Raksasa Teknologi Dibongkar: Kondisi Kerja yang Mengerikan di Balik Kejayaan
**Raksasa Teknologi Dibongkar: Kondisi Kerja yang Mengerikan di Balik Kejayaan** Pada 2018, sekitar 20.000 karyawan Google di seluruh dunia menggelar aksi walkout massal untuk memprotes penanganan kasus pelecehan seksual oleh eksekutif perusahaan dan serangkaian kebijakan internal yang dinilai tidak adil. Aksi mogok massal ini dipimpin oleh Claire Stapleton, mantan spesialis komunikasi yang pernah dijuluki “Bard of Google” karena kepiawaiannya menyampaikan nilai-nilai perusahaan. Namun, hanya enam bulan pasca-aksi tersebut, Stapleton memilih hengkang, mengklaim mendapat tindakan balasan (retaliation) berupa demosi jabatan. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada 2011, Larry Page mengambil alih posisi CEO dari Eric Schmidt. Meskipun Page mengusung narasi besar bahwa Google akan menyelesaikan masalah dunia, struktur organisasi justru membengkak secara birokratis. Setiap eksekutif diberi tim komunikasi sendiri-sendiri, dan departemen pemasaran membesar secara drastis. Perusahaan dinilai kehilangan fokus inovasi dan hanya sibuk mengejar kompetitor. “Google berubah menjadi ‘Borg’ yang tambun dan birokratis. Tiba-tiba saja Google hanya ingin terlihat keren seperti Apple,” tegasnya. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Claire Stapleton bergabung dengan Google pada 2007 setelah lulus kuliah. Awalnya, ia merasa seperti mendapat “tiket emas” di pabrik cokelat Willy Wonka. Kariernya melesat cepat hingga ia memegang peran penting dalam merancang citra publik Google. Namun, pandangannya mulai goyah ketika dipindahkan ke Google Creative Lab di New York. Lingkungan tersebut ia gambarkan sebagai gabungan antara utopia dan distopia yang memaksakan paham “tekno-optimisme”. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Stapleton mengidentifikasi perubahan besar Google terjadi pada 2011, saat Larry Page mengambil alih posisi CEO dari Eric Schmidt. Perusahaan yang dulunya ramah karyawan berubah menjadi beracun. Tolok ukur empati yang semula diagungkan justru dianggap sebagai kelemahan, sementara divisi Human Resources (HR) gagal melindungi pekerja dari kesewenang-wenangan manajemen. Stapleton berharap dapat membongkar ilusi industri Big Tech yang selama ini dicitrakan sebagai “pahlawan” perubahan sosial, sekaligus mendorong para pekerja teknologi untuk lebih kritis terhadap kekuatan korporasi besar. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Stapleton melalui penelusuran rekam jejak pesan lama sang kakak, Scott, yang meninggal mendadak pada 2008 akibat kecelakaan sepeda motor. Saat itu, budaya kerja Google yang menuntut performa tinggi justru membuatnya melarikan diri ke dalam pekerjaan untuk menutupi rasa duka. Proses penulisan buku ini memaksa Stapleton untuk kembali menghadapi masa-masa kelam tersebut. Melalui buku ini, Stapleton berharap dapat membantu para pekerja teknologi untuk lebih sadar akan kondisi kerja yang mengerikan di balik kejayaan perusahaan besar.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260812162916-37-758653/bocoran-ordal-ungkap-kondisi-kerja-bak-neraka-di-raksasa-teknologi, without altering the facts of the original article.