Menkomdigi Peringatkan Modus Radikalisme Baru yang Mengincar Anak-Anak dengan Berkedok Bantuan

Modus Radikalisme Baru yang Mengincar Anak-Anak dengan Berkedok Bantuan

Pemerintah kini menangkap adanya modus radikalisme baru yang menggunakan cara yang lebih halus untuk mengincar anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa kelompok ekstremis tidak lagi menggunakan narasi kebencian atau kekerasan terbuka untuk menggaet korban, melainkan melalui tawaran bantuan dan kedekatan personal.

Menurut Meutya, modus anyar ini mengincar kelompok rentan, terutama anak-anak, dengan cara membangun kepercayaan terlebih dahulu sebelum menyisipkan paham radikal. “Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan,” kata Meutya. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem.

Iming-iming yang diberikan acap kali menyasar kebutuhan mendasar calon korban. Namun, janji-janji manis tersebut hanya menjadi pintu masuk manipulasi. “Janji-janji kesejahteraan tersebut hanya untuk membangun kepercayaan, bukan untuk memenuhi kebutuhan mendasar,” kata Meutya.

Meutya mencontohkan, iming-iming yang diberikan acap kali menyasar kebutuhan mendasar calon korban. Namun, janji-janji manis tersebut hanya menjadi pintu masuk manipulasi. “Janji-janji kesejahteraan tersebut hanya untuk membangun kepercayaan, bukan untuk memenuhi kebutuhan mendasar,” kata Meutya.

Pemerintah kini menangkap adanya modus radikalisme baru yang menggunakan cara yang lebih halus untuk mengincar anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa kelompok ekstremis tidak lagi menggunakan narasi kebencian atau kekerasan terbuka untuk menggaet korban, melainkan melalui tawaran bantuan dan kedekatan personal.

Modus anyar ini mengincar kelompok rentan, terutama anak-anak, dengan cara membangun kepercayaan terlebih dahulu sebelum menyisipkan paham radikal. “Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan,” kata Meutya. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem.

Pemerintah kini menangkap adanya modus radikalisme baru yang menggunakan cara yang lebih halus untuk mengincar anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa kelompok ekstremis tidak lagi menggunakan narasi kebencian atau kekerasan terbuka untuk menggaet korban, melainkan melalui tawaran bantuan dan kedekatan personal.

Dampak dari modus radikalisme ini sangatlah serius. Anak-anak yang rentan menjadi korban dari kelompok ekstremis ini dapat dipengaruhi oleh paham radikal dan dapat berakibat pada kekerasan dan kebencian. Pemerintah harus meningkatkan upaya untuk mencegah dan mengatasi modus radikalisme ini.

Pemerintah kini menangkap adanya modus radikalisme baru yang menggunakan cara yang lebih halus untuk mengincar anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa kelompok ekstremis tidak lagi menggunakan narasi kebencian atau kekerasan terbuka untuk menggaet korban, melainkan melalui tawaran bantuan dan kedekatan personal.

Modus anyar ini mengincar kelompok rentan, terutama anak-anak, dengan cara membangun kepercayaan terlebih dahulu sebelum menyisipkan paham radikal. “Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan,” kata Meutya. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem.

Anak-anak harus dilindungi dari modus radikalisme ini. Pemerintah harus meningkatkan upaya untuk mencegah dan mengatasi modus radikalisme ini. Orang tua dan masyarakat haruslah lebih waspada dan tidak mudah percaya pada tawaran bantuan yang tidak jelas.

Demikian informasi mengenai modus radikalisme baru yang menggunakan cara yang lebih halus untuk mengincar anak-anak. Pemerintah haruslah meningkatkan upaya untuk mencegah dan mengatasi modus radikalisme ini.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on the original news source, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *