BSI Sukses Tuntaskan Transformasi IT, Posisi sebagai Big Bank Baru RI Kian Kuat

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) telah sukses menyelesaikan transformasi sistem Information Technology (IT) sebagai pondasi percepatan bisnis dan penguatan layanan digital. Transformasi ini merupakan bagian dari agenda strategis BSI selama satu tahun terakhir yang dijalankan dengan dukungan dan supervisi Danantara. Dengan transformasi ini, BSI siap memasuki fase pertumbuhan berikutnya dan memperkuat posisinya sebagai big bank baru di Indonesia.

Transformasi IT yang Sukses

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan transformasi teknologi menjadi kebutuhan strategis seiring pesatnya digitalisasi industri keuangan dan pertumbuhan bisnis BSI. BSI memiliki potensi tumbuh sangat besar dan saat ini berdampingan dengan bank besar karena sudah masuk 5 besar bank di Indonesia. Ekspektasi nasabah adalah layanan dan sistem yang sama dengan bank besar, sehingga BSI berupaya menyediakan layanan setara sesuai ekspektasi nasabah.

Transformasi IT ini juga akan menjadi langkah BSI mencapai visi menjadi Top 5 Global Islamic bank serta aspirasi memiliki nasabah 40 juta tahun 2030. Selama proses transformasi, Danantara berperan aktif memberikan arahan strategis, supervisi, serta memastikan implementasi transformasi berjalan sesuai prinsip tata kelola dan manajemen risiko.

Momen Penentu di Menit Akhir

Migrasi core banking dari R10 ke R24 yang rampung pada pertengahan Mei 2026 menjadi salah satu proyek teknologi terbesar BSI dengan melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi. Seluruh proses dilakukan secara bertahap melalui berbagai rehearsal, dengan pengawasan OJK dan Danantara untuk memastikan implementasi berjalan aman, terkendali, dan transparan.

Transformasi tersebut meningkatkan efisiensi operasional hingga sekitar 80 persen, mempercepat proses Close of Business (COB), serta memperbesar kapasitas sistem untuk mendukung ekspansi bisnis digital dan inovasi produk. Saat ini availability all channel BSI 99,99% sehingga transaksi melalui channel digital dan cabang berlangsung lancar.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan dukungan ekosistem yang semakin kuat bersama Danantara, transformasi teknologi yang telah selesai, serta model bisnis yang terus berkembang, BSI optimistis mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional sekaligus menghadirkan layanan keuangan yang semakin modern, inklusif, dan kompetitif. BSI terus memperkuat layanan digital melalui BYOND by BSI untuk segmen ritel dan BEWIZE by BSI bagi nasabah institusi/wholesale.

Hingga Mei 2026, layanan mobile banking BSI telah digunakan lebih dari 10 juta pengguna dengan nilai transaksi melampaui Rp450 triliun, sementara BEWIZE terus mencatat pertumbuhan pengguna dan transaksi sebagai penggerak bisnis wholesale. Transformasi teknologi dan ekspansi bisnis tersebut tercermin pada kinerja keuangan BSI yang tetap solid.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Hingga Mei 2026, BSI membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp3,39 triliun atau tumbuh 16,73 % (YOY). Total aset mencapai Rp444 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp37. Dengan transformasi IT yang sukses dan kinerja keuangan yang solid, BSI siap melanjutkan pertumbuhan dan memperkuat posisinya sebagai big bank baru di Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260702081547-17-747376/bsi–bris–tuntaskan-transformasi-it-siap-jadi-big-bank-baru-ri, without altering the facts of the original article.

Bursa Asia Kompak Anjlok, Kospi Korea Selatan Tercatat Ambrol 5,36%

Bursa Asia-Pasifik bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (3/7/2024), dengan indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan di kawasan dengan anjlok 5,36%. Penurunan tajam tersebut mendorong Korea Exchange (KRX) menghentikan sementara perdagangan selama lima menit guna meredam volatilitas pasar. Kospi Korea Selatan merupakan salah satu indeks yang paling melemah di kawasan Asia.

Faktor yang Mendorong Pelemahan

Pelemahan bursa Asia-Pasifik terjadi mengikuti penurunan yang terjadi di Wall Street seiring aksi ambil untung investor pada saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor. Indeks Dow Jones sempat melonjak 423,46 poin dan menyentuh rekor tertinggi intraday sebelum akhirnya memangkas seluruh kenaikan dan ditutup nyaris stagnan. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 0,2% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7%.

Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor. ETF VanEck Semiconductor (SMH) merosot 5,4%, sementara saham Micron Technology dan Sandisk masing-masing anjlok lebih dari 10%. Penurunan ini menunjukkan bahwa investor mulai mengurangi eksposur pada saham-saham produsen chip yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Strategist Ned Davis Research Rob Anderson menilai rotasi keluar dari saham semikonduktor merupakan perkembangan yang sehat bagi pasar saham. Menurutnya, salah satu ciri pasar bullish selama ini adalah terjadinya rotasi sektor yang berkelanjutan. Anderson mengatakan peralihan minat investor ke sektor siklikal non-komoditas dapat menjadi bukti tambahan bahwa pasar saham memasuki paruh kedua tahun ini dalam kondisi yang kuat.

Ia juga menilai tren tersebut membuka peluang berlanjutnya pasar bullish hingga jauh ke paruh kedua 2024. Namun, pelaku pasar kini juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk Juni. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan ekonomi AS menambah sekitar 115.000 lapangan kerja pada bulan lalu, yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter dan prospek pasar keuangan ke depan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kospi Korea Selatan dan indeks lainnya di Asia-Pasifik masih memiliki jalan panjang untuk pulih dari pelemahan yang terjadi. Namun, dengan adanya tanda-tanda bahwa pasar saham memasuki paruh kedua tahun ini dalam kondisi yang kuat, investor diharapkan dapat lebih optimis dalam menghadapi tantangan ke depan. Bursa Asia-Pasifik diperkirakan akan terus bergerak dalam rentang yang volatile, namun dengan adanya peluang untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260702083054-17-747379/bursa-asia-dibuka-di-zona-merah-kospi-korea-anjlok-536, without altering the facts of the original article.

IHSG Menghijau, Investor Asing Malah Berhamburan Lepas 10 Saham Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan awal Juli di zona hijau setelah turun dalam tiga hari terakhir. IHSG ditutup naik 51,93 poin atau 0,92% ke level 5.695,12 pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Namun, di balik kenaikan IHSG, investor asing malah melakukan aksi jual pada 10 saham tertentu.

Momen Kenaikan IHSG yang Tak Diikuti Asing

Nilai transaksi perdagangan Rabu (1/7/2026) mencapai Rp10,28 triliun, dengan 18,68 miliar saham diperdagangkan dalam 1,56 juta kali transaksi. Sebanyak 391 emiten bergerak naik, 263 turun, dan 305 stagnan. Sementara itu, asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp577,79 miliar, yang terdiri dari Rp548,44 miliar di pasar reguler dan Rp29,35 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

10 Saham yang Dilepas Asing

Menurut data dari Stockbit, berikut adalah 10 saham yang mengalami net foreign sell pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Sayangnya, data spesifik nama saham dan nilai transaksi tidak tersedia dalam referensi. Namun, aksi jual asing pada sejumlah saham ini menunjukkan bahwa investor asing masih memiliki strategi wait-and-see dalam melakukan investasi di pasar saham Indonesia.

Mengapa Asing Lepas Saham Ini?

Aksi jual asing pada sejumlah saham ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan sentimen pasar, kondisi keuangan perusahaan, dan prospek pertumbuhan ekonomi. Investor asing cenderung memiliki strategi investasi yang lebih konservatif dan memperhatikan faktor-faktor fundamental dalam membuat keputusan investasi.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Aksi jual asing pada sejumlah saham ini dapat berdampak pada pergerakan harga saham di pasar. Namun, IHSG yang masih berada di zona hijau menunjukkan bahwa investor domestik masih memiliki kepercayaan pada pasar saham Indonesia. Ke depan, investor perlu memperhatikan faktor-faktor fundamental dan sentimen pasar untuk membuat keputusan investasi yang tepat.

Jalan panjang masih harus ditempuh oleh investor dan perusahaan untuk meningkatkan kepercayaan dan stabilitas pasar. Dengan memperhatikan faktor-faktor fundamental dan sentimen pasar, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih tepat dan meningkatkan potensi keuntungan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260702083233-17-747384/ihsg-bergairah-asing-malah-lepas-10-saham-ini, without altering the facts of the original article.

Volatilitas IHSG Kian Meningkat, Saham-Saham Ini Justru Menarik Dilirik Investor

Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian meningkat, namun beberapa saham masih menarik dilirik investor. IHSG mengakhiri perdagangan Rabu (1/7) di zona hijau dengan kenaikan 0,92% ke level 5.695,12. Penguatan indeks terutama didorong oleh kenaikan saham BREN, TLKM, dan BRPT.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada perdagangan Rabu (1/7), IHSG ditutup dengan kenaikan 0,92% ke level 5.695,12. Aktivitas investor asing masih menunjukkan aksi jual bersih dengan nilai Rp548,44 miliar di pasar reguler dan Rp577,79 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral, tujuh dari sebelas sektor ditutup menguat, dipimpin sektor energi yang naik 2,61%, sementara sektor transportasi mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,91%.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun tipis 0,03%, S&P 500 terkoreksi 0,22%, dan Nasdaq turun 0,66%. Pelemahan tersebut dipengaruhi sejumlah sentimen, mulai dari defisit neraca perdagangan, kontraksi PMI manufaktur, hingga bertambahnya 16 saham yang dikenai suspensi karena belum menyampaikan laporan keuangan auditan tahun buku 2025 dan/atau belum menyelesaikan kewajiban pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Beberapa perusahaan tercatat melakukan aksi korporasi yang menarik perhatian investor. PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) mempercepat penyelesaian tiga proyek strategis di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara. Ketiga proyek tersebut meliputi pembangunan fasilitas pengolahan nikel Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) ketiga, pabrik pengolahan batu kapur menjadi quicklime, serta fasilitas daur ulang sisa hasil pengolahan (tailing recycling).

Selain itu, PT United Tractors Tbk. (UNTR) kembali melaksanakan program pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi dana maksimal Rp2 triliun yang berasal dari kas internal perseroan. Program ini berlangsung pada periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Sebelumnya, pada periode 1 April–30 Juni 2026, perseroan juga menyiapkan dana Rp2 triliun untuk buyback.

PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp25 per saham dengan total nilai sekitar Rp389,62 miliar. Nilai tersebut setara dengan dividend payout ratio sebesar 32,58% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan meningkatnya volatilitas IHSG, investor perlu lebih berhati-hati dalam memilih saham. Namun, beberapa saham yang telah menunjukkan kinerja baik dan memiliki prospek cerah masih menarik dilirik investor. Saham-saham seperti BREN, TLKM, dan BRPT yang telah mendorong penguatan IHSG pada perdagangan Rabu (1/7) masih menjadi perhatian.

Kinerja perusahaan tercatat seperti NCKL, UNTR, dan ERAA juga menjadi pertimbangan bagi investor. Dengan adanya aksi korporasi yang strategis, perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi meningkatkan kinerja dan menarik minat investor.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dalam jangka panjang, investor perlu memantau perkembangan perusahaan tercatat dan kondisi pasar global yang dapat mempengaruhi kinerja IHSG. Dengan demikian, investor dapat membuat keputusan yang tepat dan mengoptimalkan potensi keuntungan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260702082514-17-747378/ihsg-masih-volatil-deretan-saham-ini-menarik-buat-dilirik, without altering the facts of the original article.

Purbaya Bakal Luncurkan Coretax Versi Baru, Uji Coba Pekan Depan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bakal meluncurkan sistem layanan Coretax versi baru yang digadang-gadang lebih mudah dan efektif pada pekan depan. Sistem Coretax ini merupakan jawaban dari keluhan masyarakat terkait layanan di dalam Coretax yang dinilai masih belum ramah digunakan oleh masyarakat, terutama masalah kecepatan sistem.

Perbaikan Sistem Coretax

Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, mengungkapkan bahwa perbaikan dalam sistem Coretax ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan perpajakan. “Coretax terus kami perbarui dan perbaiki. Jadi case management yang memang agak melambat dan ada problem internal, kami selesaikan kemarin dari Jumat, Sabtu, dan Minggu lalu. Hari ini sudah mulai oke lagi. Minggu depan akan dilakukan tes oleh Pak Menteri (Purbaya Yudhi Sadewa),” kata Bimo.

Coretax pada awalnya dibangun pada 2018 dan baru diserahkan secara penuh sistem pengembangannya dari vendor pada awal 2026, sehingga perlu ada penyempurnaan lagi agar wajib pajak makin nyaman untuk menggunakannya sebagai media setor dan lapor perpajakan. Bimo menambahkan bahwa pihaknya telah memperbaiki efektivitas dari algoritma di Coretax, serta mengubah user interface agar lebih ramah ketika digunakan oleh wajib pajak.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Berikut adalah tiga fakta yang terkait dengan perbaikan sistem Coretax:

1. Jumlah wajib pajak (WP) yang telah melakukan aktivasi akun Coretax DJP mencapai 19.502.020, terdiri dari WP Orang Pribadi 18.264.418, WP Badan 1.145.478, WP Instansi Pemerintah 91.891, dan WP PMSE 233.

2. Perbaikan sistem Coretax ini merupakan jawaban dari keluhan masyarakat terkait layanan di dalam Coretax yang dinilai masih belum ramah digunakan oleh masyarakat, terutama masalah kecepatan sistem.

3. Pihaknya juga terus menyederhanakan dan memonitor agar Coretax bisa digunakan dengan nyaman oleh wajib pajak saat memenuhi kewajiban perpajakannya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan perbaikan sistem Coretax ini, diharapkan wajib pajak dapat menggunakan sistem tersebut dengan lebih nyaman dan efektif. Selain itu, perbaikan sistem ini juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan perpajakan dan memenuhi kewajiban perpajakan dengan lebih mudah.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski perbaikan sistem Coretax telah dilakukan, namun masih ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk meningkatkan kualitas layanan perpajakan. Pihaknya akan terus berusaha keras untuk menyederhanakan, memberikan kepastian dalam pelayanan dan juga mempercepat pelayanan perpajakan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260702061421-4-747340/purbaya-bakal-uji-coba-coretax-versi-baru-pekan-depan, without altering the facts of the original article.

Impor RI Meroket, Waspada Dampaknya ke Ekonomi dan Rupiah

Impor Indonesia meroket pada Mei 2026 dengan pertumbuhan mencapai 22,16% secara tahunan, menjadi US$24,81 miliar dari US$20,31 miliar pada Mei 2025. Sementara itu, ekspor justru melorot sebesar 5,73% dari US$24,61 miliar menjadi US$23,20 miliar. Kondisi ini menyebabkan neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, menjadi defisit pertama sejak April 2020.

Kinerja Impor yang Meningkat

Kinerja impor Indonesia mengalami peningkatan pesat pada Mei 2026. Pertumbuhan impor terbesar berasal dari kelompok penggunaan bahan baku atau penolong yang mencapai 25,17% dengan porsi terhadap total impor mencapai 71,32%. Selanjutnya, barang konsumsi meningkat 21,99% dengan porsi hanya 8,81%, dan barang modal yang mengalami pertumbuhan sebesar 12,70% dengan porsi terhadap total impor 19,87%.

Mengapa Impor Meningkat?

Pertumbuhan impor yang meningkat memberikan sinyal akan tumbuh kencangnya laju ekonomi Indonesia, yang tengah didorong pemerintah hingga bisa tembus 6% pada 2026. Menurut Kepala Riset Ekonomi Makro dan Pasar PermataBank, Faisal Rachman, struktur impor Indonesia sekitar 70% adalah bahan baku, 20% barang modal, dan sisanya barang konsumsi. “Jadi, mostly impor kita itu barang input,” katanya.

Dampak Impor terhadap Ekonomi dan Rupiah

Peningkatan impor dapat berdampak negatif pada stabilitas ekonomi dan kurs rupiah. Menurut Faisal Rachman, bila pertumbuhan impor terus membesar, otomatis akan memperlebar defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) karena ekspor Indonesia justru sedang ada tekanan dari ketidakpastian global. Akibatnya, bisa berujung pada terus tertekannya kurs rupiah. Pada penutupan perdagangan 1 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan masih bertengger di zona merah.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, bila laju impor yang banyak digunakan sebagai bahan baku sektor manufaktur tidak diimbangi dengan kinerja ekspor, yang ada justru bisa menekan laju pertumbuhan ke depannya. “Maka pertumbuhan ekonomi jadinya di triwulan kedua, ini akan mengalami pelemahan yang sangat signifikan dibandingkan dengan triwulan pertama,” ungkapnya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Peningkatan impor Indonesia dapat menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi, namun juga perlu diwaspadai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan kurs rupiah. Pemerintah perlu memperhatikan kinerja ekspor dan impor untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan stabilitas ekonomi. Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260702052310-4-747337/impor-naik-tanda-ekonomi-ri-mau-ngebut-tapi-awas-rupiah-jadi-korban, without altering the facts of the original article.

Trump Kerek Keran Perang Dagang, 2 Negara Ini Kena Imbasnya

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memutuskan untuk tidak memperpanjang pakta perdagangan trilateral USMCA bersama Kanada dan Meksiko. Langkah proteksionis ini otomatis membuka pintu lebar bagi draf renegosiasi tahunan yang sangat ketat terhadap isi perjanjian tersebut. Dengan penolakan ini, USMCA memang akan tetap berlaku selama satu dekade ke depan sepanjang tidak ada anggota yang keluar, namun Washington kini memegang kendali untuk melakukan evaluasi tahunan guna merombak pakta. Trump Kerek Keran Perang Dagang, 2 Negara Ini Kena Imbasnya.

Momen Penentu di Menit Akhir

Keputusan krusial ini diumumkan tepat pada hari Rabu (1/07/2026) waktu setempat, yang merupakan draf tenggat waktu resmi bagi ketiga mitra dagang Amerika Utara untuk menentukan kelanjutan pakta berdurasi 16 tahun tersebut. “Trump memilih untuk tidak sekadar menyetujui perpanjangan USMCA tanpa menyelesaikan masalah yang ada saat ini,” ungkap seorang pejabat senior pemerintah dalam konferensi pers. “Dengan kata lain, Amerika Serikat tidak setuju untuk memperpanjang USMCA dalam bentuknya yang sekarang. Jadi, sebagai hasilnya, USMCA tidak diperpanjang.”

Apa yang Terjadi?

Fokus utama penolakan Trump berakar pada draf pembengkakan defisit perdagangan AS terhadap Kanada dan Meksiko yang dinilai merugikan ekonomi domestik. Sebelum draf tenggat waktu ini berakhir, Trump bahkan sudah mengubah peta hubungan dagang secara sepihak melalui draf pengenalan serangkaian tarif impor baru. Kepala Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat draf ketimpangan ini terus berlanjut. Pihaknya akan terus menekan kedua negara tetangga tersebut.

Mengapa dan Dampaknya

Perjanjian USMCA sendiri awalnya dinegosiasikan pada periode pertama kepemimpinan Trump untuk menggantikan pakta NAFTA yang telah berusia 26 tahun. Namun, antusiasme Trump dilaporkan anjlok drastis dalam beberapa waktu terakhir seiring memanasnya draf hubungan diplomatik Washington dengan Ottawa dan Kota Meksiko. Trump menilai AS tidak mendapatkan perlakuan yang adil dari kedua negara tetangganya tersebut. “Saya tidak tahu apakah saya akan memperpanjangnya,” ketus Trump pada bulan Juni lalu mengenai nasib USMCA. “Kita tidak membutuhkan apa pun yang dimiliki Kanada. Kita tidak membutuhkan apa pun yang dimiliki Meksiko, tetapi mereka membutuhkan semua yang kita miliki. Dan mereka harus memperlakukan kita dengan lebih baik.”

Dampak dari keputusan ini tentunya sangat besar bagi kedua negara tersebut. Dengan tidak diperpanjangnya USMCA, maka Kanada dan Meksiko harus siap untuk menghadapi perubahan besar dalam hubungan dagang mereka dengan AS. Mereka harus lebih siap untuk melakukan negosiasi ulang dan menerima ketentuan yang lebih ketat dari AS.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Hingga draf batas waktu 1 Juli berakhir, AS dan Meksiko dilaporkan telah memulai draf perundingan bilateral lanjutan. Di sisi lain, draf negosiasi serupa antara AS dan Kanada hingga saat ini belum dimulai sama sekali. Jalan panjang masih harus ditempuh oleh ketiga negara untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dengan keputusan Trump yang tidak memperpanjang USMCA, maka perang dagang antara AS dengan Kanada dan Meksiko berpotensi meningkat. Oleh karena itu, kita harus menunggu dan melihat bagaimana kelanjutan dari permasalahan ini.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260702072310-4-747362/breaking-perang-dagang-baru-lagi-2-negara-ini-kena-gebuk-trump, without altering the facts of the original article.

Bos Pajak Ungkap Laju Setoran Pajak Tumbuh 2 Digit, Jadi Berapa?

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat kinerja penerimaan pajak tumbuh 23% pada Januari hingga Juni 2026. Pertumbuhan penerimaan pajak ini menunjukkan peningkatan aktivitas masyarakat. Bos Pajak, Bimo Wijayanto, mengungkapkan bahwa realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juni 2026 telah mencapai sekitar 45% dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan target penerimaan pajak dalam APBN 2026 sebesar Rp 2.357,7 triliun, maka penerimaan pajak hingga Juni 2026 diperkirakan telah mencapai sekitar Rp 1.061 triliun.

Penerimaan Pajak Tumbuh 23%

Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, menuturkan bahwa penerimaan pajak masih tumbuh sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat. “Kami mencatat penerimaan pajak itu alhamdullilah sangat baik. Dari Januari sampai dengan Juni, kami mencatat kira-kira pertumbuhan itu 23% lebih,” katanya saat ditemui wartawan usai konferensi pers, Rabu (1/7/2026). Menurutnya, pertumbuhan penerimaan pajak ini menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat terus meningkat.

Realisasi Penerimaan Pajak Capai 45%

Bimo Wijayanto juga mengungkapkan bahwa realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juni 2026 telah mencapai sekitar 45% dari target yang ditetapkan dalam APBN. “Realisasi penerimaan pajak akhir Juni 2026 sekitar 45% ya, nanti finalnya mungkin di APBN kita ya,” kata Bimo. Dengan realisasi sekitar 45% hingga akhir Juni, maka penerimaan pajak diperkirakan telah mencapai sekitar Rp 1.061 triliun, meski angka tersebut masih berupa estimasi berdasarkan persentase yang disampaikan DJP.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pertumbuhan penerimaan pajak yang mencapai 23% hingga Juni 2026 menunjukkan bahwa pemerintah berhasil meningkatkan kinerja penerimaan pajak. Hal ini juga menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat terus meningkat, sehingga berdampak positif pada penerimaan pajak. Dengan realisasi penerimaan pajak yang telah mencapai 45% dari target APBN, pemerintah diharapkan dapat mencapai target penerimaan pajak yang ditetapkan sebesar Rp 2.357,7 triliun pada akhir tahun 2026.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski telah mencapai pertumbuhan penerimaan pajak yang signifikan, pemerintah masih harus terus meningkatkan kinerja penerimaan pajak untuk mencapai target yang ditetapkan. Pemerintah juga harus terus memantau dan mengevaluasi kinerja penerimaan pajak untuk memastikan bahwa target penerimaan pajak dapat tercapai. Dengan demikian, pemerintah dapat meningkatkan penerimaan pajak dan meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260702063735-4-747345/bos-pajak-ungkap-setoran-pajak-hingga-juni-tumbuh-double-digit, without altering the facts of the original article.

Ancaman Israel ke 3 Negara Ini Bikin Iran Geram, Dunia Kian Panas

Pemerintah Israel resmi mengumumkan keputusan militer terbaru mereka untuk mempertahankan pasukan tempurnya di wilayah pendudukan Gaza, Lebanon, dan Suriah secara permanen. Kebijakan pendudukan tanpa batas waktu ini diklaim sebagai langkah krusial untuk mempertahankan garis perbatasan luar negara tersebut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan tidak akan ada penarikan mundur militer dari wilayah Lebanon selatan sebelum kelompok milisi Hezbollah dilucuti sepenuhnya.

Ancaman Israel ke Iran

Katz juga melayangkan ancaman baru kepada pemerintah Iran. Ia menyebutkan bahwa Teheran akan dihantam dengan serangan militer dari Negeri Yahudi itu jika mengambil manuver yang bertentangan dengan niatan Israel. “Kami akan melakukan serangan dengan kekuatan penuh jika (Iran) nekat melakukan aksi pembalasan militer,” tuturnya. Peringatan keras ini senada dengan ikrar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu baru-baru ini bahwa ambisi Israel untuk meraih kemenangan total atas Iran dan kelompok sekutunya tidak akan pernah berakhir.

Apa yang Terjadi?

Pernyataan keras Katz ini muncul hanya berselang beberapa hari setelah pemerintah Lebanon mengambil langkah diplomasi. Beirut menandatangani perjanjian kerangka kerja yang didukung oleh Washington untuk mengakhiri pertempuran perbatasan. Namun, kesepakatan damai tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh kelompok Hizbullah. Pihak yang disokong Iran itu berargumen bahwa perjanjian itu hanya akan memberikan kebebasan bagi Israel untuk beroperasi di dalam wilayah Lebanon.

Israel sendiri tercatat mulai memperluas ofensif militernya di Lebanon sejak awal Maret lalu. Langkah ini diambil setelah Hezbollah menembakkan roket ke wilayah Israel selama perang antara AS-Israel melawan Iran berkecamuk. Agresi militer tersebut telah memicu krisis kemanusiaan yang sangat hebat. Serangan udara Israel sejauh ini telah menewaskan hampir 4.300 orang di Lebanon. Selain korban jiwa, serangan tersebut juga menghancurkan kehidupan warga sipil. Sekitar satu juta orang kini terpaksa mengungsi menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon dan PBB.

Mengapa dan Dampak

Kebijakan Israel untuk mempertahankan pasukan tempurnya di wilayah pendudukan Gaza, Lebanon, dan Suriah secara permanen merupakan langkah strategis untuk mempertahankan garis perbatasan luar negara tersebut. Namun, langkah ini juga berpotensi memicu konflik yang lebih luas dengan Iran dan kelompok sekutunya. Iran memasukkan poin krusial dalam diplomasi global mereka, yaitu penghentian operasi militer Israel di Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam negosiasi damai dengan Amerika Serikat.

Dampak dari kebijakan Israel ini juga dirasakan oleh warga sipil di Lebanon. Serangan udara Israel telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang sangat hebat, dengan hampir 4.300 orang tewas dan satu juta orang terpaksa mengungsi. Oleh karena itu, kebijakan Israel ini perlu dipertimbangkan secara matang untuk menghindari konflik yang lebih luas dan dampak kemanusiaan yang lebih besar.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kebijakan Israel untuk mempertahankan pasukan tempurnya di wilayah pendudukan Gaza, Lebanon, dan Suriah secara permanen merupakan langkah yang berpotensi memicu konflik yang lebih luas. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya diplomasi dan negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai yang dapat memenuhi kepentingan semua pihak. Jalan panjang yang masih harus ditempuh ini memerlukan komitmen dan kerja sama dari semua pihak untuk mencapai solusi yang damai dan berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260702072717-4-747364/israel-terang-terangan-mau-caplok-3-negara-ini-warning-keras-iran, without altering the facts of the original article.

Alarm Ekonomi Berbunyi: Surplus Neraca Dagang 72 Bulan Tamat

Surplus neraca perdagangan Indonesia akhirnya berakhir setelah bertahan selama 72 bulan sejak Mei 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit neraca perdagangan ini menjadi sinyal peringatan bagi perekonomian Indonesia, terutama terkait dengan melemahnya ekspor dan meningkatnya impor.

Faktor yang Mempengaruhi Defisit Neraca Perdagangan

Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei 2026 karena nilai ekspor yang turun 5,73% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$23,20 miliar, sementara impor naik 22,16% menjadi US$24,81 miliar. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa defisit neraca perdagangan ini adalah sinyal peringatan, bukan sekadar angka bulanan biasa. Masalah utamanya bukan hanya impor yang lebih tinggi dari ekspor, tetapi kombinasi antara ekspor yang melemah dan impor yang naik cukup agresif.

Dampak Defisit Neraca Perdagangan

Defisit neraca perdagangan ini memiliki dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Menurut Josua, bantalan eksternal Indonesia mulai menipis. Kenaikan impor bahan baku dan barang modal sebenarnya tidak selalu buruk jika dipakai untuk menaikkan produksi dan ekspor ke depan, tetapi menjadi masalah jika kenaikan impor lebih banyak bocor ke migas, barang konsumsi, atau bahan antara yang tidak cepat menghasilkan devisa. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga agar impor yang naik benar-benar produktif, mempercepat penguatan industri bahan baku dalam negeri, serta mendorong ekspor manufaktur bernilai tambah agar neraca perdagangan tidak semakin bergantung pada komoditas.

Upaya Pemerintah untuk Mengatasi Defisit Neraca Perdagangan

Pemerintah perlu memperkuat cadangan energi, mempercepat perbaikan kilang dan pengolahan dalam negeri, mendorong penghematan energi, memperluas energi alternatif, serta menata ulang kebijakan harga BBM agar tidak terlalu mendadak menekan rumah tangga dan industri. Selain itu, menjaga stabilitas nilai tukar menjadi hal utama saat ini, mengingat terjadi pelemahan pada kinerja ekspor. Ekonom BCA David Sumual mengatakan bahwa defisit neraca perdagangan saat ini mengindikasikan adanya perlambatan kinerja ekspor seiring permintaan impor yang tetap kuat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kondisi neraca perdagangan Indonesia ke depan masih belum pasti. Ekonom BTN Myrdal Gunarto mengatakan bahwa neraca perdagangan Juni 2026 memang agak berat, namun kondisinya relatif membaik. Myrdal memprediksi neraca perdagangan akan kembali surplus seiring melandainya harga minyak global. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku ekonomi perlu terus memantau perkembangan neraca perdagangan dan melakukan upaya yang tepat untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260702064454-4-747346/surplus-neraca-dagang-72-bulan-beruntun-tamat-alarm-ekonomi-berbunyi, without altering the facts of the original article.