Katarak, gangguan penglihatan yang menimbulkan kekeruhan pada lensa mata, sering dikaitkan dengan proses penuaan. Namun, fakta terbaru menunjukkan bahwa katarak tidak hanya menyerang lansia, melainkan juga 1 dari 4 penderita usia 30‑40 tahun yang berisiko tinggi karena faktor genetik dan diabetes.
Persepsi Umum tentang Katarak dan Realitas Baru
Selama bertahun‑tahun, katarak dianggap sebagai penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. Ketika lensa alami mata menjadi keruh, cahaya tidak dapat meneruskan sinyal secara optimal, sehingga penglihatan menjadi buram, silau, dan warna tampak kekuningan. Meskipun proses penuaan tetap menjadi faktor utama, penelitian baru menyoroti bahwa katarak dapat berkembang pada usia lebih muda ketika kondisi tertentu terpenuhi.
Menurut Dr. Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata di JEC Eye Hospitals and Clinics, katarak paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia. Namun, ia menekankan bahwa faktor lain seperti diabetes, riwayat cedera atau operasi mata, penggunaan obat tertentu, dan faktor genetik juga berperan penting. “Katarak memang paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi faktor yang memengaruhinya cukup beragam,” ujarnya.
Faktor Risiko Tersembunyi pada Penderita Muda
Di antara penderita katarak usia 30‑40 tahun, 25 persen ternyata memiliki risiko tinggi akibat kombinasi diabetes dan predisposisi genetik. Diabetes, penyakit yang memengaruhi regulasi gula darah, dapat merusak lensa mata dan mempercepat proses kekeruhan. Sementara itu, faktor genetik dapat memicu kondisi predisposisi yang membuat lensa lebih rentan terhadap kerusakan, meski belum ada penjelasan mekanisme spesifik.
Selain diabetes, riwayat cedera atau operasi mata juga menambah kemungkinan katarak pada usia muda. Trauma pada mata dapat merusak struktur lensa, sementara operasi yang melibatkan lensa dapat mempercepat proses penuaan. Penggunaan obat tertentu, seperti kortikosteroid jangka panjang, juga dapat meningkatkan risiko kekeruhan lensa.
Gejala yang Menyiratkan Katarak pada Usia Muda
Penderita katarak usia 30‑40 tahun sering kali mengabaikan gejala awal karena masih merasa aktif dan tidak memikirkan masalah mata. Namun, gejala umum seperti penglihatan buram, silau, dan warna yang tampak kekuningan dapat muncul lebih awal. Jika tidak ditangani, katarak dapat menyebabkan gangguan visual yang signifikan, mengganggu pekerjaan, dan mengurangi kualitas hidup.
Di klinik JEC, pasien muda yang mengalami gejala ini sering kali tidak segera melakukan pemeriksaan mata. Dr. Milzan menekankan pentingnya pemeriksaan rutin untuk menilai kondisi lensa, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti diabetes atau riwayat operasi mata. Pemeriksaan mata dapat mengidentifikasi kekeruhan lensa sejak dini, sehingga intervensi medis dapat dilakukan sebelum katarak berkembang menjadi lebih parah.
Konsekuensi Tidak Ditangani: Dari Silau hingga Kebutuhan Operasi
Tanpa penanganan, katarak dapat mempengaruhi aktivitas sehari‑hari. Penglihatan yang buram membuat sulit membaca, menavigasi kendaraan, atau melakukan pekerjaan yang memerlukan ketelitian visual. Silau yang meningkat dapat menyebabkan ketidaknyamanan saat menatap cahaya terang, seperti sinar matahari atau lampu lalu lintas. Warna yang tampak kekuningan dapat mengganggu persepsi visual, memengaruhi kemampuan mengenali objek atau warna yang penting dalam pekerjaan kreatif atau teknis.
Jika katarak berkembang lebih lanjut, pasien mungkin memerlukan operasi penggantian lensa. Prosedur ini melibatkan penggantian lensa alami yang keruh dengan lensa buatan. Meskipun operasi ini umumnya aman, risiko komplikasi tetap ada, terutama bagi pasien dengan kondisi medis lain seperti diabetes. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan mata menjadi kunci untuk mengurangi kebutuhan operasi dan meminimalkan risiko komplikasi.
Strategi Pencegahan dan Perawatan Katarak pada Usia Muda
Untuk menurunkan risiko katarak pada usia muda, penting untuk mengelola faktor risiko utama. Kontrol diabetes yang baik, menjaga kadar gula darah tetap stabil, dapat mengurangi kerusakan pada lensa. Hindari paparan sinar UV yang berlebihan dengan memakai kacamata hitam dan topi lebar saat berada di luar ruangan. Jika memiliki riwayat cedera atau operasi mata, lakukan pemeriksaan mata secara rutin untuk memantau kondisi lensa.
Penggunaan obat tertentu juga harus dipertimbangkan. Jika perlu menggunakan kortikosteroid jangka panjang, konsultasikan dengan dokter mata untuk memantau kemungkinan kekeruhan lensa. Selain itu, pemeriksaan mata secara berkala dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal katarak, memungkinkan intervensi lebih dini dan mengurangi risiko komplikasi.
Kesimpulan: Katarak Tidak Hanya Untuk Lansia
Katarak tetap menjadi kondisi yang paling sering dikaitkan dengan penuaan, namun data menunjukkan bahwa 1 dari 4 penderita usia 30‑40 tahun berada pada risiko tinggi karena faktor genetik dan diabetes. Faktor risiko tambahan seperti riwayat cedera, operasi mata, dan penggunaan obat tertentu memperkuat perlunya pemeriksaan mata rutin bagi semua kelompok usia. Dengan deteksi dini dan manajemen faktor risiko, katarak dapat diatasi sebelum menimbulkan gangguan visual serius atau memerlukan operasi.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260930122307-33-772094/katarak-tak-selalu-menunggu-tua-kenali-faktor-risikonya, without altering the facts of the original article.