3 Warga Negara Indonesia Terluka Berat Setelah Bom Atom Meledak di Jepang
**3 Warga Negara Indonesia Terluka Berat Setelah Bom Atom Meledak di Jepang** **Pembuka** Terdapat tiga warga negara Indonesia yang terluka berat setelah bom atom meledak di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Mereka adalah Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya, yang semuanya merupakan mahasiswa penerima beasiswa pemerintah Jepang. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pagi itu, ketiganya menjalani aktivitas seperti biasa. Arifin Bey yang sedang mengikuti kuliah fisika ketika tiba-tiba melihat cahaya menyambar dari arah jendela. Cahaya tersebut ibarat kilat, tapi tidak membawa bunyi apa pun. Beberapa detik kemudian, gelombang panas menghantam ruang kelas. Dinding runtuh dan Arifin kehilangan kesadaran. Di lokasi lain, Sagala juga mendengar suara pesawat yang diikuti cahaya menyilaukan. Belakangan diketahui pesawat tersebut adalah Enola Gay B-29 yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Saat sadar, Sagala mendapati tubuhnya hangus akibat panas ledakan, sementara tubuhnya masih terjepit reruntuhan bangunan. Di sisi lain, Arifin melihat Hiroshima telah berubah menjadi lautan api dengan korban bergelimpangan di mana-mana. “Seakan-akan sudah maghrib,” kenang Arifin. Di tengah kekacauan itu, Arifin bertemu Hasan Rahaya yang baru saja berhasil menarik Sagala dari tumpukan puing yang masih membara. Ketiganya kemudian berusaha menyelamatkan diri. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Selama penyelamatan, Arifin menyaksikan banyak korban mengalami luka bakar mengerikan hingga kulit tangan mereka mengelupas. “Rupanya cahaya yang menyambar itu telah ‘menguliti’ bagian tangannya yang tidak tertutup lengan baju, dan kulit tangan itu menggantung sehingga tampak seperti mengenakan sarung tangan,” kenangnya dalam memoar Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, Sekitar Perang Pasifik 1942-1945 (1990). Kengerian Hiroshima juga diingat penyintas Kurihara Meiko yang diselamatkan mahasiswa Indonesia. “Situasinya sungguh buruk. Di dekat kami, jasad-jasad bertumpukan dan terbakar. Baunya aneh-seperti ikan terbakar,” ujarnya kepada NHK, dikutip Kamis (6/8/2026). **Apa yang Terjadi Setelahnya** Setelah dievakuasi ke Tokyo, dokter menyatakan ketiganya terpapar radiasi dalam kadar sangat tinggi. Akibatnya, jumlah sel darah putih mereka turun hingga di bawah 4.000 per mikroliter darah, jauh di bawah kisaran normal 4.000-11.000. Kondisi mereka pun dinyatakan kritis. Sagala bahkan disebut memiliki peluang hidup yang sangat kecil. Dokter akhirnya mengaku tak sanggup lagi memberikan pengobatan. Para penyintas diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut dokter apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Beruntung, mereka berhasil melewati masa kritis setelah sekitar satu pekan. Selama lima tahun berikutnya, kondisi kesehatan mereka terus dipantau sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Sepulang dari Jepang, Sagala mendirikan perusahaan mi instan pertama di Indonesia dengan merek Supermie pada 1969. Kehidupan mereka setelah peristiwa tersebut adalah contoh bagaimana manusia dapat bangkit dari kehancuran dan melanjutkan hidupnya dengan keberanian dan semangat.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260806090819-25-756991/saat-3-wni-jadi-korban-bom-atom-di-jepang-kulit-terbakar-nyaris-tewas, without altering the facts of the original article.