3 Prajurit TNI dan 5 Awak Tewas dalam Tragedi Pesawat Angkut Obat di Yogyakarta
Yogyakarta, 29 Juli 2026 – Sebuah tragedi yang terjadi 79 tahun lalu di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, masih memilukan hingga saat ini. Pada tanggal 29 Juli 1947, pesawat Dakota berlogo Palang Merah yang membawa obat-obatan untuk korban perang justru ditembak jatuh oleh Belanda saat hendak mendarat. Delapan orang tewas, termasuk tiga prajurit TNI dan lima awak, dalam insiden ini.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Menurut kesaksian sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid V (1949), pesawat Dakota VT-CLA tersebut dicarter pemerintah Indonesia untuk menjalankan penerbangan darurat dari Singapura menuju Yogyakarta. Misinya membawa obat-obatan sumbangan pengusaha India, Mr. Patnaik, yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Bantuan itu sangat dibutuhkan karena Agresi Militer Belanda I yang dimulai pada 21 Juli 1947 telah menimbulkan banyak korban luka di berbagai daerah. Setelah menempuh perjalanan dari Singapura, pesawat tiba-tiba disergap pesawat tempur Belanda saat hendak mendarat. Meski badan pesawat telah diberi lambang Palang Merah sebagai penanda misi kemanusiaan, rentetan tembakan tetap dilepaskan. Pesawat langsung kehilangan kendali dan jatuh di persawahan hingga meledak dan patah menjadi dua. Seluruh bantuan obat hangus. Sebagian besar awak tewas dalam peristiwa tersebut. Korban terdiri atas tiga prajurit TNI Angkatan Udara, yakni Agustinus Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo Wiryokusumo. Sementara awak lain, yakni Zainal Arifin, pilot berkebangsaan Australia Alexandre Noel Constantine beserta istrinya, kopilot asal Inggris Roy Hazelhurst, serta teknisi asal India Bhida Ram.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Penembakan terhadap pesawat berlogo Palang Merah itu tak hanya memicu kecaman dari Indonesia, tetapi juga Australia, Inggris, dan India. Ini terjadi karena ada warga negara mereka menjadi korban tewas. Keempat negara kemudian mendesak Belanda menghentikan pertempuran dan menuntut ganti rugi. Menurut sejarah, peristiwa ini memicu adanya resolusi PBB untuk menghentikan operasi militer Belanda. Namun, bagi Indonesia, peristiwa itu meninggalkan luka mendalam karena harus kehilangan sejumlah putra terbaik bangsa yang gugur dalam misi kemanusiaan tersebut. Tiga prajurit TNI AU yang gugur, yakni Agustinus Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo Wiryokusumo, diabadikan menjadi nama bandara di Yogyakarta, Malang, dan Solo. Ketiganya juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Sementara setiap 29 Juli kini diperingati sebagai Hari Bhakti TNI Angkatan Udara sebagai penghormatan atas pengorbanan mereka dalam menjalankan misi kemanusiaan dan mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran tentang pentingnya menghormati hak asasi manusia, bahkan di tengah konflik. Sejarah ini juga mengingatkan kita tentang peran penting yang dimainkan oleh negara-negara lain dalam menuntut keadilan dan menghentikan kekerasan. Dengan mengetahui dan memahami sejarah ini, kita dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan membangun masa depan yang lebih baik untuk semua.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260728150155-25-754444/pesawat-angkut-obat-jatuh-di-yogyakarta-3-prajurit-tni-5-awak-tewas, without altering the facts of the original article.