Ngecas Mobil Listrik Berakhir Tagihan Rp 2 Juta, Pengguna Auto Kaget

Pengguna mobil listrik di Inggris mengalami kejutan tidak menyenangkan ketika menerima tagihan parkir yang sangat mahal setelah mengisi daya mobil mereka di stasiun pengisian umum. Salah satu kasus yang menonjol adalah ketika Kevin Laban menerima denda parkir sebesar 70 poundsterling atau sekitar Rp 1,1 juta setelah mengisi daya mobilnya di area parkir supermarket Aldi di Weymouth. Mobil listrik yang diharapkan dapat menghemat pengeluaran dan lebih ramah lingkungan ternyata dapat berujung pada biaya yang tidak terduga.

Momen Penentu di Menit Akhir

Kevin Laban mengaku bahwa aplikasi operator pengisian daya Pod Point mengarahkan dia ke stasiun pengisian tersebut, namun tanpa sepengetahuannya, area parkir Aldi melarang kendaraan berada di lokasi di luar jam operasional toko. Pemilik lahan juga menganggap aktivitas mengisi daya mobil sebagai aktivitas parkir. “Pod Point mengiklankan pengisi daya itu terbuka untuk umum, sementara kamera di area parkir langsung memberikan denda kepada siapa pun yang masuk untuk menggunakannya,” kata Laban.

Laban juga mengatakan tidak ada papan informasi di area parkir, di mesin pengisian daya, maupun di aplikasi yang menyebutkan bahwa fasilitas tersebut hanya boleh digunakan saat toko buka. Setelah mengajukan protes, Aldi membatalkan denda tersebut dan menegaskan bahwa syarat serta ketentuan parkir sebenarnya telah dipasang dengan jelas di lokasi.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Kasus Laban ini menjadi persoalan dalam pengembangan infrastruktur kendaraan listrik di lahan milik swasta. Aturan parkir dinilai belum mengikuti kebutuhan pengguna EV yang hanya berhenti sementara untuk mengisi daya di tempat yang memang telah disediakan. Pengguna EV lainnya, Clive Sanders, juga mengalami nasib serupa di sebuah area parkir di Devon. Ia dikenai denda parkir sebesar 100 poundsterling oleh operator Smart Parking karena hanya membayar biaya pengisian daya tanpa membayar tarif parkir.

“Tidak ada petunjuk pada pengisi daya InstaVolt yang menyebutkan bahwa saya juga harus membayar tarif parkir selain biaya pengisian daya,” ujarnya. Sanders mengatakan InstaVolt sempat meyakinkannya bahwa denda tersebut dapat dibatalkan dan memberikan surat untuk dikirimkan kepada Smart Parking. Namun, operator parkir itu tetap menolak membatalkan denda.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur kendaraan listrik masih memiliki banyak kekurangan. Perlu ada koordinasi yang lebih baik antara operator pengisian daya, pemilik lahan, dan pemerintah untuk memastikan bahwa pengguna EV tidak mengalami kesulitan atau biaya yang tidak terduga. Selain itu, perlu ada transparansi yang lebih baik dalam menyampaikan informasi tentang aturan parkir dan biaya pengisian daya.

Kejadian ini juga menunjukkan bahwa pengguna EV perlu lebih berhati-hati dan teliti dalam memilih lokasi pengisian daya dan memahami aturan parkir yang berlaku. Dengan demikian, pengguna EV dapat menikmati manfaat dari kendaraan listrik tanpa mengalami kesulitan atau biaya yang tidak terduga.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Pengembangan infrastruktur kendaraan listrik masih memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun, dengan kerja sama dan koordinasi yang baik antara semua pihak, diharapkan bahwa pengguna EV dapat menikmati manfaat dari kendaraan listrik dengan lebih nyaman dan aman. Oleh karena itu, perlu ada upaya yang lebih besar untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang kendaraan listrik dan infrastrukturnya.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260716080252-37-751173/heboh-ngecas-mobil-listrik-tiba-tiba-dapat-tagihan-rp-2-juta, without altering the facts of the original article.

Filosofi Hidup Gobel yang Bikin Sukses: Rahasia di Balik Kesuksesan yang Tak Terduga

Filosofi hidup Gobel yang dikenal sebagai Falsafah Pohon Pisang menjadi salah satu kunci kesuksesan keluarga Gobel dalam membangun kerajaan bisnis elektronik di Indonesia. Prinsip ini menempatkan perusahaan bukan hanya sebagai mesin pencetak keuntungan, melainkan sebagai pihak yang harus memberi manfaat bagi masyarakat. Thayeb Mohammad Gobel, pendiri perusahaan, memiliki keyakinan bahwa perusahaan harus memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat, seperti halnya pohon pisang yang seluruh bagiannya berguna.

Dari Merantau ke Makassar hingga Membangun Bisnis

Thayeb Gobel, seorang pria asal Gorontalo, menghabiskan masa mudanya dengan merantau ke Makassar, lalu ke Pulau Jawa. Ia pernah bekerja di beberapa perusahaan, termasuk Dasaad Musin Concern, Fasco, hingga NV Behring yang bergerak di bidang perakitan radio. Setelah sempat gagal menjalankan bisnis mebel, Gobel memutuskan membangun usahanya sendiri. Pada pertengahan 1950-an, Gobel bersama sejumlah rekannya mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Co. Berbekal pinjaman Rp5 juta dari Bank Industri Nasional (BINA), mereka membangun pabrik di Cawang dan memproduksi radio bermerek Tjawang.

Momen Penentu di Jepang

Kesempatan mengikuti program Colombo Plan kemudian membawanya ke Jepang. Di sanalah Gobel bertemu Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co. Pertemuan tersebut menjadi titik balik perjalanan bisnis Gobel. Keduanya kemudian menjalin kerja sama yang berujung pada berdirinya PT National Gobel pada 1970. Perusahaan patungan tersebut dibangun di atas perpaduan Falsafah Pohon Pisang milik Gobel dan Falsafah Air milik Matsushita.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Falsafah Pohon Pisang yang dianut oleh Gobel memiliki dampak yang signifikan pada perjalanan bisnisnya. Prinsip ini tidak hanya menjadi pedoman dalam membangun bisnis, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi penerus keluarga Gobel, termasuk Rachmat Gobel. Hingga kini, prinsip membangun perusahaan yang memberi manfaat bagi masyarakat tetap menjadi bagian dari perjalanan Panasonic sebagai salah satu perusahaan elektronik terbesar di Indonesia. Keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Keberhasilan keluarga Gobel dalam membangun kerajaan bisnis elektronik di Indonesia tidak terlepas dari filosofi hidup yang dianut oleh Thayeb Mohammad Gobel. Falsafah Pohon Pisang yang menjadi prinsip utama dalam berbisnis masih relevan hingga kini. Dengan terus mengedepankan prinsip ini, diharapkan perusahaan dapat terus tumbuh dan berkembang sambil memberikan manfaat bagi masyarakat. Jalan panjang yang masih harus ditempuh oleh perusahaan Gobel akan terus berlanjut dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip yang telah dibangun sejak awal.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260710102750-25-749720/belajar-dari-gobel-pegang-filosofi-hidup-ini-bisa-kaya-dan-sukses, without altering the facts of the original article.

2 Pengusaha RI Bertransformasi jadi Konglomerat usai Bolak-Balik ke Gunung Kawi

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu tempat ziarah yang dipercaya dapat membawa keberuntungan, termasuk dalam urusan usaha. Dua pengusaha besar Indonesia, Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong, diketahui rutin mendatangi Gunung Kawi dan mengalami transformasi menjadi konglomerat setelah memperoleh petunjuk dari tempat tersebut.

Momen Penentu di Gunung Kawi

Ong Hok Liong, pendiri Bentoel, merupakan salah satu pengusaha yang rajin berziarah ke Gunung Kawi. Pada tahun 1954, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Setelah terbangun, dia menanyakan arti mimpinya kepada juru kunci makam. Mimpi tersebut merupakan petunjuk dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabrik sekaligus merek rokoknya yang saat itu belum berkembang. Atas tafsir mimpi tersebut, Ong kemudian mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya menjadi Bentoel, sebutan masyarakat Malang untuk ubi talas yang muncul dalam mimpinya.

Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan bisnisnya. Setelah menggunakan nama Bentoel, penjualan rokok terus meningkat. Perusahaan berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum 1960 dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Ketika meninggal dunia pada 1967, Ong adalah seorang multi-jutawan.

Kepercayaan Terhadap Gunung Kawi

Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group, juga memiliki kepercayaan terhadap Gunung Kawi. Salim rutin bolak-balik Surabaya-Gunung Kawi hingga tiga sampai lima kali setiap tahun. Setiap kali hendak memulai bisnis besar, dia berdiam diri di kuil China di kawasan Gunung Kawi untuk meminta petunjuk kepada peramal dan menjalankan sejumlah ritual. Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan penunjukan Mochtar Riady untuk mengembangkan Bank Central Asia (BCA). Menurut Richard dan Nancy, keputusan tersebut juga dipengaruhi keyakinan yang diperoleh Salim setelah menemui peramal di Gunung Kawi.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keberhasilan Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Gunung Kawi dapat membawa keberuntungan dalam urusan usaha. Namun, keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras dan strategi bisnis yang tepat. Bagi pengusaha yang ingin meningkatkan bisnisnya, kepercayaan dan petunjuk dari tempat-tempat yang dipercaya dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Saat ini, Gunung Kawi masih menjadi salah satu tempat ziarah yang populer di Indonesia. Banyak pengusaha yang masih percaya bahwa tempat tersebut dapat membawa keberuntungan dalam urusan usaha. Namun, keberhasilan di bidang usaha tidak hanya bergantung pada kepercayaan, tetapi juga pada kerja keras, strategi bisnis yang tepat, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar. Oleh karena itu, pengusaha harus terus meningkatkan kemampuan dan strategi bisnisnya untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260710144741-25-749854/2-pengusaha-ri-sering-bolak-balik-ke-gunung-kawi-jadi-konglomerat, without altering the facts of the original article.

Pejabat RI Meninggal Mendadak saat Ungkap Kasus Korupsi Besar, Polisi Turun Tangan

Jaksa Agung RI, Baharuddin Lopa, meninggal mendadak pada 3 Juli 2001, setelah menjalani karier panjang sebagai penegak hukum yang dikenal keras terhadap koruptor dan penyelundup. Kematian Lopa menimbulkan spekulasi, namun tim dokter menyatakan bahwa ia meninggal akibat serangan jantung yang dipicu kelelahan kerja. Sebagai Jaksa Agung, Lopa dikenal tak gentar mengusut perkara yang melibatkan pengusaha maupun pejabat tinggi negara.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada 2 Juli 2001, Lopa jatuh sakit saat menghadiri serah terima jabatan Duta Besar RI sekaligus menunaikan umrah di Arab Saudi. Ia mengalami mual, muntah, lalu tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, tepat pada 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa meninggal dunia. Sebelumnya, pada Juni 2001, Presiden Abdurrahman Wahid menunjuk Lopa sebagai Jaksa Agung, dengan harapan dapat membersihkan Indonesia dari praktik korupsi yang mengakar sejak era Orde Baru.

Apa yang Terjadi Sebelumnya?

Sejak awal menjabat sebagai Jaksa Agung, meja kerja Lopa langsung dipenuhi berkas penyelidikan kasus korupsi besar yang melibatkan pengusaha dan pejabat tinggi negara. Menurut Suara Pembaruan (4 Juli 2001), Lopa sadar bahwa langkahnya akan mengusik banyak kepentingan. “Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung,” ungkapnya dalam buku Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum (2001).

Mengapa dan Dampak

Kematian Lopa tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi. MENGAPA kematian Lopa begitu mengejutkan? Karena Lopa memiliki rekam jejak sebagai penegak hukum yang tidak takut mengusut kasus korupsi besar. DAMPAK dari kematian Lopa adalah keberanian Lopa melawan korupsi yang tidak akan terlupakan. Presiden Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh yang menangisi kepergiannya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Keberanian Lopa melawan korupsi bukan muncul ketika menjadi Jaksa Agung. Jabatan tersebut justru menjadi puncak karier panjangnya sebagai penegak hukum. Baharuddin Lopa memulai karier sebagai jaksa pada 1958 di Kejaksaan Negeri Kelas I Makassar. Ia memiliki prinsip untuk tetap bekerja demi menyelamatkan uang negara dan menegakkan keadilan, di mana pun ditugaskan. Oleh karena itu, perjalanan panjang dalam memberantas korupsi masih harus ditempuh, dan semangat Lopa harus terus dikenang sebagai inspirasi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260709103244-25-749381/pejabat-ri-meninggal-mendadak-saat-bongkar-kasus-korupsi-besar, without altering the facts of the original article.

