3 WNI Terluka Parah Akibat Bom Atom di Jepang, Kulit Terbakar-Nyaris Tewas

**3 WNI Terluka Parah Akibat Bom Atom di Jepang, Kulit Terbakar-Nyaris Tewas** **Momen Penentu di Menit Akhir** Hari ini, tanggal 6 Agustus, adalah hari yang sangat bersejarah. 81 tahun yang lalu, pada hari yang sama, bom atom menghancurkan kota Hiroshima, Jepang, dengan kehancuran yang tak terkalahkan. Dalam ledakan itu, 120 ribu orang tewas, dan jutaan lainnya sakit parah. Tiga mahasiswa asal Indonesia, Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya, merupakan korban dari ledakan tersebut. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Dua mahasiswa tersebut adalah penerima beasiswa pemerintah Jepang, Nanpo Tokubetsu Ryogakusei (Nantoku), yang bertujuan untuk menarik perhatian pemuda Indonesia agar menimba ilmu dan kelak membangun Tanah Air. Mereka sedang menjalani aktivitas seperti biasa pada pagi itu, ketika ledakan bom atom terjadi. Arifin Bey, yang sedang mengikuti kuliah fisika, melihat cahaya menyambar dari arah jendela. Beberapa detik kemudian, gelombang panas menghantam ruang kelas, dan Arifin kehilangan kesadaran. Sagala juga mendengar suara pesawat yang diikuti cahaya menyilaukan. Belakangan diketahui pesawat tersebut adalah Enola Gay B-29 yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima. “Tiba-tiba terdengar suara aneh dan…. sraatt, sinar berkilau, dengan dahsyat dan mengejutkan!” tutur Sagala dalam memoar Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, Sekitar Perang Pasifik 1942-1945 (1990). **Apa Artinya Ini ke Depan?** Setelah ledakan bom atom, ketiganya berusaha menyelamatkan diri. Selama penyelamatan, Arifin menyaksikan banyak korban mengalami luka bakar mengerikan hingga kulit tangan mereka mengelupas. “Rupanya cahaya yang menyambar itu telah ‘menguliti’ bagian tangannya yang tidak tertutup lengan baju, dan kulit tangan itu menggantung sehingga tampak seperti mengenakan sarung tangan,” kenangnya dalam memoar Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, Sekitar Perang Pasifik 1942-1945 (1990). Para penyintas diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut dokter apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. “Pernyataan itu ditandatangani dan pasrah,” kenang Arifin Bey dalam Bom Atom di Atas Hiroshima (1989). Beruntung, mereka berhasil melewati masa kritis setelah sekitar satu pekan. Selama lima tahun berikutnya, kondisi kesehatan mereka terus dipantau sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Sagala bahkan disebut memiliki peluang hidup yang sangat kecil. Dokter akhirnya mengaku tak sanggup lagi memberikan pengobatan. Para penyintas diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut dokter apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. “Pernyataan itu ditandatangani dan pasrah,” kenang Arifin Bey dalam Bom Atom di Atas Hiroshima (1989). Setelah kembali ke Indonesia, Sagala mendirikan perusahaan mi instan pertama di Indonesia dengan merek Supermie pada 1969. Kisah mereka merupakan contoh dari keberanian dan semangat hidup yang tak pernah tergoyahkan oleh kehancuran. Mereka merupakan inspirasi bagi kita semua untuk terus maju dan tidak pernah menyerah. **Referensi:** MFakhriansyah, CNBC Indonesia 06 Agustus 2026 11:50 Foto: Bom Hiroshima dan Nagasaki (AP Photo, File) Sejarawan Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia (2023) Kurihara Meiko kepada NHK, dikutip Kamis (6/8/2026) Arifin Bey dalam memoar Bom Atom di Atas Hiroshima: Suatu Pengalaman Nyata (1986) Sagala dalam memoar Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, Sekitar Perang Pasifik 1942-1945 (1990)

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260806090819-25-756991/saat-3-wni-jadi-korban-bom-atom-di-jepang-kulit-terbakar-nyaris-tewas, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *