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,2%.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Data inflasi ini akan menjadi salah satu acuan penting bagi Bank Indonesia (BI) dalam merumuskan arah kebijakan moneter, termasuk dalam pengambilan keputusan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini. Pelemahan rupiah dan potensi kenaikan suku bunga The Fed dapat berdampak pada perekonomian Indonesia, terutama dalam hal pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar.

Rupiah harus tetap dijaga stabilitasnya untuk mencegah dampak lanjutan dari pelemahan nilai tukar. Bank Indonesia dan pemerintah harus terus memantau situasi dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kedepannya, rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan dari dolar AS yang kuat. Oleh karena itu, BI dan pemerintah harus terus bekerja sama untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas ekonomi. Dengan demikian, Indonesia dapat terus meningkatkan pertumbuhan ekonominya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260701083321-17-747035/breaking-news-dolar-as-kembali-dekati-rp18000, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *