2 Pengusaha RI yang Sukses Berkat Gunung Kawi: Kisah Konglomerat dari Tanah Air

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu tempat ziarah yang dipercaya dapat membawa keberuntungan, termasuk dalam urusan usaha. Dua pengusaha besar Indonesia, Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong, diketahui rutin mendatangi Gunung Kawi untuk memohon petunjuk sebelum mengambil keputusan penting. Kisah mereka menjadi contoh bagaimana kepercayaan terhadap Gunung Kawi dapat berdampak pada kesuksesan bisnis.

Momen Penentu di Gunung Kawi

Ong Hok Liong, pendiri Bentoel, merupakan salah satu pengusaha yang rajin berziarah ke Gunung Kawi. Pada 1954, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Setelah terbangun, dia menanyakan arti mimpinya kepada juru kunci makam. Mimpi tersebut merupakan petunjuk dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabrik sekaligus merek rokoknya yang saat itu belum berkembang. Atas tafsir mimpi tersebut, Ong kemudian mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya menjadi Bentoel, sebutan masyarakat Malang untuk ubi talas.

Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan bisnis Ong. Setelah menggunakan nama Bentoel, penjualan rokok terus meningkat. Perusahaan berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum 1960 dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Ketika meninggal dunia pada 1967, Ong adalah seorang multi-jutawan.

Kepercayaan yang Membentuk Keputusan

Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group, juga memiliki kepercayaan terhadap Gunung Kawi. Salim rutin bolak-balik Surabaya-Gunung Kawi hingga tiga sampai lima kali setiap tahun. Setiap kali hendak memulai bisnis besar, dia berdiam diri di kuil China di kawasan Gunung Kawi untuk meminta petunjuk kepada peramal dan menjalankan sejumlah ritual. Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan penunjukan Mochtar Riady untuk mengembangkan Bank Central Asia (BCA).

Menurut Richard dan Nancy, keputusan tersebut juga dipengaruhi keyakinan yang diperoleh Salim setelah menemui peramal di Gunung Kawi. “Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau ‘aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mohctar’,” tulis keduanya. Di tangan Mochtar Riady, BCA kemudian berkembang menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kisah Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menunjukkan bagaimana kepercayaan terhadap Gunung Kawi dapat berdampak pada kesuksesan bisnis. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari strategi bisnis mereka, yang membantu mereka membuat keputusan penting. Bagi pengusaha, kepercayaan dan keyakinan dapat menjadi faktor penting dalam mencapai kesuksesan.

Namun, kesuksesan bisnis tidak hanya bergantung pada kepercayaan dan keyakinan. Strategi bisnis yang tepat, manajemen yang efektif, dan kemampuan adaptasi juga menjadi faktor penting. Oleh karena itu, pengusaha harus mempertimbangkan berbagai faktor untuk mencapai kesuksesan bisnis.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kisah Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menjadi inspirasi bagi pengusaha yang ingin mencapai kesuksesan bisnis. Namun, perjalanan bisnis tidak pernah berhenti. Pengusaha harus terus berinovasi, beradaptasi, dan meningkatkan kemampuan untuk tetap kompetitif. Dengan demikian, mereka dapat mempertahankan kesuksesan bisnis dan terus berkembang di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260710144741-25-749854/2-pengusaha-ri-sering-bolak-balik-ke-gunung-kawi-jadi-konglomerat, without altering the facts of the original article.

Pejabat RI Meninggal Saat Menginvestigasi Kasus Korupsi Besar, Polisi Ungkap Fakta Baru

Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal dunia pada 3 Juli 2001, setelah jatuh sakit saat menghadiri serah terima jabatan Duta Besar RI di Arab Saudi. Lopa dikenal sebagai pejabat yang tak gentar mengusut kasus korupsi besar yang melibatkan pengusaha maupun pejabat tinggi negara. Kini, polisi mengungkap fakta baru terkait kasus tersebut.

Momen Penentu di Menit Akhir

Baharuddin Lopa diangkat sebagai Jaksa Agung pada Juni 2001 oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Sejak awal, dia langsung dihadapkan pada tuntutan besar untuk membersihkan Indonesia dari praktik korupsi yang mengakar sejak era Orde Baru. Meja kerjanya dipenuhi berkas penyelidikan kasus korupsi besar yang melibatkan pengusaha dan pejabat tinggi negara.

Menurut pengakuannya sendiri, Lopa sadar bahwa langkahnya akan mengusik banyak kepentingan. “Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung,” ungkapnya.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Berikut adalah tiga fakta yang terkait dengan kematian Baharuddin Lopa:

1. Lopa jatuh sakit pada 2 Juli 2001 saat menghadiri serah terima jabatan Duta Besar RI di Arab Saudi. Dia mengalami mual, muntah, lalu tidak sadarkan diri.

