Badan Pusat Hukum Nasional (BPHN) semakin fokus pada resiliensi mental Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk meningkatkan produktivitas dan integritas dalam menjalankan tugas dan fungsi organisasi. Kepala Bagian Sumber Daya Manusia BPHN, Bintang Oktafiyanti Subekti, menekankan bahwa tantangan organisasi yang semakin kompleks menuntut ASN tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga ketahanan mental yang kuat agar mampu beradaptasi dengan perubahan dan tetap berkinerja optimal.
Fokus pada Resiliensi Mental
Bintang Oktafiyanti Subekti menyampaikan bahwa melalui kegiatan yang diselenggarakan, pihaknya berharap seluruh pegawai semakin peduli terhadap kesehatan mentalnya, mampu menghadapi tekanan kerja dengan baik, serta terus meningkatkan produktivitas dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi BPHN. Menurutnya, meningkatnya beban kerja dan dinamika lingkungan kerja perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola kondisi psikologis. Dengan demikian, kesehatan mental menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kinerja organisasi sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif.
Kesehatan Mental sebagai Modal Utama
Sementara itu, mewakili Sekretaris BPHN, Dokter Gigi Ahli Utama, drg. Intan Triyunita menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan modal utama dalam mewujudkan organisasi yang adaptif dan berkinerja tinggi. Ia menjelaskan bahwa ASN yang memiliki kondisi mental yang sehat akan lebih mampu mengelola tekanan pekerjaan, membangun hubungan kerja yang harmonis, serta memberikan pelayanan publik secara profesional. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mendorong terbangunnya budaya kerja yang saling mendukung, saling menghargai, dan peduli terhadap kesejahteraan psikologis sesama rekan kerja,” ungkap Intan.
Strategi Mengelola Kesehatan Mental
Dalam sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh Wiwien Novoiyanti, M.Psi., Psikolog, narasumber dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum DK Jakarta, menjelaskan bahwa kecemasan merupakan respons alami yang dapat dialami setiap individu ketika menghadapi tekanan dalam kehidupan maupun pekerjaan. Ia mengajak peserta untuk mengenali gejala kecemasan, memahami sumber daya yang dimiliki, serta memanfaatkan dukungan psikososial dari keluarga, rekan kerja, maupun tenaga profesional. Menurut Wiwien, kecemasan dapat dikelola melalui berbagai upaya, baik secara mandiri maupun dengan bantuan profesional apabila diperlukan, sehingga tidak berkembang menjadi gangguan yang memengaruhi kualitas hidup maupun kinerja.
Implementasi dan Tindak Lanjut
Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta mengikuti skrining kesehatan mental melalui pengisian kuesioner yang hasilnya akan dianalisis dan ditindaklanjuti oleh klinik sebagai langkah awal deteksi dini kondisi psikologis pegawai. Hasil skrining tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pemberian pendampingan yang sesuai bagi pegawai yang memerlukan. Dengan demikian, BPHN dapat meningkatkan kesadaran dan perhatian terhadap kesehatan mental ASN, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kegiatan ini merupakan langkah awal dalam upaya meningkatkan resiliensi mental ASN di BPHN. Kedepannya, BPHN diharapkan dapat terus meningkatkan kesadaran dan perhatian terhadap kesehatan mental ASN, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif. Dengan demikian, ASN dapat menjalankan tugas dan fungsi organisasi dengan lebih optimal, serta memberikan pelayanan publik yang lebih baik.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/kemenkumham/1177562/bphn-perkuat-resiliensi-mental-asn-untuk-wujudkan-produktivitas-integritas-dan-pelayanan-prima, without altering the facts of the original article.