Brownies Ketan Sidoarjo Tembus Pasar Global: Kisah Sukses dari Dapur Rumah

Brownies Ketan Sidoarjo, sebuah usaha kecil yang dirintis oleh Jalian Setiarsa pada 2017, kini telah menembus pasar global. Bermula dari dapur rumah dengan kapasitas produksi sekitar 300 buah per bulan, usaha ini telah berkembang pesat dengan dukungan dari BRI. Brownies ketan dengan varian unggulan Choco Chip asal Sidoarjo, Jawa Timur, ini telah menjadi bukti bahwa bisnis yang dikelola secara serius dan didukung pendampingan yang tepat dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Awal Mula dan Perkembangan

Jalian Setiarsa, yang kerap disapa Arso, memulai usahanya dengan menjadi nasabah simpanan BRI sejak tahun 2018. Dukungan BRI tidak hanya dirasakan dari sisi pembiayaan, tetapi juga dari proses pendampingan yang diberikan secara langsung oleh petugas BRI di lapangan. Arso mengatakan bahwa petugas BRI turut memahami kebutuhan usaha kami, memberikan penjelasan dengan ramah, serta membantu proses bisnis saya berjalan lebih mudah dan sesuai kebutuhan bisnis.

Arso kemudian bergabung sebagai salah satu anggota Rumah BUMN BRI, di mana proses transformasi usahanya mulai berlangsung secara lebih terarah. Melalui pendampingan yang diberikan secara rutin, tim Rumah BUMN membantu Arso membenahi berbagai aspek bisnis, mulai dari tata kelola usaha, peningkatan kualitas produksi, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran.

Momen Penentu di Menit Akhir

Berkat bimbingan berkelanjutan tersebut, produk pangan ini berhasil memperoleh berbagai pengakuan resmi dari skala nasional hingga global, meliputi sertifikat PIRT, Halal, GMP, SNI, hingga standar keamanan pangan internasional Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Pada tahun 2021, volume produksi It’s Me Time melonjak tajam hingga menyentuh angka 20.000 hingga 25.000 buah per bulan, dengan jangkauan pemasaran yang meluas ke Pulau Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan melalui kanal penjualan daring dan luring.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dukungan BRI secara aktif membukakan akses pasar dunia dengan mengikutsertakan mereka pada ajang pameran bergengsi seperti Brilianpreneur, Trade Expo Indonesia, Halal Food Turki, hingga Indonesian Exhibition Australia. Jaringan internasional tersebut berhasil membuahkan transaksi realisasi ekspor ke Turki dan Hong Kong pada 2021, Singapura dan Australia pada 2022, hingga Malaysia pada 2023, yang turut dibarengi raihan penghargaan bergengsi seperti Produk Terbaik No. 1 BRI hingga peringkat utama di ajang SNI Award.

Menurut Arso, dukungan dari BRI dan Rumah BUMN telah membantu usahanya untuk berkembang pesat dan menembus pasar global. “Kami sangat terbantu dengan adanya program pelatihan rutin, pendampingan yang intens, sampai ke dukungan pembiayaan. Fasilitas-fasilitas inilah yang membuat wawasan kami jadi lebih terbuka dalam mengelola bisnis, sekaligus membuka jalan buat pemasaran produk kami jadi jauh lebih luas.”

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Ke depan, It’s Me Time diharapkan dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitas produknya. Dengan dukungan yang telah diberikan, usaha ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi usaha kecil lainnya bahwa dengan kerja keras dan dukungan yang tepat, bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan dan menembus pasar global.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260712210932-25-750235/brownies-ketan-sidoarjo-berawal-dari-dapur-rumah-tembus-pasar-global, without altering the facts of the original article.

Menteri RI Bongkar Kasus Pejabat Nakal: 2.116 Orang Terlibat, Didukung Tentara

Menteri Negara Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) J.B. Sumarlin pernah meluncurkan operasi besar-besaran untuk memberantas praktik pungutan liar, penyalahgunaan wewenang, serta berbagai bentuk penyelewengan di lingkungan aparatur negara pada 1977. Operasi yang diberi nama Operasi Tertib (Opstib) ini berhasil menjaring 2.116 pejabat hanya dalam delapan bulan. Kasus besar yang dibongkar bahkan didukung oleh aparat militer, khususnya Laksamana TNI Sudomo yang saat itu menjabat Kepala Staf Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada Juni 1977, Presiden Soeharto menunjuk Sumarlin sebagai Koordinator Operasi Tertib (Opstib) Pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1977. Tugas utama Sumarlin adalah memberantas penyelewengan di lingkungan aparatur negara. Untuk memperkuat pelaksanaan operasi, Soeharto menempatkan Opstib di bawah Kopkamtib, dengan Laksamana TNI Sudomo sebagai pemimpinnya.

Operasi ini langsung bergerak cepat. Kasus pertama yang dibongkar terkait mafia pengadilan. Tim Opstib sukses menangkap belasan hakim dari tingkat pengadilan negeri hingga pengadilan tinggi di sejumlah provinsi. Setelah itu, operasi diperluas ke berbagai sektor, seperti perbankan, pelabuhan, kepegawaian, dan pertanahan.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Dalam operasi tersebut, beberapa fakta menarik terungkap. Pertama, dalam delapan bulan pertama pelaksanaan Opstib, rata-rata 15 pejabat terjaring setiap hari. Kedua, total 2.116 pejabat yang digaji negara, mulai dari hakim, jaksa, kepala dinas hingga staf ASN, terseret dalam 1.290 kasus. Ketiga, keberhasilan Opstib meninggalkan kesan mendalam bagi Sumarlin, yang tak pernah melupakan dukungan Sudomo selama menjalankan tugasnya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keberhasilan Opstib pada 1977-1983 menunjukkan bahwa dengan dukungan penuh dari aparat militer dan pemerintah, penindakan terhadap penyelewengan di lingkungan aparatur negara dapat dilakukan dengan efektif. Kasus ini juga menggarisbawahi pentingnya pengawasan dan penindakan terhadap penyalahgunaan wewenang untuk menjaga integritas aparatur negara. J.B. Sumarlin dan Laksamana Sudomo menjadi contoh penting dari kerja sama antara pemerintah dan aparat militer dalam upaya pemberantasan korupsi dan penyelewengan.

Dalam konteks saat ini, operasi seperti Opstib dapat menjadi pelajaran berharga dalam upaya pemberantasan korupsi dan penyelewengan di Indonesia. Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan dukungan dari aparat keamanan, diharapkan kasus-kasus serupa dapat diminimalisir dan integritas aparatur negara dapat terus ditingkatkan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski keberhasilan Opstib pada masa lalu patut diapresiasi, namun upaya pemberantasan korupsi dan penyelewengan masih merupakan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Tantangan saat ini adalah bagaimana mempertahankan komitmen dan konsistensi dalam penindakan terhadap penyelewengan, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan aparatur negara. Dengan demikian, Indonesia dapat terus bergerak menuju tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan bebas dari korupsi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260708131126-25-749126/kisah-menteri-ri-jaring-2116-pejabat-nakal-pakai-bantuan-tentara, without altering the facts of the original article.

Kisah Sukses Suhita Lebah Indonesia: Dari Pemberdayaan BRI hingga Usaha Madu yang Berkembang

Suhita Lebah Indonesia, sebuah usaha madu yang berbasis di Kota Bandar Lampung, telah sukses mengembangkan bisnisnya dengan pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan fokus pada kualitas produk dan keterlibatan masyarakat lokal, Suhita Lebah Indonesia telah menjadi contoh sukses bagi usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Usaha ini melestarikan budaya Nusantara dengan madu murni sebagai pendamping aktivitas harian.

Kisah Sukses dengan Pendekatan Terintegrasi

Owner Suhita Lebah Indonesia, Isnina, mengungkapkan bahwa sejak awal, usaha ini dijalankan dengan pendekatan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Kami melestarikan budaya Nusantara dengan madu murni sebagai pendamping aktivitas harian. Sejak 2016, kami fokus bersama para beekeeper dan peneliti di bidang lebah dan produk turunannya, menciptakan sistem produksi terintegrasi dari hutan primer Sumatera hingga pemasaran modern, sehingga kualitas produk, mutu, dan ketelusurannya dapat terjaga,” cerita Isnina.

Suhita Lebah Indonesia membangun alur usaha yang terhubung dari kawasan hutan Sumatera hingga ke tahap pengolahan dan pemasaran. Dalam prosesnya, Suhita Lebah Indonesia bekerja sama dengan beekeeper dan peneliti di bidang lebah, sekaligus melibatkan masyarakat sekitar hutan melalui pelatihan budidaya lebah dan penguatan rantai pasok. Produk yang dihasilkan mencakup Trigona Honey, Rain Forest Honey, hingga Melifera Honey.

Meningkatkan Kualitas Produk dan Keterlibatan Masyarakat

Dalam pengelolaannya, Suhita Lebah Indonesia meningkatkan kualitas produk melalui pengemasan yang telah memenuhi standar keamanan pangan, serta didukung oleh sejumlah sertifikasi dan izin edar. Penguatan tersebut mencakup NKV dan izin edar untuk madu murni nektar alami, serta sertifikasi Halal, HACCP, dan TKDN untuk produk madu olahan, campuran, dan herbal.

“Kami memiliki farm milik sendiri, farm mitra, dan melibatkan petani serta beekeeper lokal yang terintegrasi dengan rumah pengemasan yang telah memenuhi standar keamanan pangan. Kami juga menerapkan teknologi penanganan pascapanen tanpa suhu tinggi melalui metode pengurangan kadar air madu, sehingga nutrisi dan mutu madu tetap terjaga sesuai standar SNI, sekaligus menjadikan proses produksi lebih cepat, hemat energi, dan ramah lingkungan,” jelas Isnina.

Peran BRI dalam Mendukung Usaha Kecil dan Menengah

Isnina bergabung sebagai binaan Rumah BUMN BRI Bakauheni pada 2021 setelah memperoleh informasi dari sesama pelaku UMKM di Lampung. Sejak itu, ia mengikuti berbagai pelatihan dan program pengembangan usaha, baik daring maupun luring, termasuk BRIncubator, BRILiaNpreneur, serta kegiatan bazar. Melalui Rumah BUMN, Isnina mendapatkan pendampingan untuk memperkuat pengembangan usahanya.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa perjalanan Suhita Lebah Indonesia menunjukkan bahwa usaha dapat tumbuh ketika dijalankan dengan tekun, terus belajar, dan dekat dengan potensi di sekitarnya. “Perjalanan Suhita Lebah Indonesia menunjukkan bahwa usaha yang dibangun dengan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar dapat melangkah lebih jauh. Melalui Rumah BUMN, BRI ingin mendampingi lebih banyak pengusaha UMKM agar tumbuh semakin kuat, memperluas pasar, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” pungkas Dhanny.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Ke depan, Suhita Lebah Indonesia diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas produk dan keterlibatan masyarakat lokal. Dengan demikian, usaha ini dapat menjadi contoh sukses bagi UKM lainnya di Indonesia dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Suhita Lebah Indonesia telah menunjukkan bahwa dengan pendekatan terintegrasi dan keterlibatan masyarakat lokal, usaha kecil dan menengah dapat tumbuh dan berkembang dengan sukses.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260713183209-25-750511/lewat-pemberdayaan-bri-suhita-lebah-indonesia-kembangkan-usaha-madu, without altering the facts of the original article.

Bos Pajak Dapat Ancaman Santet, Benda Mistik Ditemukan di Kantor DJP

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Mar’ie Muhammad pernah mengalami ancaman santet saat menjalankan tugasnya pada 1988. Ancaman tersebut muncul dalam bentuk benda-benda mistik yang ditemukan di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Mar’ie yang baru saja ditunjuk sebagai Dirjen Pajak oleh Menteri Keuangan J.B. Sumarlin memiliki misi untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak dan membersihkan praktik-praktik kotor di lingkungan DJP.

Momen Penentu di Awal Jabatan

Pada awal jabatannya, Mar’ie langsung melakukan reformasi besar-besaran di tubuh DJP. Salah satu langkah terpentingnya ialah mengubah sistem pemungutan pajak dari pola pemerintah aktif mengejar wajib pajak menjadi sistem self-assessment, di mana masyarakat menghitung, melaporkan, dan membayar pajaknya secara mandiri. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan mengurangi praktik-praktik kotor di lingkungan DJP.

Ancaman Santet dan Benda Mistik

Namun, upaya Mar’ie tidak berjalan mulus. Ancaman santet dan benda mistik mulai muncul. Pada masa Dirjen Pajak sebelumnya, Salamun Alfian Tjakradiwirja, kantor DJP pernah ditemukan benda-benda berbau mistik seperti bunga-bunga tanpa diketahui siapa pengirimnya. Pengalaman tersebut membuat sejumlah pejabat khawatir ancaman serupa akan kembali terjadi saat Mar’ie mulai melakukan pembenahan di DJP. Bahkan, sempat ada keinginan meminta bantuan salah satu keluarga Mar’ie yang berasal dari daerah yang dikenal kental dengan ilmu hitam untuk menangkal kemungkinan serangan santet terhadap Mar’ie.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Namun, Mar’ie menolak usulan tersebut dan memilih mengandalkan doa dan keyakinan pribadinya. Dia percaya langkah yang ditempuhnya akan berjalan lancar tanpa harus meminta bantuan supranatural. Keberanian Mar’ie untuk tidak meminta bantuan supranatural dan tetap fokus pada tugasnya menunjukkan komitmennya untuk membersihkan DJP dari praktik-praktik kotor dan meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.

Pada akhirnya, reformasi yang dilakukan Mar’ie mulai membuahkan hasil. Kesadaran masyarakat untuk membayar pajak meningkat, terlebih setelah pemerintah memberikan penghargaan kepada wajib pajak terbesar dan berbagai insentif bagi masyarakat yang taat membayar pajak. Kiprah Mar’ie sebagai Dirjen Pajak berakhir pada 1993, namun keberhasilannya meningkatkan penerimaan negara sekaligus membenahi sistem perpajakan membawanya ke jabatan Menteri Keuangan pada periode 1993-1998.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kasus ancaman santet yang dialami Mar’ie menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pejabat publik dalam menjalankan tugasnya. Namun, dengan komitmen dan keberanian untuk melakukan perubahan, pejabat publik dapat mencapai kesuksesan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi pejabat publik untuk terus meningkatkan integritas dan komitmennya dalam menjalankan tugasnya demi kepentingan masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091448-25-750600/bos-pajak-dapat-ancaman-santet-benda-mistik-ditemukan-di-kantor-djp, without altering the facts of the original article.

Kapolri Hoegeng Dicopot Presiden saat Bongkar Kasus Besar, Ini Alasannya

Kapolri Hoegeng Imam Santoso dicopot dari jabatannya oleh Presiden Soeharto pada 2 Oktober 1971. Pencopotan ini terjadi saat Hoegeng tengah menangani kasus penyelundupan besar, yaitu penyelundupan mobil mewah yang merugikan negara hingga ratusan juta rupiah. Hoegeng dianggap sudah tua dan diminta menempati posisi baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belgia. Namun, alasan ini memunculkan tanda tanya karena usia Hoegeng saat itu baru menginjak 50 tahun.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada saat itu, Hoegeng sedang membongkar salah satu kasus penyelundupan terbesar pada awal Orde Baru. Penyelundupan mobil mewah ini melibatkan ribuan mobil yang berhasil masuk ke Indonesia tanpa membayar bea masuk. Menurut Hoegeng, praktik ini tidak mungkin berlangsung tanpa bantuan orang-orang di dalam birokrasi. Salah satu tokoh yang menjadi target penyelidikannya adalah Robby Tjahjadi, seorang penyelundup mobil mewah yang memiliki jaringan luas.

Robby Tjahjadi merupakan lulusan SMA Xaverius Surakarta yang merantau ke Jakarta pada 1964. Lima tahun kemudian, dia telah menjadi penyalur mobil-mobil mewah hasil penyelundupan. Berbagai merek, mulai dari Alfa Romeo, Fiat, BMW, Mercedes-Benz, Ford, Continental hingga Rolls-Royce, berhasil masuk ke Indonesia melalui jalur ilegal. Menurut Hoegeng, Robby memanfaatkan paspor diplomatik untuk menekan bea impor, lalu bekerja sama dengan oknum Bea Cukai agar mobil-mobil tersebut bisa lolos ke Indonesia.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Di tengah penyelidikan itu, Hoegeng mendapat panggilan untuk menghadap Presiden Soeharto di kediamannya di Jalan Cendana Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat. Dia berniat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melaporkan perkembangan kasus penyelundupan mobil mewah yang sedang ditanganinya. Namun, rencana itu buyar sesaat setelah tiba di Cendana. Orang yang akan dia laporkan, yaitu Robby Tjahjadi, ternyata sudah lebih dulu berada di Jalan Cendana untuk menghadap Presiden Soeharto.

Hoegeng bahkan berpapasan dengan penyelundup mobil mewah tersebut yang baru keluar dari kediaman presiden. Momen itu membuat Hoegeng sadar bahwa orang yang sedang diusutnya memiliki hubungan dengan kalangan elite kekuasaan. Dia pun mengurungkan niat melaporkan kasus tersebut dan kembali ke Markas Besar Polri.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri memiliki dampak besar pada kariernya. Meski banyak pihak menghubungkan pencopotannya dengan penyelidikan terhadap Robby Tjahjadi, Hoegeng sendiri tidak pernah secara terbuka menyatakan hal tersebut. Dia hanya diberitahu alasan pemberhentian karena sudah tua. Sementara itu, penyelidikan terhadap Robby terus berlanjut dan akhirnya dia ditangkap pada 21 Oktober 1972.

Robby didakwa melakukan penyelundupan yang menyebabkan kerugian negara sekitar Rp700 juta. Namun, dia hanya divonis ringan, yakni 7,5 tahun, kurang dari tuntutan 10 tahun. Kasus ini menunjukkan bahwa penyelundupan masih menjadi masalah besar di Indonesia dan perlu penanganan yang lebih serius.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Setelah pensiun, Hoegeng memilih menjalani kehidupan yang sederhana dan lebih banyak berkecimpung di dunia seni hingga wafat pada 14 Juli 2004. Kasus penyelundupan mobil mewah yang ditanganinya masih menjadi contoh bahwa penegakan hukum di Indonesia masih memiliki banyak tantangan. Oleh karena itu, penegak hukum harus terus meningkatkan kinerja dan integritasnya untuk menangani kasus-kasus besar seperti ini.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091414-25-750598/kapolri-hoegeng-tiba-tiba-dicopot-presiden-saat-bongkar-kasus-besar, without altering the facts of the original article.

Pos Indonesia Tunda Bayar Imbal Sukuk Rp24,12 Miliar, Apa Penyebabnya?

PT Pos Indonesia (Persero) mengumumkan keterlambatan pembayaran imbal jasa Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Pos Indonesia Tahap I Tahun 2024 Seri A-C periode ke-6 sebesar Rp24,12 miliar. Pembayaran yang seharusnya dilakukan pada 7 Juli 2026 tidak dapat dilaksanakan karena kondisi kas perusahaan yang terbatas. Keterlambatan ini telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Pos Indonesia berencana untuk mengajukan permohonan penundaan pembayaran.

Fakta dan Kronologi Keterlambatan Pembayaran

Menurut keterbukaan informasi yang disampaikan kepada OJK, PT Pos Indonesia memiliki kewajiban pembayaran imbal jasa sukuk sebesar Rp24.118.750.000 yang dijadwalkan pada 7 Juli 2026. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, perusahaan belum dapat melaksanakan kewajiban pembayaran tersebut. Dana pembayaran seharusnya telah efektif masuk ke rekening KSEI pada 7 Juli 2026 sebelum pukul 14.00 WIB.

Manajemen Pos Indonesia menjelaskan bahwa keterlambatan pembayaran disebabkan oleh kondisi kas perusahaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pembayaran. Sebagai tindak lanjut, Pos Indonesia telah mengirimkan surat kepada KSEI pada 7 Juli 2026 untuk mengajukan permohonan penundaan pembayaran bunga atau imbal jasa sukuk periode ke-6.

Mengapa Keterlambatan Pembayaran Terjadi dan Apa Dampaknya?

Keterlambatan pembayaran imbal jasa sukuk oleh Pos Indonesia menunjukkan adanya tekanan keuangan yang dialami oleh perusahaan. Kondisi kas yang terbatas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penurunan pendapatan atau peningkatan biaya operasional. Hal ini dapat berdampak pada kepercayaan investor dan kreditor terhadap kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan di masa depan.

Dampak lainnya adalah potensi kerugian bagi investor yang telah mempercayakan dana mereka kepada Pos Indonesia melalui sukuk. Penundaan pembayaran dapat menyebabkan kerugian finansial dan mengurangi kepercayaan investor terhadap perusahaan. Oleh karena itu, Pos Indonesia perlu segera mengatasi masalah keuangan mereka dan melaksanakan kewajiban pembayaran kepada investor.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Pos Indonesia masih memiliki jalan panjang untuk memulihkan kondisi keuangan mereka dan memenuhi kewajiban kepada investor. Perusahaan perlu melakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya operasional. Selain itu, Pos Indonesia juga perlu meningkatkan transparansi dan komunikasi dengan investor dan kreditor untuk memulihkan kepercayaan.

Dengan demikian, keterlambatan pembayaran imbal jasa sukuk oleh Pos Indonesia dapat menjadi pelajaran bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan kondisi keuangan mereka dan melaksanakan kewajiban keuangan dengan tepat waktu. Investor dan kreditor juga perlu terus memantau kondisi keuangan perusahaan dan melakukan evaluasi terhadap risiko investasi mereka.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714114604-25-750660/kas-tak-cukup-pos-indonesia-tunda-bayar-imbal-sukuk-rp2412-miliar, without altering the facts of the original article.