2. Keesokan harinya, tepat pada 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa meninggal dunia. Tim dokter menyatakan Lopa meninggal akibat serangan jantung yang dipicu kelelahan kerja.

3. Sebelum menjadi Jaksa Agung, Lopa memiliki karier panjang sebagai penegak hukum yang dikenal keras terhadap koruptor dan penyelundup. Dia memulai karier sebagai jaksa pada 1958 di Kejaksaan Negeri Kelas I Makassar.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kematian Baharuddin Lopa mengundang duka mendalam. Presiden Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh yang menangisi kepergiannya. Lopa dikenal sebagai pejabat yang berani melawan korupsi, dan keberaniannya itu menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Kasus korupsi masih menjadi masalah besar di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk terus melanjutkan perjuangan Lopa dalam membersihkan Indonesia dari korupsi. Polisi dan penegak hukum lainnya harus terus bekerja keras untuk mengungkap kasus korupsi dan membawa pelakunya ke pengadilan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Perjuangan melawan korupsi masih panjang dan tidak mudah. Namun, dengan keberanian dan komitmen seperti yang dimiliki Baharuddin Lopa, Indonesia dapat menjadi negara yang lebih bersih dan adil. Polisi dan penegak hukum lainnya harus terus bekerja keras untuk mewujudkan hal tersebut.

Kematian Baharuddin Lopa tidak dapat menghilangkan semangat untuk terus melawan korupsi. Semangat itu harus terus dipertahankan dan dikembangkan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260709103244-25-749381/pejabat-ri-meninggal-mendadak-saat-bongkar-kasus-korupsi-besar, without altering the facts of the original article.

Cita Rasa Brownies Ketan Sidoarjo yang Tembus Pasar Global: Berawal dari Dapur Rumah

Brownies ketan Sidoarjo, sebuah produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner, telah sukses menembus pasar global. Produk yang dihasilkan oleh “It’s Me Time” ini telah menjadi bukti bahwa bisnis yang dikelola secara serius dan didukung pendampingan yang tepat dapat tumbuh secara berkelanjutan. Brownies ketan dengan varian unggulan Choco Chip asal Sidoarjo, Jawa Timur, ini dirintis oleh Jalian Setiarsa pada 2 November 2017. Awalnya, usaha ini hanya beroperasi di dapur rumah dengan kapasitas produksi sekitar 300 buah per bulan.

Dari Dapur Rumah ke Pasar Global

Perjalanan sukses UMKM kuliner “It’s Me Time” dimulai dari dapur rumah. Jalian Setiarsa, yang kerap disapa Arso, memulai usahanya dengan kapasitas produksi yang sangat kecil. Namun, seiring meningkatnya permintaan pasar, Arso perlahan melihat peluang untuk mengembangkan usahanya. Pada tahun 2018, Arso menjadi nasabah simpanan BRI dan menjalin hubungan perbankan yang kemudian membuka akses terhadap berbagai layanan dan solusi finansial BRI.

Dukungan BRI tidak hanya dirasakan dari sisi pembiayaan, tetapi juga dari proses pendampingan yang diberikan secara langsung oleh petugas BRI di lapangan. Arso mengatakan bahwa petugas BRI turut memahami kebutuhan usaha kami, memberikan penjelasan dengan ramah, serta membantu proses bisnis saya berjalan lebih mudah dan sesuai kebutuhan bisnis.

Mengenal Rumah BUMN BRI

Arso kemudian bergabung sebagai salah satu anggota Rumah BUMN BRI. Di sinilah proses transformasi usahanya mulai berlangsung secara lebih terarah. Melalui pendampingan yang diberikan secara rutin, tim Rumah BUMN membantu Arso membenahi berbagai aspek bisnis, mulai dari tata kelola usaha, peningkatan kualitas produksi, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran.

Petugas Rumah BUMN membimbing It’s Me Time secara mendalam dan intensif untuk membenahi aspek manajerial. Banyak sekali pelatihan-pelatihan bisnis yang makin membuat saya paham dalam mengurus bisnis. Para mentor mendampingi Arso melakukan penataan tempat kerja, mulai dari memisahkan area dapur produksi dengan tempat tinggal pribadi, hingga memfasilitasi pengurusan berbagai legalitas baku.

Standar Keamanan Pangan Internasional

Berkat bimbingan berkelanjutan tersebut, produk pangan ini berhasil memperoleh berbagai pengakuan resmi dari skala nasional hingga global, meliputi sertifikat PIRT, Halal, GMP, SNI, hingga standar keamanan pangan internasional Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Langkah penataan mutu dan standardisasi itu pun sukses mengantarkan bisnis kuliner ini naik kelas ke level yang jauh lebih tinggi.

Pada tahun 2021, volume produksi It’s Me Time melonjak tajam hingga menyentuh angka 20.000 hingga 25.000 buah per bulan, dengan jangkauan pemasaran yang meluas ke Pulau Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan melalui kanal penjualan daring dan luring. BRI secara aktif membukakan akses pasar dunia dengan mengikutsertakan mereka pada ajang pameran bergengsi seperti Brilianpreneur, Trade Expo Indonesia, Halal Food Turki, hingga Indonesian Exhibition Australia.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Jaringan internasional tersebut berhasil membuahkan transaksi realisasi ekspor ke Turki dan Hong Kong pada 2021, Singapura dan Australia pada 2022, hingga Malaysia pada 2023, yang turut dibarengi raihan penghargaan bergengsi seperti Produk Terbaik No. 1 BRI hingga peringkat utama di ajang SNI Award. Menurut Arso, dukungan BRI dan Rumah BUMN BRI telah membantu usahanya untuk tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Kedepan, It’s Me Time akan terus berupaya meningkatkan kualitas produk dan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan dukungan yang telah diberikan, Arso optimis bahwa usahanya akan terus tumbuh dan berkembang di pasar global.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski telah mencapai kesuksesan, Arso sadar bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, It’s Me Time akan terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan komitmen dan kerja keras, Arso yakin bahwa usahanya akan terus berkembang dan menjadi salah satu UMKM kuliner terkemuka di Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260712210932-25-750235/brownies-ketan-sidoarjo-berawal-dari-dapur-rumah-tembus-pasar-global, without altering the facts of the original article.

Menteri RI Bongkar Kasus Pejabat Nakal: 2.116 Nama Masuk Daftar Prioritas

Menteri Negara Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) pada tahun 1970-an, J.B. Sumarlin, mengungkap kasus besar yang melibatkan 2.116 pejabat nakal dalam operasi penertiban yang digelar selama delapan bulan. Kasus-kasus tersebut terkait dengan penyalahgunaan wewenang, pungutan liar, dan penyelewengan di lingkungan aparatur negara. Operasi yang digelar pada 1977 itu mendapat dukungan penuh dari aparat militer, termasuk Laksamana TNI Sudomo. Kasus besar ini menjadi sorotan karena menunjukkan betapa luasnya praktik korupsi di Indonesia pada masa itu.

Operasi Penertiban yang Besar

Pada Juni 1977, Presiden Soeharto menunjuk J.B. Sumarlin sebagai Koordinator Operasi Tertib (Opstib) Pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1977. Tugas utama Sumarlin adalah memberantas praktik pungutan liar, penyalahgunaan wewenang, serta berbagai bentuk penyelewengan di lingkungan aparatur negara. Untuk memperkuat pelaksanaan operasi ini, Soeharto menempatkan Opstib di bawah Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), yang dipimpin oleh Laksamana TNI Sudomo.

Operasi ini mulai bergerak cepat dengan membongkar kasus mafia pengadilan. Tim Opstib sukses menangkap belasan hakim dari tingkat pengadilan negeri hingga pengadilan tinggi di sejumlah provinsi. Setelah itu, operasi diperluas ke berbagai sektor, termasuk perbankan, pelabuhan, kepegawaian, dan pertanahan. Di sektor pertanahan, Opstib berhasil membongkar praktik pungutan liar dalam pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB), yang melibatkan sejumlah oknum seperti kepala dinas hingga staf ASN.

Tingkat Keberhasilan yang Signifikan

Selama delapan bulan pertama pelaksanaan Opstib, rata-rata 15 pejabat terjaring setiap hari. Secara total, sebanyak 2.116 pejabat yang digaji negara, mulai dari hakim, jaksa, kepala dinas hingga staf ASN, terseret dalam 1.290 kasus. Mereka kemudian dijatuhi sanksi administratif maupun diproses secara hukum. Keberhasilan Opstib ini meninggalkan kesan mendalam bagi Sumarlin, yang tak pernah melupakan dukungan Sudomo selama menjalankan tugasnya.

Mengapa Operasi Ini Penting?

Operasi penertiban yang dipimpin oleh J.B. Sumarlin dan didukung oleh Laksamana Sudomo ini penting karena menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi dan penyalahgunaan wewenang di lingkungan aparatur negara. Kasus-kasus yang dibongkar menunjukkan betapa sistemiknya praktik korupsi di Indonesia pada masa itu, sehingga diperlukan tindakan tegas dan terkoordinasi untuk memberantasnya.

Dampak dari operasi ini juga sangat signifikan. Selain memberikan efek jera kepada pejabat yang nakal, operasi ini juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dengan demikian, operasi penertiban ini menjadi contoh penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kasus besar yang melibatkan 2.116 pejabat nakal ini menjadi pengingat bahwa pemberantasan korupsi masih merupakan pekerjaan rumah yang belum selesai di Indonesia. Meskipun telah ada berbagai upaya untuk memberantas korupsi, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dan kerja sama dari semua pihak untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260708131126-25-749126/kisah-menteri-ri-jaring-2116-pejabat-nakal-pakai-bantuan-tentara, without altering the facts of the original article.

Kisah Sukses Suhita Lebah Indonesia: Dari Pemberdayaan BRI Hingga Madu Berkualitas

Suhita Lebah Indonesia, sebuah usaha madu yang berbasis di Kota Bandar Lampung, telah sukses mengembangkan bisnisnya dengan pendekatan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan fokus pada kualitas produk dan keterlibatan masyarakat sekitar hutan, Suhita Lebah Indonesia telah menjadi contoh sukses bagi usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Madu Suhita Lebah Indonesia telah menjadi pilihan konsumen yang mencari produk berkualitas dan berkelanjutan.

Berawal dari Pemberdayaan Masyarakat

Suhita Lebah Indonesia membangun alur usaha yang terhubung dari kawasan hutan Sumatera hingga ke tahap pengolahan dan pemasaran. Dalam prosesnya, Suhita Lebah Indonesia bekerja sama dengan beekeeper (peternak lebah) dan peneliti di bidang lebah, sekaligus melibatkan masyarakat sekitar hutan melalui pelatihan budidaya lebah dan penguatan rantai pasok. Produk yang dihasilkan mencakup Trigona Honey, Rain Forest Honey, hingga Melifera Honey.

Owner Suhita Lebah Indonesia, Isnina, mengungkapkan bahwa sejak awal usaha ini dijalankan dengan pendekatan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Suhita Lebah Indonesia melestarikan budaya Nusantara dengan madu murni sebagai pendamping aktivitas harian. Sejak 2016, kami fokus bersama para beekeeper dan peneliti di bidang lebah dan produk turunannya, menciptakan sistem produksi terintegrasi dari hutan primer Sumatera hingga pemasaran modern, sehingga kualitas produk, mutu, dan ketelusurannya dapat terjaga.”

Meningkatkan Kualitas Produk

Suhita Lebah Indonesia meningkatkan kualitas produk melalui pengemasan yang telah memenuhi standar keamanan pangan, serta didukung oleh sejumlah sertifikasi dan izin edar. Penguatan tersebut mencakup NKV dan izin edar untuk madu murni nektar alami, serta sertifikasi Halal, HACCP, dan TKDN untuk produk madu olahan, campuran, dan herbal.

“Kami memiliki farm (peternakan) milik sendiri, farm mitra, dan melibatkan petani serta beekeeper lokal yang terintegrasi dengan rumah pengemasan yang telah memenuhi standar keamanan pangan. Kami juga menerapkan teknologi penanganan pascapanen tanpa suhu tinggi melalui metode pengurangan kadar air madu, sehingga nutrisi dan mutu madu tetap terjaga sesuai standar SNI, sekaligus menjadikan proses produksi lebih cepat, hemat energi, dan ramah lingkungan,” jelas Isnina.

Momen Penentu di Menit Akhir

Isnina bergabung sebagai binaan Rumah BUMN BRI Bakauheni pada 2021 setelah memperoleh informasi dari sesama pelaku UMKM di Lampung. Sejak itu, ia mengikuti berbagai pelatihan dan program pengembangan usaha, baik daring maupun luring, termasuk BRIncubator, BRILiaNpreneur, serta kegiatan bazar. Melalui Rumah BUMN, Isnina mendapatkan pendampingan untuk memperkuat pengembangan usahanya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa perjalanan Suhita Lebah Indonesia menunjukkan bahwa usaha dapat tumbuh ketika dijalankan dengan tekun, terus belajar, dan dekat dengan potensi di sekitarnya. “Perjalanan Suhita Lebah Indonesia menunjukkan bahwa usaha yang dibangun dengan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar dapat melangkah lebih jauh. Melalui Rumah BUMN, BRI ingin mendampingi lebih banyak pengusaha UMKM agar tumbuh semakin kuat, memperluas pasar, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.”

Kehadiran Suhita Lebah Indonesia sebagai pemain industri madu yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk mengembangkan bisnis yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan demikian, Suhita Lebah Indonesia dapat menjadi contoh sukses bagi usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski telah mencapai kesuksesan, Suhita Lebah Indonesia masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh. Dengan terus meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar, Suhita Lebah Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu pemain industri madu terkemuka di Indonesia. Dengan komitmen untuk melestarikan budaya Nusantara dan menjaga lingkungan, Suhita Lebah Indonesia siap menghadapi tantangan ke depan dan terus berkembang sebagai usaha yang berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260713183209-25-750511/lewat-pemberdayaan-bri-suhita-lebah-indonesia-kembangkan-usaha-madu, without altering the facts of the original article.

Ancaman Santet Bikin Heboh, Benda Mistik Ditemukan di Kantor DJP, Bos Pajak Ketakutan

Ancaman santet atau black magic pernah menjadi pembahasan serius dalam rapat internal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada 1988. Mar’ie Muhammad, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak, menjadi target ancaman tersebut. Benda-benda mistik pernah ditemukan di kantor DJP pada masa jabatan Dirjen Pajak sebelumnya, Salamun Alfian Tjakradiwirja.

Mar’ie Muhammad dan Momen Penentu di Awal Jabatan

Mar’ie Muhammad mulai menjabat sebagai Dirjen Pajak pada 1988, setelah ditunjuk oleh Menteri Keuangan J.B. Sumarlin. Tugas utamanya adalah meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak setelah pemasukan dari minyak dan gas bumi merosot tajam. Presiden Soeharto memerintahkan pemerintah untuk “memasyarakatkan pajak” sehingga penerimaan negara tidak lagi bergantung pada migas. Selain itu, Mar’ie juga diberi tugas membersihkan praktik-praktik kotor di lingkungan DJP yang saat itu dikenal sebagai “lahan basah”.

Dalam rapat internal, para pejabat pajak membahas ancaman santet yang ditargetkan pada Mar’ie. Benda-benda mistik seperti bunga-bunga tanpa diketahui siapa pengirimnya pernah ditemukan di kantor DJP pada masa jabatan sebelumnya. Hal ini membuat sejumlah pejabat khawatir ancaman serupa akan kembali terjadi saat Mar’ie mulai melakukan pembenahan di DJP.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Berikut adalah tiga fakta yang membuat kejadian ancaman santet pada Mar’ie Muhammad berbeda:

1. Mar’ie memiliki keyakinan Islam yang kuat dan tidak ingin meminta bantuan supranatural untuk menangkal ancaman santet. Dia memilih mengandalkan doa dan keyakinan pribadinya.

2. Ancaman santet muncul pada saat Mar’ie melakukan reformasi besar-besaran di tubuh DJP, termasuk mengubah sistem pemungutan pajak dan membenahi internal DJP.

3. Keberhasilan Mar’ie sebagai Dirjen Pajak membuahkan hasil, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan memperkuat integritas aparatur DJP.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian ancaman santet pada Mar’ie Muhammad menunjukkan bahwa upaya reformasi dan pembenahan di lingkungan DJP tidaklah mudah. Namun, keberhasilan Mar’ie sebagai Dirjen Pajak membuktikan bahwa dengan keyakinan dan kerja keras, tantangan dapat diatasi. Kejadian ini juga menunjukkan pentingnya memahami konteks dan latar belakang kejadian untuk memahami dampaknya ke depan.

Mar’ie Muhammad kemudian dipercaya menjabat Menteri Keuangan pada periode 1993-1998, berkat keberhasilannya meningkatkan penerimaan negara sekaligus membenahi sistem perpajakan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Reformasi dan pembenahan di lingkungan DJP masih terus berlanjut hingga saat ini. Kejadian ancaman santet pada Mar’ie Muhammad menjadi pengingat bahwa upaya reformasi dan pembenahan harus terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat integritas aparatur DJP. Dengan demikian, DJP dapat terus meningkatkan penerimaan negara dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091448-25-750600/bos-pajak-dapat-ancaman-santet-benda-mistik-ditemukan-di-kantor-djp, without altering the facts of the original article.

Kapolri Hoegeng Dicopot Presiden saat Kasus Besar Terbongkar, Ini Alasannya

Kapolri Hoegeng Imam Santoso dicopot dari jabatannya oleh Presiden Soeharto pada 2 Oktober 1971. Pencopotan ini terjadi saat Hoegeng tengah menangani kasus penyelundupan mobil mewah yang merugikan negara hingga ratusan juta rupiah. Hoegeng dianggap sudah tua dan diminta menempati posisi baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belgia. Namun, alasan ini memunculkan tanda tanya karena usia Hoegeng saat itu baru menginjak 50 tahun.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada saat pencopotan, Hoegeng sedang menyelidiki kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan Robby Tjahjadi, seorang penyelundup yang memanfaatkan paspor diplomatik untuk menekan bea impor dan bekerja sama dengan oknum Bea Cukai. Penyelidikan ini hampir mencapai titik temu, namun Hoegeng mendapat panggilan untuk menghadap Presiden Soeharto di kediamannya. Di sana, dia berpapasan dengan Robby Tjahjadi yang baru keluar dari kediaman presiden. Momen ini membuat Hoegeng sadar bahwa orang yang sedang diusutnya memiliki hubungan dengan kalangan elite kekuasaan.

Beberapa saat setelah pertemuan itu, Hoegeng diberhentikan sebagai Kapolri. Meski banyak pihak menghubungkan pencopotannya dengan penyelidikan terhadap Robby Tjahjadi, Hoegeng sendiri tidak pernah secara terbuka menyatakan hal tersebut. Dia hanya diberitahu alasan pemberhentian karena sudah tua.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri menunjukkan bahwa kekuasaan dan pengaruh dapat mempengaruhi proses hukum dan penyelidikan. Kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan Robby Tjahjadi dan pejabat lainnya merupakan contoh nyata bagaimana korupsi dan kolusi dapat terjadi di tingkat tinggi. Dampak dari pencopotan Hoegeng adalah penyelidikan terhadap Robby Tjahjadi terus berlanjut, namun vonis yang diberikan relatif ringan.

Kejadian ini juga menunjukkan bahwa penegakan hukum di Indonesia masih memiliki banyak tantangan, terutama ketika melibatkan pejabat tinggi dan elite kekuasaan. Oleh karena itu, penegakan hukum yang independen dan transparan sangat penting untuk menciptakan keadilan dan kepercayaan masyarakat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kapolri Hoegeng Imam Santoso wafat pada 14 Juli 2004, namun kisahnya tetap menjadi pelajaran berharga bagi penegakan hukum di Indonesia. Penyelidikan terhadap kasus penyelundupan mobil mewah pada masa itu merupakan salah satu contoh nyata bagaimana korupsi dan kolusi dapat terjadi di tingkat tinggi. Oleh karena itu, penegakan hukum yang independen dan transparan sangat penting untuk menciptakan keadilan dan kepercayaan masyarakat.

Kita masih memiliki jalan panjang untuk mencapai penegakan hukum yang ideal, namun dengan mempelajari kasus-kasus seperti ini, kita dapat memahami pentingnya integritas dan independensi dalam penegakan hukum. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan transparan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091414-25-750598/kapolri-hoegeng-tiba-tiba-dicopot-presiden-saat-bongkar-kasus-besar, without altering the facts of the original article.

Krisis Keuangan Pos Indonesia: Tunda Bayar Imbal Sukuk Rp24,12 Miliar, Apa Penyebabnya?

PT Pos Indonesia (Persero) mengungkapkan keterlambatan dalam memenuhi kewajiban pembayaran imbal jasa Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Pos Indonesia Tahap I Tahun 2024 Seri A-C periode ke-6 senilai Rp24,12 miliar. Keterlambatan ini disebabkan oleh keterbatasan kondisi kas perusahaan. Pembayaran yang seharusnya dilakukan pada 7 Juli 2026 tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal.

Kronologi Keterlambatan Pembayaran

Menurut keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 10 Juli 2026, PT Pos Indonesia memiliki kewajiban untuk membayar imbal jasa sukuk sebesar Rp24.118.750.000. Pembayaran ini seharusnya efektif masuk ke rekening Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 7 Juli 2026 sebelum pukul 14.00 WIB. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, perusahaan belum dapat melaksanakan kewajiban pembayaran tersebut.

Pada 7 Juli 2026, PT Pos Indonesia mengajukan permohonan penundaan pembayaran bunga atau imbal jasa sukuk periode ke-6 kepada KSEI. KSEI kemudian menyampaikan surat penundaan pembayaran kepada Pos Indonesia, sehingga pembayaran bagi hasil ke-6 Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Pos Indonesia Tahap I Tahun 2024 Seri A-C yang semula dijadwalkan pada 8 Juli 2026 resmi ditunda.

Mengapa Keterlambatan Ini Terjadi?

PT Pos Indonesia menyatakan bahwa kondisi kas perusahaan saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan pembayaran imbal jasa sukuk tersebut. Keterbatasan kas ini menjadi penyebab utama keterlambatan pembayaran. Perusahaan telah menyampaikan informasi ini kepada OJK dan KSEI sebagai bagian dari keterbukaan informasi.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keterlambatan pembayaran imbal jasa sukuk ini dapat berdampak pada kepercayaan investor dan kreditor terhadap PT Pos Indonesia. Perusahaan perlu segera mengatasi masalah kas ini untuk memenuhi kewajiban keuangan lainnya dan menjaga reputasi di pasar keuangan. Langkah-langkah konkret perlu diambil untuk meningkatkan kondisi kas dan mencegah keterlambatan pembayaran di masa depan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

PT Pos Indonesia masih memiliki jalan panjang untuk memulihkan kondisi keuangan dan meningkatkan kepercayaan stakeholders. Dengan keterbukaan informasi dan komitmen untuk memenuhi kewajiban keuangan, perusahaan diharapkan dapat segera mengatasi masalah kas dan melanjutkan operasionalnya dengan lancar. Keterlambatan ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan untuk lebih proaktif dalam mengelola keuangan dan memastikan keberlangsungan bisnis.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714114604-25-750660/kas-tak-cukup-pos-indonesia-tunda-bayar-imbal-sukuk-rp2412-miliar, without altering the facts of the original article.

Mantan Menteri RI Terciduk Jualan Beras di Glodok, Begini Reaksi Publik

Mantan Menteri Agama RI, Saifuddin Zuhri, menjadi sorotan publik setelah terciduk berjualan beras di Pasar Glodok, Jakarta, pada era 1980-an. Kehidupan pejabat negara setelah pensiun kerap menjadi tanda tanya publik, dan kasus Saifuddin Zuhri menjadi contoh bagaimana mantan menteri RI memilih untuk menjalani hidup sederhana. Saifuddin Zuhri merupakan Menteri Agama RI ke-10 yang dilantik pada 2 Maret 1962 dan mengakhiri masa jabatannya pada 1967.

Momen Penentu di Masa Pensiun

Setelah tak lagi menjadi menteri, Saifuddin Zuhri masih aktif di dunia politik sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) dan kemudian menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1971. Namun, setelah benar-benar pensiun dari jabatan negara, kehidupannya berubah jauh dari kemewahan. Pada era 1980-an, Saifuddin Zuhri diketahui berjualan beras di Pasar Glodok. Setiap pagi sekitar pukul 09.00 WIB, seusai menunaikan salat Dhuha, dia menyetir mobilnya sendiri sambil mengangkut barang dagangan menuju pasar.

Yang menarik, kegiatan berdagang tersebut berlangsung cukup lama tanpa diketahui keluarganya. Mereka hanya mengetahui Saifuddin Zuhri selalu pulang membawa uang, tetapi tidak pernah tahu dari mana penghasilan itu berasal. Hingga suatu hari, salah seorang putranya secara tidak sengaja memergoki sang ayah sedang berdagang di Pasar Glodok.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Saifuddin Zuhri memiliki komitmen untuk menjalani hidup sederhana dan mandiri. Sebagai menteri, dia menolak fasilitas rumah dinas dan memilih tetap tinggal di rumah pribadinya. Bahkan ketika didesak agar menerima fasilitas tersebut, dia tetap menolak karena tidak ingin bersikap serakah. “Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang,” tegasnya.

Saifuddin Zuhri juga memiliki pengalaman sebagai pedagang sejak 1942, ketika anak pertamanya lahir. Dia menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai dari pakaian bekas, peralatan rumah tangga bekas, hingga rokok. Kesederhanaan Saifuddin Zuhri sudah terlihat sejak masih menjabat sebagai Menteri Agama.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok menjadi contoh bagaimana mantan pejabat negara memilih untuk menjalani hidup sederhana dan mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa kesederhanaan dan komitmen untuk menjalani hidup mandiri dapat menjadi contoh bagi pejabat negara lainnya. Selain itu, kejadian ini juga menunjukkan bahwa mantan pejabat negara dapat memiliki kehidupan yang normal dan tidak bergantung pada jabatan mereka.

Pengabdian Saifuddin Zuhri seolah berlanjut ketika putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, dipercaya menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Jejak hidup Saifuddin Zuhri berakhir pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok menjadi refleksi bagi pejabat negara lainnya untuk menjalani hidup sederhana dan mandiri. Dalam menjalankan pemerintahan, pejabat negara harus memiliki komitmen untuk menjalani hidup sederhana dan tidak bergantung pada jabatan mereka. Dengan demikian, mereka dapat menjadi contoh bagi masyarakat dan menjalankan pemerintahan dengan integritas dan transparansi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714151404-25-750735/geger-mantan-menteri-ri-terciduk-jualan-beras-di-glodok, without altering the facts of the original article.

Dukun Jakarta Mengaku Kenal Orang Istana, Raup Miliaran Rupiah dengan Cara Tak Biasa

Dukun Jakarta yang mengaku kenal orang Istana Negara, Raden Ajoe, berhasil menipu banyak orang dengan modus mengaku memiliki kemampuan melihat masa depan dan mengetahui lokasi harta karun yang terpendam. Ia meraup miliaran rupiah dengan cara tak biasa, yakni dengan memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal mistis. Raden Ajoe memperkenalkan diri sebagai seorang dukun sekaligus peramal dan mengklaim memiliki kemampuan melihat masa depan. Ia juga mengaku mengenal seseorang kaya raya yang bolak-balik di Istana Negara.

Modus Penipuan yang Terbilang Unik

Raden Ajoe memulai aksinya dengan memperkenalkan diri sebagai seorang dukun sekaligus peramal. Kepada calon korban, dia mengklaim memiliki kemampuan melihat masa depan dan mengetahui lokasi harta karun yang terpendam di bawah lantai rumah seseorang. “Jika harta karun itu digali, seluruhnya milik penemu dan bisa menjadi kaya raya,” kata Raden Ajoe. Hanya saja, Raden Ajoe mengatakan untuk mengetahui lokasi harta karun maupun mengubah nasib seseorang terlebih dahulu harus dilakukan ritual pemanggilan arwah di rumahnya.

Menurutnya, arwah tersebut akan menyusuri alam gaib dan lorong waktu untuk mengungkap masa depan. Namun, ritual itu membutuhkan biaya. Dari sinilah aksi penipuannya dimulai. Kepada para calon pelanggan, Raden Ajoe meminta uang sebagai modal pelaksanaan ritual. Banyak orang yang percaya dan berharap bisa cepat kaya pun menyerahkan uang tanpa banyak bertanya.

Taktik Raden Ajoe untuk Meningkatkan Kepercayaan

Untuk meningkatkan kepercayaan para calon korban, Raden Ajoe memainkan sandiwara lain. Di hadapan para pelanggan, dia berpura-pura menelepon seorang temannya yang disebut sebagai orang kaya di Istana Negara. Aksi itu membuat para korban semakin yakin wanita tersebut memiliki koneksi dengan kalangan berpengaruh, sehingga ucapannya dianggap dapat dipercaya.

Setelah uang diterima, Raden Ajoe menjalankan ritual yang sebenarnya hanyalah kebohongan. Seusai ritual, dia memberikan nasihat sedikit demi sedikit kepada korban agar hubungan tetap terjaga dan permintaan uang terus berlanjut. Dengan cara itu, para korban terus mengeluarkan uang untuk membiayai ritual berikutnya.

Penangkapan dan Kerugian yang Dialami

Namun, aksi penipuan Raden Ajoe akhirnya terbongkar setelah seorang pengusaha China curiga dengan aksinya. Pengusaha itu sadar bahwa sang dukun tidak benar-benar melakukan panggilan telepon. Dari situlah dia melaporkan Raden Ajoe kepada polisi. Penyelidikan kemudian dilakukan dan hasilya, seluruh tipu muslihat Raden Ajoe terbongkar.

Polisi menemukan wanita tersebut bukanlah seorang dukun, melainkan pengangguran yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal mistis. Raden Ajoe beraksi tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Nilai uang yang berhasil dikumpulkannya pun sangat fantastis, yakni sekitar 175.570 gulden di Semarang, Surabaya, dan Batavia, serta Rp463.000 di Yogyakarta.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian ini menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan hal-hal mistis. Penipuan seperti ini masih kerap terjadi hingga kini, sehingga masyarakat harus terus meningkatkan kesadaran dan tidak mudah percaya pada klaim-klaim yang tidak masuk akal. Bagi pihak berwajib, kejadian ini juga menjadi catatan penting untuk terus meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap pelaku penipuan.

Raden Ajoe akhirnya dijebloskan ke Penjara Salemba. Namun, kejadian ini juga menjadi catatan penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kesadaran dan tidak mudah percaya pada klaim-klaim yang tidak masuk akal.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260715160936-25-751065/heboh-dukun-di-jakarta-ngaku-kenal-orang-istana-sukses-raup-miliaran, without altering the facts of the original article.